Assalamu'alaikum ... Selamat Datang ... Semoga Blog Ini Bisa Memberi Manfaat ... Jangan Bosan Untuk Kembali lagi ^_^
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Saturday, December 28, 2024

Tahun Baru 1 Januari ... Punya Siapa ?

Ada sebuah suasana, bahkan seperti budaya yang dapat kita saksikan di akhir-akhir bulan Desember. Bahkan di berbagai bidang profesi seakan-akan mempersiapkan momen yang sama, bidang perdagangan ada musim trompet dan topi kerucut, di bidang pertanian ada musim tanam jagung, di bidang perikanan ada musim ikan tertentu, bahkan di bidang pemerintahan ada jadwal khusus cuti bersama ... dan sebagainya. Semua persiapan itu bertujuan untuk menyambut tanggal 1 Januari sebagai perayaan Tahun Baru ... 

Kalau kita melihat semua perhatian menuju ke satu moment itu, pertanyaannya ... Sebenarnya perayaan ini milik siapa ?

Sebagai Ummat Islam, Alloh SWT sudah mengingatkan kita untuk selalu cerdas dalam menanggapi situasi. Nah ... Coba kita selalami beberapa literatur terkait itu ...


Saturday, March 26, 2022

Puaskan Sebelum Puasa ???

Dahulu ... Ketika masih sekolah, sering terdengar ungkapan yang menjadi candaan kami dan teman-teman setiap kali mendekati bulan Ramadhan, yaitu " Puaskan Sebelum Puasa".

Ungkapan ini ditujukan pada pola atau gaya dalam mengkonsumsi makanan, maksudnya agar kita makan sepuas-puasnya mumpung masih belum masuk bulan Ramadhan, karena hal itu tidak dapat dilakukan ketika bulan Ramadhan kelak.

Walau pun hanya sebatas candaan, bahkan tidak pernah juga sampai dilaksanakan sedemikian, namun secara tak sadar kadang juga kita melakukan hal itu, walau pada taraf yang kecil dan bersifat pribadi. Perbuatan seperti ini dapat berdampak kurang baik, entah itu dipandang dari sisi ibadah mau pun dari sisi lainnya. Misalnya, bila kita telaah dalam kaca mata kesehatan, maka akan berakibat antara lain seperti ini :

Thursday, March 24, 2022

Jempol Cerdas

Salah satu bukti yang dapat kita lihat sebagai tanda pesatnya perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi adalah percepatan persebaran informasi yang luar biasa. Kalau zaman dahulu kita harus menunggu siaran berita di Radio, Televisi dan Surat kabar untuk mendapatkan sebuah informasi, Namun saat ini, ketika ada kejadian, maka saat itu pula orang lain di tempat lain langsung dapat mengetahuinya.

Salah satu faktor pendukungnya adalah, adanya media sosial. Yaitu, sebuah prangkat digital yang menjadikan antara satu pengguna dan pengguna lain saling terhubung setiap saat. Sehingga, proses penyebaran informasi maupun proses komunikasi dapat dilakukan setiap saat. Inilah salah satu penyebabkan begitu cepatnya informasi tersebar dari satu tempat ke tempat lainnya.

Keberadaan media sosial ini tentunya memiliki dampat positif dan negatif secara bersamaan. Dampak akan diterima penggunanya tergantung bagaimana sang pengguna menggunakan prangkat tersebut. Ada kalanya dampak positif yang akan diterima, dan ada kalanya justru dampak negatif yang didapat.

Oleh karenanya, perlu ada edukasi untuk mencerdaskan para pengguna agar mampu menggunakan media sosial secara benar dan baik. 

Apa saja yang perlu diperhatikan ?
Yang perlu diperhatikan antara lain adalah :

Smart Thumbs

One of the evidences that we can see as a sign of the rapid development of information and communication technology is the extraordinary acceleration of the spread of information. In the past, we had to wait for news broadcasts on radio, television and newspapers to get information, but nowadays, when something happens, other people in other places can immediately find out.

One of the supporting factors is the existence of social media. That is, a digital device that makes between one user and another user connected to each other at all times. Thus, the process of disseminating information and the communication process can be carried out at any time. This is one of the reasons why information spreads so quickly from one place to another.

The existence of social media certainly has a positive and negative impact at the same time. The impact will be received by the user depending on how the user uses the device. There are times when you will receive a positive impact, and sometimes you will get a negative impact.

Sunday, March 20, 2022

Menikmati Gelombang

Gelombang ... Kalau ditelaah dari kamus, maka bermakna suatu getaran yang merambat membawa energi dari sebuah titik. Kalau ditelaah secara fisik, maka gelombang adalah penampakan tidak rata yang bergerak pada sebuah bidang datar, apakah gerakan itu statis atau pun dinamis.

Ketika gelombang terjadi pada zat cair dan gas, maka gelombang akan bergerak dinamis menjauhi titik yang terkena gaya bersama energi yang terlepas. Ketika gelombang itu terjadi pada permukaan zat padat, maka gelombang dinamis hanya terjadi sesaat, kemudian akan terhenti dan membentuk gelombang statis atau bahkan mengubah permukaan bidang menjadi bentuk lain.

Thursday, December 31, 2020

31 Desember 2020

Jam di dinding menunjukkan pukul empat belas lewat tiga puluh menit. Kalau diperkirakan, waktu Ashar masih sekitar dua puluh lima menit lagi. Deretan awan yang terlihat hilir mudik sejak pagi tadi mulai tampak lebih banyak dan lebih gelap. Terkadang cahaya mentari masih berusaha menembus celah-celah kerumunan awan, sehingga tampak seperti ada tiang panjang yang berdiri miring dari gumpalan awan hingga ke celah-celah pohon di tengah hutan.

