Assalamu'alaikum ... Selamat Datang ... Semoga Blog Ini Bisa Memberi Manfaat ... Jangan Bosan Untuk Kembali lagi ^_^
Showing posts with label Cerita Happy. Show all posts
Showing posts with label Cerita Happy. Show all posts

Wednesday, February 23, 2022

Hujannya Kok Beda Bii ...

Kegiatan Sholat Ashar baru saja selesai, termasuk rangkaian kegiatan wirid sorenya. Para santri langsung bertebaran ke lokasi piket kebersihannya masing-masing, sebagai rutinitas yang sudah biasa mereka lakukan sehari-hari.

Langit terlihat semakin gelap, dengan barisan mendung kelabu yang semakin pekat. Sebenarnya sejak pagi langit memang tidak secerah biasanya, hampir seharian cahaya mentari tertutup lapisan awan abu-abu cerah yang tersebar memenuhi semua permukaan langit. Namun, kali ini berbeda, awannya bergerak diikuti suara gemuruh yang semakin dekat, ditampah hembusan angin kencang yang sempat menerbangkan karung sampah bermuatan milik para santri.

Sunday, October 3, 2021

Tanaman Berbunga Kucing

Pagi itu cukup cerah, langit dipenuhi gumpalan-gumpalan awan abu-abu yang terlihat tidak bergerak di beberapa sudut, namun tidak menghalangi cahaya mentari untuk menghangatkan dedaunan yang masih basah oleh belaian embun sejak malam.

"Sekalipun akan sibuk, namun akan tetap nyaman rasanya hari ini, harinya cerah tapi sejuk ..." pikirku sambil melangkah pelan keluar dari masjid dan langsung keliling melihat-lihat kerjaan benah-benah taman rumah yang masih berproses.

"Oh iya, inikan hari Jum'at, tidak ada jadwal ngantor maupun ngajar di kelas, berarti bisa lanjut selesaikan pembenahan taman dan beberapa sudut rumah, supaya nyaman dipandang" tiba-tiba seperti ada alarm pengingat yang muncul di pikiran bahwa memang hari ini jadwalnya kerjanya di luar ruangan.

Tuesday, August 24, 2021

Plunged in The Night

That night was colder than usual
Even though there has been no rain since after Isha
The little students are still in their respective positions
Covered with a sarong that covers almost the entire body
Some even look like bunches in a scabbard 
 
"Knock ... knock ... knock, Sholatul lail ... Sholatul lail ..." heard the voices of the brothers from the next room began to knock and wake up.
Some students just change positions, from lying down to sitting down without showing any signs of life. Some even change the front from left to right or vice versa.
"Feeling like I just slept ..." grumbled one of the students, even though the clock showed 03.00 in the morning.
"Knock ... knock ... knock ... come on wake up, open the door" came the voice again, this time louder than the first. 

Monday, May 3, 2021

Ramadhan, Bulan Penuh Kue

 Langit masih tampak dominan biru muda cerah. Walaupun sudah sedikit menurun kecerahannya dibanding satu sampai dua jam sebelumnya. Sang Mentari juga sudah agak jauh turun ke arah barat. Beberapa gumpalan awan nampak menghiasi beberapa bagian, namun tidak begitu banyak. Sehingga menambah indah suasana hari itu, yang juga bertepatan dengan pekan terakhir di bulan Sya'ban.
Shalat Ashar baru saja selesai dilaksanakan. 
 
Para santri berkumpul di beberapa titik membentuk lingkaran-lingkaran kecil di dampingi satu orang pendamping. Selesai wirid sore dan tilawah beberapa ayat Al Qur'an, para ustadz biasa memberi tausiah ringan dan diskusi kecil-kecilan sebelum kemudian bubar menuju lapangan olah raga.
 
"Anak-anak, bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang, bulan dengan penuh kemuliaan, pahala-pahala dilipatgandakan, berkah, rahmat dan ampunan akan tercurah limpah kepada orang-orang beriman yang melaksanakan Ibadah di bulan itu, kita sebagai ummat Islam harus berbahagia dengan datangnya bulan mulia ini" salah satu ustadz pendamping membuka pembicaraan.
 

Sunday, May 2, 2021

Juz Tiga Puluh Dua ???