Deretan awan yang tadi terlihat berkerumun mulai berbaris rapi dan rapat. Terlihat seperti barisan ombak berwarna abu-abu gelap yang berlapis-lapis memanjang. Angin mulai ikut sibuk menerobos celah-celah pepohonan dan gedung-gedung dengan kecepatan semakin meningkat. Dedaunan dan beberapa helai pelastik yang tadinya tergeletak diam mulai tinggal landas mengikuti pergerakan angin yang entah kemana tujuannya.

Tuesday, February 18, 2020

Menjadikan Indah

Gambar : https://taqinwallpaper.blogspot.com/search/label/Nature

Kalau melihat penjelasan di Wikipidia, Indah adalah merupakan sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah "kecantikan yang ideal" adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya.

Saturday, December 28, 2013

Menghidupkan Hati yang Galau

Oleh Ust. Ahmad Muzaini, S.Pd.I

Dalam kehidupan sehari, kita sering mengalami berbagai hal yang mana hal itu dapat menyebabkan "kegalauan" hati.
Ada beberapa tips yang diberikan oleh Aa' Gym dalam menghidupkan hati yang galau, gundah gulana, yaitu;

1. Merasa Bersaudara
Dengan merasa bersaudara, maka akan ada perasaan untuk saling membantu. Kalau ada teman yang memerlukan bantuan, maka hati kita akan disibukkan untuk ikut membantunya. Demikian pula ketika kita yang memerlukan bantuan, maka teman kita tidak akan berat untuk membantu kita, karena kita suka membantu dan kita bersaudara.

2. Mengingat Budi Baik Orang Lain
Dengan mengingat budi baik orang, kita akan selalu merasa senang dan bersyukur. Kemana pun kita pergi, kita akan merasa bahagia tanpa beban dan merasa tidak punya musuh.

3. Meraba Penderitaan
Dengan meraba  penderitaan orang lain, kita akan disibukkan untuk selalu peduli dan selalu bersyukur atas apa yang kita miliki. Dan juga kita akan dikaruniakan kecerdasan hati.

Saturday, June 8, 2013

Pandangan Cerdas

Kalau dibaca sekilas judulnya, memang tampak unik ya. Kata cerdas biasa selalu bersanding dengan Pemikiran dan yang berkaitan dengan akal. Namun ternyata, semua hal itu layak disandingkan dengan kata "Cerdas", bahkan untuk bisa menuai hasil yang sempurna harus dilandasi dengan kecerdasan. Bukan begitu ? Nah, sekarang akan kita coba bahas, bagaimana kolaborasi antara pandangan dan kecerdasan. Seperti apa dan bagaimana hal yang akan dihasilkan dari kolaborasi dua hal ini.
Pandangan merupakan tindakan awal ketika makhluk hidup melakukan pencitraan. Akal manusia juga menggunakan pandangan sebagai tindakan awal sebelum melakukan pembacaan terhadap semua objek yang akan kenali, dari hasil pandangan akan diolah menjadi sebuah informasi yang akan menghasilkan berbagai penilaian dan penafsiran terhadap objek tersebut. Nilai positif dan negatif yang akan lahir dihasilkan dari tindakan ini. Apakah ilmu yang didapat atau sesat nantinya sangat ditentukan oleh tindakan awal ini. Disinilah kemudian kita membutuhkan yang namanya kecerdasan itu. Orang boleh melihat objek yang sama, tapi dari hasil pengindraan yang sama terhadap objek yang sama akan menghasilkan hasil dan kesimpulan yang berbeda. Orang yang memiliki kecerdasan penglihatan akan menghasilkan kesimpulan yang berkualitas, karena dilalui oleh proses berfikir yang berkualitas. Sebagai contoh ; Ada seorang anak yang tiba-tia datang dengan baju yang kotor dan lusuh coba kita perhatikan, apa reaksi yang ditimbulkan dari setiap orang yang menyaksikan pemandangan itu ada yang langsung mengumpat "dasar malas, tidak bisa ngurus baju sendiri ya" ada juga yang mengomel "kamu itu tidak hati-hati ya kalau main, sampai kotor seperti itu bajunya" ada juga yang bertanya "adik bajunya kenapa kotor, dari mana saja mainya?" ada juga yang bertanya panjang lebar "adik bajunya kenapa kotor, main dimana tadi, sama siapa" ada juga yang langsung bertindak mengantarkan si anak bersih-bersih. Nah, kita bisa lihat berbagai macam timbal balik dari fenomena yang ada. Itulah hasil dari beragam kecerdasan pola pandang yang dimiliki setiap orang. Semakin cerdas orangnya, maka semakin berkualiatan tindakan yang akan dihasilkan. Wallohu'alam

Sunday, March 17, 2013

Kenapa Tidak Seperti yang Dulu

Suatu ketika Khalifah Ali ra ditanya oleh Muawwiyah ra; "Wahai Ali, dulu waktu masih Rosul saw, Abu Bakar ra, Umar ra dan Ustman ra rakyat kita taat, aman damai. namun mengapa ketika kepemimpinanmu keadaan seperti ini, sering ada gejolak dan sebagainya" Khalifah Ali pun menjawab: "Karena waktu mereka memimpin rakyatnya adalah aku, sedangkan ketika aku yang memimpin, rakyatnya adalah anda".

kadang kala saya sering mendengar para Ustadz dan Guru kami berucap "Kenapa santri kita tidak seperti kita dulu, ketaataan rendah, mentalnya lemah" Sebenarnya untuk menjawab itu kita perlu banyak menelaah faktor untuk bisa menemukan banyak solusi, dari banyaknya faktor itu stidakbya ada dua faktor besar yang melandasinya. Seperti pada cerita di atas, faktor itu adalah "siapa pemimpinnya" dan "siapa rakyatnya". Mungkin kita sering mendengar kwalitas guru-guru kita dulu ketika mereka santri, karena dididik oleh guru yang memiliki kwalitas yang lebih tinggi. Sedangkan kita sekarang dididik oleh guru kita yang tentunya tidak sehebat guru sebelumnya.

Kita harus ingat bahwa, semakin jauh ummat Islam dari masa Rosul saw maka kwalitas setarap sahabat akan semakin jauh. Demikian pula dengan kami ini, semakin jauh kami dari guru awal kami maka sudah tentu kwalitas akan semakin jauh berbeda. kecuali guru awal itu hidup lagi dan membimbing kami seperti beliau membimbing guru-guru kami. tapi itukan mustahil.

Nah, wahai para guru kami, jika kalian menginginkan kami sekwalitas dengan kalian, maka kalian pun harus meningkatkan kwalitas seperti kwalitas guru-guru kalian dulu. WalLohu'alam

Wednesday, May 16, 2012

Bangun Karakter dengan Cinta dan Keteladanan

Dewasa ini, begitu tenar dipublikasikan tentang "Pendidikan Berkarakter". Hampir setiap hari kita mendengar, mulai dari pemerintahan paling atas, sampai dengan pendesain dan pelaksana pendidikan mengeluarkan opini yang sama tentang hal ini. Sebenarnya yang perlu dikaji ulang adalah, seperti apa sebenarnya "Pendidikan Berkarakter" Itu ?
Kalau boleh berkomentar, sebenarnya apa pun karakter yang mau diangkat, intinya adalah siapa pengawal dan pengontrol dari pelaksanaan "Pendidikan Berkarakter" itu. Kalau di Lapangan, kita tahu sendiri pelaksananya adalah para Pendidik. Maka para pendidiklah yang paling awal harus menguasai konsep "Pendidikan Berkarakter" itu. Setelah mereka menguasai, kemudian tentukan karakter apa yang akan diangkat, dan terakhir sebagai jurus pemungkasnya adalah "cinta dan Keteladan" dari sang pendidik. Cinta terhadap pendidikan dan peserta didik, serta siap menjadi teladan pendidikan dan teladan bagi peserta didik. Wallahu'alam ...

Friday, February 4, 2011

Melatih Otak Kanan dengan Al-Qur'an

Bila kita membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, maka posisi tulisan berbeda dengan tulisan latin biasa. Posisi yang saling bertolak belakang. Bila tulisan latin diawali dari sebelah kiri menuju sebelah kanan, kalau tulisan Al-Qur'an dimulai dari sebelah kanan menuju sebelah kiri. Memang kalau kita amati, semua amalan ibadah agama dimulai dari kanan. Ternyata hal itu dapat dijadikan terapi otak kita, yaitu melatih kemampuan otak kanan.

Sebelumnya ada baiknya kita ketahui dulu karakter yang dimiliki dua jenis otak ini. Fungsi otak kanan adalah divergen, analogi, kongkret, bebas, imajinatif, asosiatif, intuitif, majemuk, holistik, subyektif, simultan, fleksibel, kreatif, visual, pencari pola. Sedangkan fungsi otak kiri adalah konvergen, digital, abstrak, proporsional, analitik, linier, sekuensial, analitik, obyektif, satu-satu, kaku, matematikal, verbal, pengguna pola.

Si otak kanan berkarakter humoris, simple, menyenangkan, boros, lebih percaya intuisi, berantakan-kacau, ede = ekspresi diri, lebih memilih perasaan sebagai solusi masalah, suka bertualang, bermimpi besar, tukang sorak, “pelanggar aturan”, bebas, spontan.

Si otak kiri berkarakter serius, rumit, membosankan, hemat, lebih percayai fakta, rapi-terorganisir, ide = profitabilitas, lebih memilih keilmuan, hati-hati, berpengetahuan umum, pendukung diam, pembuat aturan, konservatif, mudah ditebak.

Selama ini kebanyakan kita terbiasa menggunakan otak kanan dalam segala kegiatan, padahal yang diinginkan adalah keseimbangan antara dua otak tersebut. Maka kita perlu mengadakan perubahan kecil dengan merubah pola itu.

Bagaimana Melatih Otak Kanan?

Purdie Chandra,”Yang saya alami sendiri, yakni melakukan dzikir dalam hati. Dzikir dalam hati dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dzikir itu akan membuat sesuatu itu terjadi. Sementara, intuisi yang tajam akan menunjukkan sesuatu itu terjadi. Cara lain yaitu dengan melakukan sholat malam, atau Tahajud, dan sholat minta petunjuk atau Istikharah. Puasa juga dapat mencerdaskan otak kanan.