Momen Ramadhan merupakan kesempatan besar bagi para santri untuk meningkatkan intensitas tadarrus Al Qur'an. Bahkan biasanya ada target berapa kali khatam dalam sebulan. Dan ini akan ditanya minimal sekali dalam sepekan.
Sore itu, sebelum bubar ke lapangan olahraga. Seorang Ustadz naik ke podium dan mulai menanyakan satu persatu sampai dimana posisi tadarrus di hari ke-20 Ramadhan. Mulailah ditanya satu persatu, sampailah pada salah satu santri SD yang berada di posisi agak ke tengah.
 
"Fulan yang di tengah, sudah juz berapa?" Kata Ustadz
"Juz 32 Ustadz" jawab si santri santai
 

Friday, April 30, 2021

TERCEBUR LAIL

Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya
Padahal tidak ada hujan sejak setelah Isya
Para santri kecil masih pada posisi masing-masing
Berselimut sarung yang menutupi hampir seluruh badan
Bahkan ada yang hanya terlihat seperti gembolan dalam sarung 
 
" Tok ... tok ... tok, Sholatul lail ... Sholatul lail ..." terdengar suara kakak-kakak dari kamar sebelah mulai mengetok dan membangunkan.
Beberapa santri hanya merubah posisi saja, dari rebahan menjadi duduk tertunduk tanpa memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Bahkan ada yang hanya merubah hadapan dari kiri ke kanan atau sebaliknya.
"Perasaan baru aja tidur ..." gerutu salah satu santri, padahal jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari.
"Tok ... tok ... tok ... ayo bangun, buka pintunya" terdengar lagi suara itu, kali ini lebih nyaring dari yang pertama.
 

Monday, March 15, 2021

Memanusiakan Sang Ulat

Malam itu ...
Abah dan Ummi masih duduk di tengah para santrinya. Beberapa santri bergantian mengambil giliran ngajinya, beberapa lagi mengulang-ulang pelajaran di sudut-sudut ruangan secara mandiri. Ada pula yang berkerumun hanya sekedar ngobrol kesana-kemari tanpa tema yang jelas, namun tetap berada di dalam ruangan  belajar.

Di tempat lain ...
Halaman yang remang-remang, bahkan terkesan gelap tidak menyurutkan beberapa santri untuk bermain di luar. Ada yang bermain kejar-kejaran, lompat tali, bahkan ada yang bermain petak umpet. Tidak peduli dengan mitos yang berkembang tentang petak umpet malam hari yang kadang bikin bergidik bulu kuduk orang dewasa kolot penggemar tahayul. Bagaimana tidak, menurut rumor dan kisah yang beredar, bila main petak umpet malam hari akan disembunyikan makhluk lain ke alam lain. Mereka tetap lanjut bermain, ada yang di balik tembok, di balik pohon, di celah-celah taman dan ada juga yang tidak sembunyi dengan alasan tidak sembunyi pun tidak kelihatan.

Monday, January 25, 2021

Ayat Kursy Vs Ilmu Kebal

Kisah nyata yang disampaikan oleh seorang mantan dukun yang sekarang sudah bertaubat bahkan menjadi seorang dai di daerah timur tengah sana.

Kisahnya ketika beliau masih menjadi dukun atau orang tidak normal beliau paling suka memamerkan ilmu kekebalan miliknya.

Pada suatu ketika saat beliau sedang memamerkan kekebalanya dengan menusukan pisau ke perut nya .

ada salah satu pemuda yang membaca ayat kursi.dan yang terjadi adalah tembuslah pisau tersebut mengenai perut dukun tersebut yang biasanya tidak tergores sama sekali.

Wednesday, January 13, 2021

Apa itu

Baru kusadari, ternyata suasana terasa sepi. Beberapa menit lalu masih terdengar canda tawa anak-anak tetangga yang bermain di depan rumahnya. Kutengok jam di sudut layar komputer, tertera angka 23.15. Ternyata memang sudah malam, pantas saja sudah sepi. 

Teringat pesan Ibu tadi, agar memeriksa kandang ayam di belakang rumah sebelum tidur. Langsung saja kumatikan komputer dan beranjak pergi menuju pintu keluar. Teek ... tiba-tiba terdengar suara dari meteran listrik, bersamaan dengan itu semua lampu juga padam. Segera kuperiksa keluar, ternyata rumah tetangga sekomplek juga padam, mati lampu total rupanya. Kalau begini, tugasnya jadi dua pikirku, memeriksa dan mengamankan kandang.