Membaca Al Qur’an. Kalau kita membaca Al Qur’an, dari kanan ke kiri, ini melatih otak kanan.
Salam Sukses

Oleh : Sigit Wiyono
FOP Purwakarta
PT. Excelcomindo Pratama

Tuesday, January 11, 2011

Fitrah yang Menyejukkan


“Tiada (seorang anakpun) yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, atau menjadikannya Nasrani atau menjadikannya Majusi (penyembah api).” HR Bukhori

Kalau berbicara tentang fitrah, kesucian, kebersihan dan sebagainya, sudah pasti setiap manusia yang berakal sehat sangat mendambakannya. Kenapa tidak ? Karena faktor tersebutlah yang membuat manusia dapat diterima di segala keadaan, di berbagai tempat dan oleh berbagai pihak. Alloh SWT sebagai Robbul'alamin akan menerima hamba yang suci lahir-batin, manusia akan tentram bila hidup bermasyarakat dengan orang-orang yang suci; suci jiwa, suci jasad, suci akhlak dan sebagainya.
Tidak usah jauh-jauh dalam mengambil contoh, coba kita pandang wajah seorang anak yang masih lugu dan polos, betapa menyejukkannya. Apapun yang mereka perbuat, kita akan dengan ikhash memaafkan dan memakluminya. Dimana pun mereka berada, akan melahirkan keceriaan yang tiada tara.
Itu adalah anak-anak, suatu hal yang wajar diterima,karena memang setiap manusia yang dilahirkan ke muka bumi ini dalam keadaan suci, tidak ada kotoran warisan yang mereka bawa dari kandungan ibunya.
Bila kita renungkan, dapatkan fitrah kesucian itu dipelihara secara terus-menerus dan berkesinambungan, agar tercipta kesucian sepanjang hayat yang akan melahirkan kesejukan yang luar biasa dimana pun kita berada. Sungguh suatu keindahan yang tidak dapat dibayangkan bila hal itu dapat terwujud, setidaknya di linkungan peribadi kita

Sunday, December 12, 2010

1 Muharram vs 1 Januari


Dalam setiap tahunnya, ummat Islam dihadapkan pada dua even tahun baru. Tanggal 1 Muharram sebagai awal tahun Hijriah (tahun qomariyah) dan 1 Januari sebagai awal tahun Masehi (tahun syamsiah). Keduanya sama-sama disebut tahun baru. Namun memiliki dua warna yang berbeda. Yang terpenting adalah, keduanya memiliki latar belakang idiologi dan keyakinan yang berbeda.

Sebagai masyarakat umum yang mengikuti budaya dunia sekarang tentu tidak asing dengan perayaan tahun baru masehi yang setiap tahunnya dirayakan dengan meriah yang terkadang tidak ketinggalan mengundang kontroversi hehehe... Dan sebagai masyarakat Islam kita juga tidak asing dengan perayaan tahun baru Hijriah atau dikenal dengan tahun baru Islam (kalau ada yang masih tidak kenal... "sungguh terlalu" -bang Roma mode on- hehe).Kedua even tahun beru ini sama-sama memiliki nama sebagai tahun baru, namun sebagai seorang Muslim keduanya bisa dikatakan sebagai ujian. Ujian yang seperti apa ? yah ujian dalam berbagai hal, dia bisa menjadi ujian tingkat pemahaman kita terhadap Ajaran agama, terutama dalam ilmu sejarah. Bisa pula menjadi ujian dedikasi, pada tahun baru yang mana kita lebih condong dan mendominasi. Bila ditinjau dari sejarah, keduanya bermula dari dua keyakinan yang berbeda, tahun baru masehi adalah kelahiran "Al-masih" (Nabi Isa as), sedangkan tahun baru hijriah adalah pristiwa hijrahnya Rosul Muhammad saw dari kota Makkah ke kota Madinah. Nah dari situ kita bisa ketahui, yang mana seharusnya yang perlu dirayakan (bila perlu sich), setidaknya untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak kita terhadap agamanya. Tidak ada salahnya kita buat suasana yang berbeda dirumah masing-masing ketika memasuki tahun baru Islam. Agar anak-anak Islam tidak lantas mengagung-agungkan sebuah even yang memang bukan milik kita.
SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH 1432 H

Thursday, November 18, 2010

6 Ciri Orang Dewasa

Pada tulisan sebelumnya saya mencoba menyodorkan tentang 7 ciri orang belum dewasa, kali ini saya coba berikan 6 ciri orang dewasa. Banyak ciri yang bisa dilihat, namun setidaknya ada enam ciri yang begitu nampak dari luar. Enam ciri itu adalah :

1. Diam Aktif
Ciri khas umat Dewasa diawali dengan Diam Aktif yaitu kemampuan untuk menahan diri dalam berkomentar. Orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan lisannya, seorang anak kecil, saudaraku apa yang dia lihat biasanya selalu dikomentari.
Orang tua yang kurang dewasa mulutnya sangat sering berbunyi, semua hal dikomentari.,ketika dia melihat sesuatu langsung dipastikan akan dikomentari,ketika menonton televisi misalnya ; komentar dia akan mengalahkan suara dari televisi yang dia tonton . Penonton tv yang dewasa itu senantiasa bertafakur, acara yang dia tonton senantiasa direnungkan (tentunya acara yang bermanfaat) dan memohon dibukakan pintu hikmah kepada Allah, Subhanalloh.

2. Empati (memahami perasaan)
Ciri kedewasaan selanjutnya dapat dilihat dari Empati. Anak-anak biasanya belum dapat meraba perasaan orang lain, orang yang bertambah umurnya tetapi tidak dapat meraba perasaan orang lain berarti belum dapat disebut dewasa. Kedewasan seseorang dapat dilihat dari keberanian melihat dan meraba perasaan orang lain. Seorang ibu yang dewasa dan bijaksana dapat dilihat dari sikap terhadap pembantunya yaitu tidak semena-mena menyuruh, walaupun sudah merasa menggajinya tetapi bukan berarti berkuasa,bukankah di kantor ketika lembur pasti ingin dibayar overtime ? tetapi pembantu lembur tidak ada overtime ? semakin orang hanya mementingkan perasaannya saja maka akan semakin tidak bijaksana. Semakin orang bisa meraba penderitaan orang lain Insya Allah akan semakin bijak. Percayalah tidak akan bijaksana orang yang hidupnya hanya memikirkan perasaannya sendiri.

3. Hati-hati (wara')
Orang yang dewasa, cirinya hati-hati (Wara’),dalam bertindak. Orang yang dewasa benar-benar berhitung tidak hanya dari benda, tapi dari waktu ; tiap detik,tiap tutur kata , dia tidak mau jika harus menanggung karena salah dalam mengambil sikap. Anak-anak atau remaja biasanya sangat tidak hati-hati dalam bercakap dan mengambil keputusan.Orang yang bersikap atau memiliki kepribadian dewasa (wara’) dapat dilihat dalam kehati-hatian memilih kata, mengambil keputusan,mengambil sikap, karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh.

4. Sabar
Orang yang dewasa terlihat dalam kesabarannya (sabar), kita ambil contoh ; didalam rumah
seorang ibu mempunyai 3 orang anak, yang satu menangis, kemudian yang lainnya pun ikut menangissehingga lama-kelamaan menjadi empat orang yang menangis , mengapa ? karena ternyata ibunyamenangis pula. Ciri orang yang dewasa adalah sabar, dalam situasi sesulit apapun lebih tenang,mantap dan stabil.

5. Tanggung jawab
seseorang yang dewasa benar-benar mempunyai sikap yang amanah, memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab. Untuk melihat kedewasaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya bertanggungjawab, sebagai contoh ; seorang ayah dapat dinilai bertanggung jawab atau tidak yaitu dalam cara mencari nafkah yang halal dan mendidik anak istrinya ? Bukan masalah kehidupan dunia ,yang menjadi masalah mampu tidak mempertanggungjawabkan anak-anak ketika pulang ke akherat nanti ? Ke surga atau neraka? Oleh karena itu orang tua harus bekerja keras untuk menjadi jalan kesuksesan anak-anaknya di dunia dan akherat.

6. Motivator
Kesuksesan kita adalah bagaimana kita bisa memompa diri kita dan menyukseskan orang-orang disekitar kita, tidak hanya sekedar bisa menilai dan menyalahkan. kalau ingin tahu kesuksesan kita coba lihat perkembangan keluarga kita, istri dan anak-anak kita maju tidak? lihat sanak saudara kita pada maju tidak? Jangan sampai kita sendirian yang maju, tapi sanak saudara kita hidup dalam kesulitan, ekonominya seret, pendidikan seret.,sedang kita tidak ada kepedulian. Berarti itu sebuah kegagalan.,kedewasaan seseorang itu,dilihat dari bagaimana kemampuan memegang amanah ?
Wallahu’alam

7 Ciri Orang Belum Dewasa

Bila ditinjau dari berbagai disiplin ilmu, maka akan kita temukan berbagai kriteria kedewasaan. Lin ilmu lain pula komentarnya. Namun semua memiliki maksud dan arah yang sama. Kali ini coba kita soroti dari segi kejiwaan. Ada beberapa artikel dari teman-teman Bloger yang membahas tentang ini, namun kebanyakan mereka memberikan tujuh ciri umum yang sangat nampak bila seseorang belum memiliki kedewasaan jiwa.

Ketujuh ciri itu adalah sebagai berikut:

1. Sensual
Anak-anak mengalami proses merasakan, bertindak dan berpikir. Sedangkan, pria dewasa berpikir, bertindak dan akhirnya merasakan. Tetapi saat ini, kebanyakan pria dewasa mirip seperti seorang anak kecil, mereka lebih suka bertindak dahulu baru berpikir, kemudian merasakan penyesalan atas tindakannya itu.

2. Egois
Pria yang tidak sadar akan keegoisannya adalah pria yang belum dewasa. Seorang pria yang belum dewasa sering kali tidak sadar akan keegoisannya, mari kita lihat contoh berikut: suatu keluarga, ayah, ibu dan seorang anak sedang makan pagi bersama. Di meja makan telah tersedia roti panggang, susu dan yang lainnya. Ketika sang anak hendak mengambil roti panggang, tangannya menyenggol gelas yang berisi susu hingga jatuh. Seketika itu juga ayahnya memandang dia dengan mimik muka yang marah sambil berkata: “kurang ajar! Susu aja tumpah, kamu gimana sih ngambilnya!” Sang anak tidak menjawab. Selesai makan, dia langsung masuk kamar dan menagis. Keesokan harinya, diwaktu yang sama, keluarga ini di meja makan lagi. Saat sang ayah hendak mengambil roti panggang, tangannya menyenggol susu hingga jatuh, sang ayah memandang marah kepada sang ibu dan berkata: “mama! Kenapa taruh susu disini!”

3. Tidak Konsisten
Tuhan dan wanita, menginginkan agar pria memiliki konsistensi, ketegasan dan kekuatan. Kesetiaan adalah batu penjuru dari karakter. Sering kali pria hanya mengutamakan dan menonjolkan kemampuan dan kharisma, tetapi tidak menekankan kesetiaan. Hanya kesetiaan yang dapat membuat pria terus berkembang dalam hidupnya. Kharisma bisa membawa Anda ke atas, tetapi hanya karakter yang dapat mempertahankannya.

4. Tidak Tepat Janji
Perkataan seorang pria adalah ukuran dari karakternya. Perkataan Anda membuktikan kepriaan Anda, kepriaan Anda membuktikan perkataan Anda.