Friday, January 1, 2021

01 Januari 2021

Letupan demi letupan petasan sahut menyahut megejutkan mimpi-mimpi yang sedang berpetualang. Seperti mencoba mengambil alih tugas para jantan yang masih asyik bertengger di kandangnya. Jam baru menunjukkan pukul kosong-kosong lebih dua menit, masih dua jam kedepan kalau mau mendengarkan kokok para jantan.

Entah sudah kebal atau terlalu kuat mimpi menghias jagat kantuk, sehingga letupan demi letupan tidak lagi mengejutkan para pejuang mimpi malam. Mereka hanya sedikit bergerak dan lanjut berpetualang. Kemungkin juga karena letupan malam ini tidak senyaring tahun lalu, dengan suara yang terpisah-pisah tempat, sepertinya tentara Covid-19 berhasil menertibkan kondisi, sehingga para petasan taat pada protokol yang mengharuskan mereka jaga jarak dan tidak berkumpul pada satu titik. Akibatnya, suaranya pecah dan tidak menggelegar sedasyat suara persatuan dan kesatuan tahun sebelumnya.

Thursday, December 31, 2020

31 Desember 2020

Jam di dinding menunjukkan pukul empat belas lewat tiga puluh menit. Kalau diperkirakan, waktu Ashar masih sekitar dua puluh lima menit lagi. Deretan awan yang terlihat hilir mudik sejak pagi tadi mulai tampak lebih banyak dan lebih gelap. Terkadang cahaya mentari masih berusaha menembus celah-celah kerumunan awan, sehingga tampak seperti ada tiang panjang yang berdiri miring dari gumpalan awan hingga ke celah-celah pohon di tengah hutan.

Deretan awan yang tadi terlihat berkerumun mulai berbaris rapi dan rapat. Terlihat seperti barisan ombak berwarna abu-abu gelap yang berlapis-lapis memanjang. Angin mulai ikut sibuk menerobos celah-celah pepohonan dan gedung-gedung dengan kecepatan semakin meningkat. Dedaunan dan beberapa helai pelastik yang tadinya tergeletak diam mulai tinggal landas mengikuti pergerakan angin yang entah kemana tujuannya.

Sunday, December 27, 2020

Tersesat Lima Meter


Salah satu jenis kerja bakti rutin hari Ahad yang paling ditunggu-tunggu para santri adalah mencari kayu bakar ke hutan. Kegiatan ini seperti pergi tamasya ke alam liar. Pelaksanaannya hanya sekali dalam sebulan, atau lebih bila mendekati bulan suci Ramadhan. 

Selalu banyak cerita yang sampai di asrama dari tim yang diutus kepada adik-adik yang tinggal di kampus. Mulai dari bertemu berbagai hewan alam, beraneka ragam pohon yang belum pernah dilihat, sampai menemukan buah-buahan yang bisa dikonsumsi. Namun sayangnya, hanya kelas empat SD ke atas saja yang boleh bergabung dengan tim petualang ini. Kebetulan diriku saat itu kelas lima SD. Terhitung sudah tahun kedua ikut dalam tim yang satu ini.

Thursday, December 24, 2020

KENAPA HARUS HUJAN DERAS ABII ....

Sinar Mentari baru saja barlalu. Jam menunjukkan pukul 16 lebih. Kalau melihat waktu, mestinya sinar Mentari masih cerah dan hangat. Aku masih asyik duduk di sova bambu depan rumah sambil menikmati camilan yang sedari tadi tak kunjung habis, entah karena banyak camilannya atau banyaknya gangguan yang mengalihkan.
 
Beberapa bocah berkumpul tepat di depan rumah. Entah apa yang dimusyawarahkan. Kalau diperhatikan lebih mirip orang debat, masing - masing sibuk dengan usulannya, tapi tak ada satupun yang mendengar usulan - usulan itu. Sementara itu, dari ufuk barat terlihat gumpalan mendung hitam dan gelap. Diiringi hembusan angin yang semakin kencang. Terjawab mengapa sinar Mentari tadi berlalu sebelum waktunya. 