5. Tidak Bertanggung Jawab
Hakikat utama menjadi seorang ayah adalah mengajar anak-anaknya bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Tanggung jawab seorang ayah bukanlah membuat keputusan bagi anaknya, melainkan membiarkan anaknya melihat bagaimana sang ayah membuat keputusan. Tanggung jawab terhadap kesuksesan tergantung pada kemauan untuk bertangung jawab terhadap kegagalan.

6. Suka Bersembunyi
Krisis tidak akan membentuk karkater seorang pria, krisis hanya akan mengungkapkan siapa dia sesungguhnya. Orang sukses melihat krisis sebagai kesempatan untuk berubah: dari yang kurang kepada yang lebih, dari yang kecil kepada yang lebih besar.

7. Hanya Berespon Terhadap Pemaksaan.
Pria yang belum dewasa adalah pria yang hanya berespon apabila dipaksa atau ditekan. Tuhan tidak menciptakan manusia untuk menjadi diktator, melainkan pemimpin.
Apabila ketujuh ciri ini masih melekat pada Anda berarti anda belum tepat dikatakan dewasa. Menjadi laki-laki adalah masalah kelahiran, menjadi pria sejati adalah masalah pilihan.

Nah itu beberapa ciri-ciri umum yang sangat tampak, wallohu a'lam...

Wednesday, March 3, 2010

Dampak Medis Shalat Tahajjud

Sholat Tahajjud ternyata tak hanya membuat seseorang yang melakukannya mendapatkan tempat (maqam) terpuji di sisi Allah (Qs Al-Isra:79) tapi juga sangat penting bagi dunia kedokteran. Menurut hasil penelitian Mohammad Sholeh, dosen IAIN Surabaya, salah satu shalat sunah itu bisa membebaskan seseorang dari serangan infeksi dan penyakit kanker. Tidak percaya? Cobalah Anda rajin-rajin sholat tahajjud. "Jika anda
melakukannya secara rutin, benar, khusuk, dan ikhlas, niscaya Anda terbebas dari infeksi dan kanker". Ucap Sholeh. Ayah dua anak itubukan'tukang obat' jalanan.Dia melontarkan pernyataanya itu dalamdesertasinya yang berjudul 'Pengaruh Sholat tahajjud terhadap peningkatan Perubahan Response ketahanan Tubuh Imonologik: Suatu Pendekatan Psiko neuroimunologi" Dengan desertasi itu, Sholeh berhasil meraih gelar doktor dalam bidang ilmu kedokteran pada Program Pasca Sarjana Universitas Surabaya, yang dipertahankannya Selasa pekan lalu.

Selama ini, menurut Sholeh, tahajjud dinilai hanya merupakan ibadah
salat tambahan atau sholat sunah. Padahal jika dilakukan secara
kontinu, tepat gerakannya, khusuk dan ikhlas, secara medis sholat itu
menumbuhkan respons ketahannan tubuh (imonologi) khususnya pada
imonoglobin M, G, A dan limfosit-nya yang berupa persepsi dan motivasi
positif, serta dapat mengefektifkan kemampuan individu untuk
menanggulangi masalah yang dihadapi (coping).

Sholat tahajjud yang dimaksudkan Sholeh bukan sekedar menggugurkan
status sholat yang muakkadah (Sunah mendekati wajib). Ia
menitikberatkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan gerakan,
kekhusukan, dan keikhlasan. Selama ini, kata dia, ulama melihat
masalah ikhlas ini sebagai persoalan mental psikis. Namun sebetulnya
soal ini dapat dibuktikan dengan tekhnologi kedokteran. Ikhlas yang
selama ini dipandang sebagai misteri,dapat dibuktikan secara
kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut
Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh. Pada kondisi normal, jumlah
hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter.
Sedang pada malam hari-atau setelah pukul 24:00 normalnya antara
69-345 nmol/liter. "Kalau jumlah hormon kortisolnya normal, bisa
diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena tertekan.
Begitu sebaliknya. Ujarnya seraya menegaskan temuannya ini yang
membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam)
semata-mata dogma atau doktrin.

Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian terhadap 41
responden sisa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren Hidayatullah,
Surabaya.Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup bertahan menjalankan
sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji lagi, tinggal 19
siswa yang bertahan sholat tahjjud selama dua bulan. Sholat dimulai
pukul 02-00-3:30! sebanyak 11* rakaat, masing masing dua rakaat empat
kali salam plus tiga rakaat. Selanjutnya, hormon kortisol mereka
diukur di tiga laboratorium di Surabaya (paramita, Prodia dan
Klinika). Hasilnya,ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin
bertahajjud secara ikhlas berbeda dengan orang yang tidak melakukan
tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan
tubuh dan kemampuan individual untuk menaggulangi masalah-masalah yang
dihadapi dengan stabil. "Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah,
juga sekaligus sarat dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi
kontrol kognisi.

Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan coping yang
efectif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang dari
stress,"Nah, menurut Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali
terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang
dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak
terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun yang baik, yang
kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan kanker.
Dan, berdasarkan hitungan tekhnik medis menunjukan, sholat tahajjud
yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan tubuh
yang baik.

Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui
semua rahasia atas rahmat, nikmat,anugrah yang diberikan oleh ALLAH
kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita???????

Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa
keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum
dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal
fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam
dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah
membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Qur'an"
Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang
digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa,
madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor
tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan,
terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki
oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang
cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian
yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan
memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang
tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan
darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan
memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang 5 waktu yang
diwajibkan oleh Islam.

Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak
menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang
secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian
manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya"
karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah
dengan agamanya yang indah ini.

Kesimpulannya: Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak
bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka
berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan
mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara
normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak
segan-segan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah
kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan
dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena
otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak
heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial masyarakat saat
ini.


Wednesday, January 13, 2010

Ilmu Tidak Bermanfaat dan Tidak Barokah, Mengapa ???


Dalam ajaran agama, menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Agama sangat menginginkan setiap ummat untuk menjadi umat yang berkualitas, yang nantinya akan berefek pada pengamalan ibadah yang sempurna dan lahirnya makhluk-makhluk yang mulia. Tetapi, ada sebagian dari kita memiliki tingkat pendidikan yang tinggi namun cermim sebagai makhluk mulia dan berkualitas belum bisa terealisasi. Apa mungkin kita terjangkit virus ILMU TIDAK BERMANFAAT DAN TIDAK BAROKAH ?, MENGAPA bisa terjadi ?

Sekarang kita perlu adakan evaluasi, apakah ada hal-hal tertentu yang kita perbuat yang dapat menyebabkan ilmu yang kita cari selama ini tidak memberikan manfaat dan tidak melimpahkan barokah kepada kita. Sekarang saya akan coba angkat beberapa hal yang kecil namun memiliki daya perusak yang luar biasa, yaitu :
1. Kesalahan Niat;
Ini merupakan faktor pertama dan utama yang sangat mempengaruhi setiap amal. Bila sejak awal kita menuntut ilmu dengan niat bukan karena memenuhi ibadah suci untuk memperbaiki kualitas diri, maka yang kita dapatkan hanyalah apa yang kita niatkan itu. Contohnya saja sejak awal kita sekolah biar enak dapat kerja, ya akhirnya hanya itu yang di dapat, iya kalau dapat, kebanyakan orang yang memilih sekolah singkat kerja cepat justru tidak bisa cepat-cepat dapat kerja. Oleh karenanya mari perbaiki niat. Dengan niat ibadah insyaalloh yang lain bakal ngikut.
2. Melakukan Kecurangan;
melakukan kecurangan di sini dalam hal peroses pencarian ilmu tadi. Contoh ketika hendak mendaftar lewat jalan pintas dengan cara menyogok. Atau ketika ujian dilakukan dengan cara mencontek. Ingatlah wahai saudaraku, sesuatu yang berasah dari yang haram tidak akan pernah membawa manfaat bagi hidup.
3. Membenci Guru;
Hal yang satu ini kadang terjadi pada sebagian kita. Apabila dalam hati sudah tertanam dalam perasaan dengaki dan benci terhadap seseorang, maka mustahil aliat tidak mungkin perkataan orang itu akan kita dengar, apalagi kita terima, iya khan ??
4. Kurang Sadar tentang manfaat ilmu untuk diri;
Apabila seseorang kurang menyadari betapa pentingnya sesuatu itu bagi dirinya, maka ia pun tidak akan serius dan sepenuh hati menghadapinya
5. Kurang usaha dan kemauan
Apabila faktor no. 4 sudah terjangkit, maka sudah menjadi suatu yang otomatis no. 5 akan terjadi.

Saturday, December 19, 2009

Health Care Reform


Health is one of the most important components of attention in the social security system. In Act No. 23 of 1992 on Health stated that the government develop, nurture and encourage the implementation of health care financing which is done praupaya. The meaning of praupaya is financing fees that were paid in advance for a certain period. Health care is meant is a series of efforts to provide health coverage for participants and consists of various types and health service activities that are improving health, prevention and cure diseases (Ghufron, 200). Health care efforts include basic health care are required to follow.

Health sector reform is no longer a new language. It's just that the agenda needs to be returned as a basis for further development. If simplified, the health reform agenda forward will be more public participation in formulating and conducting health aspects with minimal government intervention. Empowering communities to measure the success and interest of the poor become its universality acceptance requirements.
Gunawan Setiadi, a doctor and a master's in health, revealed some reasons why people can organize their health, and better than the government, among others:
(a) greater public commitment than paid employees;
(b) more people understand the problem itself;
(c) the community can solve problems, whereas professional / government simply provide services;
(d) the public is more flexible and creative;
(e) communities are able to provide cheaper services; and
(f) standards of behavior more effectively enforced by the community than bureaucrats or health professional.
The views on top appears to be reasonable enough to see the work ethic of the low tendency of bureaucrats and health professionals for this. It is time for the health organization initiated by the community itself, so the meaning of healthy living into a new culture, wherein up trust, respect for the rights of life and norms menyuburnya other humanitarian. Model-based health organization empowerment (empowerment) must be arranged in a rational way by as much as possible to involve all relevant stakeholders.
Thus, health development priorities as far as possible is more directed to the poor - the majority of their number and have many rights taken away for this. For that, the target of government subsidies in the health sector needs to sharpen the road include:
First, increase the budget for health programs related to the many poor people. For example infectious disease eradication programs, services, maternal and child health and nutrition.
Until now, as a developing country Indonesia is still faced with the problem, especially the limited access of the poor to quality health services and affordable. A study conducted by Thabrani (2005) states that 10 percent of wealthy people in Indonesia have access to health facilities in 12 times greater diandingkan 10 percent of the poor. While out of pocket expenditure is regressive, so the added weight to the cost burden on the responsibility of low-income communities.
Exemption fees for services in health centers in some areas and city districts, it did not increase the poor's access to health services. Research conducted by Susilowati (2004) found that access was more frequently used by large urban population (34.4%) compared with rural residents (26.9%). While in fact the most vulnerable groups to health care in rural areas (25.2%) than urban (17.7%). This means that injustices have occurred in health care financing as a government subsidy enjoyed by the people actually capable of.
Although the government has endeavored to develop various public health programs, increased investment there is the health service, improving service quality, decentralized health system, but public access to health services remains a major problem contributing to poverty. The main cause of this whole problem lies in the limited public access to health insurance system. The question now is how far health and social security is understood as a tool and prerequisite for overcoming the problem of poverty, economic growth and development and the extent to which this issue was held in the policy effective and coherent.