Tuesday, February 11, 2020

Archery is Sunnah, My History My Adventure

Entah mengapa, sejak kecil senang sekali bermain dengan pernak-pernik berbau panahan. Mulai sapu lidi jadi korbannya, jeruji payung, jeruji sepedah, sampai kreatif bikin sendiri. Dan tidak jarang juga dapat teguran bahkan hukuman karena mainan yang aneh-aneh itu (menurut orang tua dan para guru). Pada zaman itu belum ada wadah untuk menyalurkan hal seperti itu, tidak seperti sekarang dimana klub-klub panahan begitu menjamur dimana-mana.

Alhamdulillah, di penghujung usia 20an tahun dapat juga wadah untuk menyalurkan hoby terpendam yang satu ini. Dan sejak saat itu mulai aktif berlatih dan bertanding, hitung-hitung mengejar ketertinggalan dalam menemukan wadah ini. Dengan semangat dan prinsip "Tidak ada kata terlambat dalam menemukan hal baik", petualangan ini harus tetap berlanjut. Godaan dan hambatan cukup berat, Karena mengingat usia dan alokasi waktu yang perlu kekuatan lebih untuk bisa disisihkan.

Sebagai penyemangat, bahwa jalan ini bukan jalan yang salah. Beberapa sumber bisa dijadikan motivasi untuk mendasarinya.

Apa saja keutamaan memanah menurut hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam? Mari kita simak berikut ini.

Saturday, February 8, 2020

Buaya di Kepala

Bel tanda istirahat siang telah berakhir baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu, beberapa anak yang tampak memenuhi lapangan bola pun berlarian menuju ke arah dimana bel dibunyikan. Bersamaan dengan itu, beberapa anak dari kelas bawah dengan perlengkapan sekolah melekat lengkap keluar gerbang menuju penjemputnya masing-masing. Beberapa yang belum dijemput memilih berteduh untuk sekedar mengurangi sengatan sang surya yang begitu cerah bersemangat. Dan beberapa yang lain bertebaran di sekitar lingkungan untuk mencari wahana bermain sambil menunggu jemputannya tiba.

Terlihat beberapa anak kelas satu dan dua sibuk memperhatikan sesuatu di kolam, entah apa gerangan, tapi yang ku tahu itu adalah kolam kosong yang sudah lama tidak digunakan. kalaupun ada penghuninya hanyalah beberapa ekor ikan liar dan kodok yang terjebak masuk dan tidak dapat memanjat tembok kolam yang cukup tinggi dari permukaan air. Sebagian permukaan airnya tertutupi oleh beberapa tumbuhan terapung dan sebagian lagi tertutupi semacam lumut atau lebih ke jenis alga hijau yang terhampar bagaikan cat hijau yang tumpah merata di seluruh permukaan.

Ketika jarak antara diriku dan anak-anak itu tidak begitu jauh, terdengar seorang anak menyapa sambil bertanya dengan dana sedikit agak berteriak "Pak, disini ada buayanya ya?', "tidak ada" jawabku sambil tidak mengurangi lajunya langkahku. "Tapi itu kok hijau-hijaunya retak begitu, pasti ada" tambah yang lain juga ikut meyakinkan. "Tidak ada, mungkin cuma ikan kecil itu yang bikin retak lumutnya" jawabku agak sedikit menjelaskan. "Itu lihat, ada busa dan airnya goyang, pasti ada ini buayanya" yang lain ikut meyakinkan. "Iya ini, pasti ada buayanya" anak pertama memantapkan keyakinannya.
Aku sudah tidak lagi melanjutkan penjelasanku, toh mereka akan tetap ngotot meyakinkan dirinya masing-masing, aku memilih melanjutkan lengkahku menjauh sambil senyum-senyum sendiri dan bergumam tak beruara "Seberapa banyak buaya di kepalamu nak, sampai-sampai semua genangan ada buayanya, atau jangan-jangan hanya buaya yang kalian kenal sebagai makhluk penghuni air, atau karena buaya lebih viral, hahaha..."

Tuesday, February 4, 2020

Souvenir Tumbler Murah, Beli Aja di Souvenirku.id

Ada sebuah kisah lucu, pada saat saya dan beberapa teman mengikuti sebuah even kejuaraan olahraga. Tertera bahwa, salah satu even hiburannya akan mendapatkan sebuah Tumbler cantik. Akhirnya salah satu teman antusias ikut dan ternyata berhasil. Namun raut wajahnya memdadak berubah setelah menerima hadiah dari panitia. Sambil menampakkan wajah bingungnya, dia bertanya kepada kami; "Apa panitia tidak salah memberi hadiah ya?, tanyanya bingung sambil memegang sebuah botol air minum cantik. Mendadak terdengar gelak tawa, ternyata si teman itu baru faham kalau yang namanya Tumbler itu adalah botol minuman. Dan ternyata, beberapa teman lainya juga baru faham bahwa yang dinamakan tumbler itu adalah botol minuman. Semakin riuhlah suasana karena semakin banyak yang tertawa. Orang-orang di sekitar pada mengarahkan pandangannya ke arah kami, mungkin mereka juga bingung dengan apa yang terjadi. hahaha ...

Saturday, November 9, 2019

Ahhh ... Ternyata Dia Lebih Sadar

Siang itu ... Sang mentari bersinar begitu cerahnya.
Bentang langit tampak biru bersih, tak begitu banyak terlihat gumpalan awan lalu-lalang disana.

Sedari pagi memang sudah nampak tergambar akan cerahnya hari ketika sang mentari menampakkan wajahnya di antara jejeran pepohonan dan taburan butiran-butiran embun pagi yang jatuh melayang lembut bagaikan curahan tepung putih dari langit.

Aku masih asyik duduk dalam ruang kerjaku, menatap dalam ke layar laptop bercorak silver yang ada di hadapanku. Entah mengapa, layar yang tidak begitu besar itu serasa sebuah jendela yang dapat menyajikan berbagai hal yang dapat mengalihkan seluruh perhatianku akan apa yang ada di sekitarku.

Monday, May 13, 2019

Tolonglah Ulatnya Abii ...

Di pagi yang sangat cerah, terik cahaya mentari mulai terasa di kulit, tanganku masih asik menari kesana kemari memainkan kuas cat di permukaan dinding. Sambil tetap konsentrasi penuh mengukur pergerakan kuas mili demi mili, supaya tercipta hasil polesan cat yang rapi dan rata, tiba-tiba putri keduaku muncul dengan raut wajah tegang.

"Abi ... Abi ... tolong itu ulatnya kasihan" ujarnya dengan nada sedikit memaksa.
"Kenapa ulatnya?" Tanyaku datar sambil terus mengayunkan kuas cat.
"Lihat dulu nah Abi ... " ajaknya sambil berlalu pergi.

Friday, March 29, 2019

Mendung Penyejuk Tiang Gawang

Do'a selesai belajar telah dibacakan, bel pulang pun ikut berbunyi, sepasang langkah-langkah kecil terdengar keluar pintu kelas dan dengan lincahnya meninggalkan gerbang sekolah.

Saya sendiri masih asik bersila di atas lantai kramik putih salah satu kaki lima gedung sekolah, sambil memandang lepas ke tengah lapangan yang semakin ramai dilalui manusia-manusia kecil berseragam jingga. Ada yang berlalu permisi dengan tersipu malu, ada yang berlari sambil tertawa geli, ada yang asik dengan cerita seharinya dengan ekspresi yang sangat serius, ada yang melambaikan tangan ke arah saya duduk sambil melemparkan sapaan manis dan ramah sambil tetap berlalu dan ada pula tertahan balik ke tengah lapangan melebur dengan yang sedari tadi asik bolak-balik menggiring si benda bulat. Tidak tampak di wajah mereka ingin segera meninggalkan lapangan menuju kendaraan penjemputnya, padahal langit mulai terlihat gelap, tidak hanya efek semakin berlabuhnya sang mentari tetapi juga ada gumpalan gelap yang siap mendarat ke permukaan bumi dengan berjuta-juta rizki sang Pencipta yang menyertainya.

Tuesday, March 26, 2019

Bekicot yang Tersesat

Di suatu pagi yang dingin dan basah, hujan turun dengan lembutnya. Hujan yang begitu awet bertahan sejak malam hari tak menyurutkan semangat kaki-kaki kecil untuk tetap menggiring dan menendang si benda bulat ke arah gawang yang tak berjaring.
Terkadang terdengar gelak tawa dari bibir-bibir mungil mereka ketika si benda bulat tertahan di kubangan air, lalu dipaksa dengan tendangan yang diikuti cipratan air yang menghambur bersama lumpur dan pasir yang menambah warna indah di pagi itu.