Health Insurance Policy in Indonesia

In the Universal Declaration of Human Rights, declared health a fundamental human right. It required a system that can guarantee the fulfillment of these basic rights. Regarding health insurance in the international world has been set in the UN Declaration on Human Rights dated December 10, 1948 concerning the health and welfare rights, health insurance, disability and old age. Health insurance is also regulated in the ILO Convention No.102 thn 1952. In Indonesia, Health insurance mandated by the 1945 changes in Article 28H Paragraph (1) which states that "Everyone has the right to live in physical and spiritual welfare, residence, and a good environment and healthy and are entitled to health services". Furthermore, in Article 28H Paragraph (3) confirmed again that "Every person has the right to social security in order to develop oneself fully as a dignified human being". As a form of implementation of the mandate of the 1945 Constitution, in 2001, through TAP MPR MPR No.X/MPR/2001 assigned to the President of Indonesia to establish the National Social Security System. On October 19, 2004, the Indonesian government finally set the Law No.40 of 2004 on National Social Security System.
In the Navigation Act, the social security system was built to be able to overcome the problems that can cause people to be poor such as sickness, accident, death, old age, retirement and disability. This system is also built to guarantee the basic living needs and to promote the health and social welfare. Unfortunately, the articles in the Navigation Act is not fully able to reach people who become poor because of loss of jobs or people with social welfare issues.
The implementation of social security has long been a part of real community life in local communities. Most local communities are familiar with the term rice barns, jimpitan, fees and social gathering as a way of managing social security on a small scale. but the state has a very big role to influence the availability of well-being. The role of this country due to: (1) the State has the capacity to determine the policy, which will affect the service (c / expenditure policies). State could decide who will be allowed to become a provider or not, determine their qualifications, determine how the service delivery mechanisms and regulate the quality and quantity of service., (2) The state may participate directly in the provision of services and benefits, (3) the State can play a role in planning and oversee service delivery, (4) The State can also play a role in providing direct assistance, provide fiscal support and subsidies (Thabrani, 2005).
In Act No.6 of 1974 on Basic Provisions of Social Welfare, development in the field of social welfare embodied in the government efforts that include:
1. social assistance to citizens of both individuals and groups who have lost their social roles or become victims of disasters, whether natural or other causes.
2. Social welfare standard maintenance through the implementation of a social security system,
3. Guidance, training and social rehabilitation including peyaluran into the community to citizens of the affected their ability to sustain life.
4. Development and social counseling.
But according to the identification Lindenthal (2004) the general characteristics of the social security system developed in Indonesia are:
• limited in scope and only serve minority populations, namely civil servants, armed forces and a small part of the private sector.
• Dependence on family and community in providing informal social protection is very high
. • a very limited dependence on the employer / company due to the inability of labor laws to accommodate the needs of social security for workers.
• Options are limited to social security for workers in the private sector
• Social benefits package that is relatively more comprehensive for civil servants and armed forces
• social benefits (social assitance / services) is not sufficient for poor people where the level of leakage and very high administrative costs.
• public health system is not adequately funded resulting in the inability to provide public services are also inadequate.

Monday, November 16, 2009

Konsekwensi Seorang Bloger

Sebelum memasuki dunia baru, sudah barang tentu seseorang harus mengetahui sepertiapa dunia yang akan dimasukinya. Baik itu yang berkenaan dengan suasana, keunggulan, kekurangan dan juga konsekwensi apa yang akan dihadapi ketika berada didalam dunia tersebut, Demukian juga dunia blog.

sebelumnya mungkin kita tidak pernah terpikir bahwa dunia belog memeiliki hal-hal yang harus dilalui oleh setiap bloger. Selama ini mungkin kita hanya memandang bloger hanya merupakan hal sampingan yang dijadikan tempat pelarian dari kejenuhan, atau tempah menumpahkan segala isi hati, atau hal-hal lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Memang tidak salah, tapi perlu diperhatikan adalah, kita sekarang berada di dunia yang memiliki aturan yang harus kita sadari hal itu harus diikuti. Sebagai contoh saja, dalam aturan memposting kita setidaknya harus tahu adab menulis seperti yang dilakukan di dunia nyata, asas plagiator yang selama ini mungkin sangat digemari tentu saja sangat tidak diharapkan untuk dilakukan. Betapa tidak, ketika kita menulis sebuah artikel dengan segala perjuangan, kemudian setelah diposting di blog, eh ternyata ada yang mengkopynya. Coba bayangkan bagaimana rasanya seseorang yang kehilangan sesuatu. Dan juga masih banyak contoh lainnya. Yang tidak akalh penting adalah, sekalipun sebagian kita masih menganggap ngeblog sebagai sampingan tapi yang dikesampingkan, karena blog sperti rumah kita yang harus selalu dirawat, ya,,, lagi-lagi kita harus menyisihkan waktu, tenaga dan dana pastinya he... he... he..., namanya juga konsekwensi. Selamat ngeblog, maju terus bloger Indonesia...