Assalamu'alaikum ... Selamat Datang ... Semoga Blog Ini Bisa Memberi Manfaat ... Jangan Bosan Untuk Kembali lagi ^_^

Sunday, March 27, 2011

Buah Apel Bidadari

Suatu hari,Seorang lelaki saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar dari pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, “Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya”. Orang itu menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya”.

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, “Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini.” Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam”.

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : “Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.”

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?” Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, “Apa syarat itu tuan?” Orang itu menjawab, “Engkau harus mengawini putriku !”

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?” Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, “Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !”

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul ‘Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala”. Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum?.”

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. “Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula”, kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?” Wanita itu kemudian berkata, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah”. Tsabit bertanya lagi, “Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala”.

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, “Ketika kulihat wajahnya, Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap”.

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit.

Sumber : http://kisahislami.com/

Saturday, March 19, 2011

Air mata Berbuah Mutiara

Beberapa waktu lalu saya singgah ditempatnya Pak Dudung, ada artikel menarik yang saya sempat baca, coba saya sadur ulang;
>>>>>>>>>>>>>>>

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek. "Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu." Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
**********
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa".
Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.
Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara." Semoga........

Sumber : http://www.dudung.net/artikel-bebas/air-mata-mutiara.html

Sunday, March 13, 2011

Kenali Kekurangan Diri

Suatu kali, seorang laki-laki konsultasi kepada dokter kejiwaan mengenai keadaan sang istrinya ...
"Dokter ... akhir-akhir ini saya kesal dengan istri saya, kadang kalau saya bicara sering tidak ditanggapi, apa kira-kira masalahnya Dok ..??"
"Apakah istri anda pernah punya masalah dengan telinganya, tuli maksudnya ?"
"Tidak pernah Dok, selama ini tidak pernah ada keluhan semacam itu !"
"Iya kalau dekat kaya kita sekarang sich tidak nampak, tapi kadang bisa tuli dalam jarak tertentu lho, diselidiki dulu pak, nanati kalau sudah ketahuan baru kita adakan tindakan selanjutnya !"
"Oh begitu ya doc .. oke entar coba saya tes dulu"

Pulanglah si laki-laki tadi ke rumah dengan maksud mengadakan identifikasi ketulian. Sesampainya di rumah, didapatinya istrinya sedang masak, lalu mulailah dia menghitung jarak dari 4 meter sambil menyapa.
"mamah ... lagi masak apa ?"
karena belum ada jawaban ia maju 1 meter
"mamah ... lagi masak apa ?"
karena belum ada jawaban ia maju lagi 1 meter
"mamah ... lagi masak apa ?"
Karena masih juga belum ada jawaban ia maju lagi 1 meter hingga kini tinggal 1 meter jarak antara ia dengan istrinya, lalu ia sapa dengan suara agak keras;
"mamah ...... lagi masak apa sich ?"
Tiba-tiba suasana menjadi hening, lalu si istri balik sambil setengah membentak;
"sudah tiga kali mamah bilang kalo mamah lagi masak rendang... rendang... rendang... apa papah tidak dengar ?"
Nah ... siapakah yang tuli sebenarnya hehe
kadang kita sibuk menilai kekurangan orang, tanpa tau keadaan diri kita seperti apa. Salah satu kesuksesan seorang manusia bila dia dapat benar-benar kenal dirinya,bahkan sampai kekurangan terkecil sekalipun. Bahasa kasarnya "bagaimana kita bisa tahu bau ketiak kita sendiri", sehingga hal tersebut tidak sampai berdampak kepada orang yang ada di sekeliling kita. Oke semoga kita bisa melakukannya ...

Manajemen Masalah

Setiap hari kita disibukkan kegiatan masing masing. Sekolah, bekerja, belanja, dugem, dkk yang lebih sering menjengkelkan daripada menyenangkan. Bosan, pengen refreshing, mau relaks dan alasan lain mulai bermunculan. Padahal kalau dipikir lagi, hal ini sangat aneh. Hakikatnya kitalah pemegang kendali atas kegiatan kita, keputusan kita yang berlaku, mau kita kerja suka suka kitalah, akibatnya pun kita tanggung. Tapi kita malah merasa terpenjara karena itu. Ibaratnya seorang sipir di penjara yang terjebak dalam sel gara gara kuncinya lupa dibawa dari rumah. Jadilah dia pesakitan,………

Apa yang menyebabkan semua itu? Banyak anggapan menyatakan bahwa itu semua tergantung mindsetting dan paradigma atau pola pikir kita dalam memandang masalah. Major opinionnya seperti ini”Kita punya masalah karena kita berpikir bahwa kita punya masalah.” Sama seperti filsuf Yunani, Socrates, menyatakan “Jika saya minum atau makan sesuatu yang beracun, semua itu tidak akan membunuh saya jika saya tidak mengenal adanya racun.”

Alasan ini banyak dipakai dalam terapi pemulihan mental dan psikologi. Namun aplikasinya kurang bisa diterima. Salah satu contoh yang bertolak belakang dengan ini adalah pemikiran ‘simple exception’. Apakah kalau saya tidak bisa melihat otak saya, berarti saya tak berotak?

Anggapan lain adalah bahwa masalah disebabkan oleh “metamorfosis” atau ” siklus kecebong.” Seperti layaknya seekor kecebong yang melepas insangnya dan mulai bernafas dengan paru paru. Mungkin awalnya, si beruda mau agar pasokan O2 dalam tubuhnya tercukupi. Namun, lama kelamaan ia kehilangan jati dirinya. Ia mulai meninggalkan air, padahal struktur bagian luarnya terikat erat dengan air, misalnya lendir pada kulit. Ia juga tidak sepenuhnya dapat bahagia di darat. Akhirnya, bisa dikatakan ia terjebak proses yang dieksplorasinya sendiri. Ia bukan makhluk air, ia bukan makhluk darat. Ia terus berputar di tempat, namun lingkaran tidak berawal dan tidak berakhir.

Masalah banyak diawali siklus ini. Kita bereksplorasi, keluar dari zona aman kita, namun tidak memiliki totalitas, totalitas dan totalitas. Kita mau menjelajah, mengubah dan merevisi tatanan hidup, namun tidak melepas “lendir” yang mengikat kita dengan kehidupan lama. Mungkin kenangan akan kegagalan kita menghantui semangat kita dalam memulainya kembali. Atau mungkin kita masih merasa belum “menyelesaikan kehidupan kita” sebelumnya. Seorang pengusaha tekstil yang mapan mencoba meluaskan usaha dengan menjadi pengusaha kendaraan bermotor. Namun bila ia memakai patokan bisnis tekstil, ia hanya akan berputar putar di tempat karena tekstil tidak sama dengan motor, seperti halnya air dan darat.

Namun sebenarnya, masalah paling dominan disebabkan oleh reaksi kita menghadapi suatu kejadian. Bayangkan kejadian berikut:

………………………………………………………………………………
…..

Suatu hari Bram (pegawai kantor) seperti biasanya hendak sarapan sebelum berangkat kerja. Ia juga sekalian mengantar adik perempuannya ke sekolah. Istrinya mempersiapkan perlengkapannya. Adiknya membuatkannya kopi. Ketika adiknya menyuguhkan kopi itu, tanpa sengaja ia terpeleset, dan kopinya tumpah mengenai jas Bram. Bram pun marah marah. Ia gak jadi sarapan, dan pergi ngantor tanpa mengantar adiknya. Di kantor, karena pikirannya dipenuhi emosi, kerjaannya jadi kacau. Teman teman dan bosnya menegurnya. Sementara adiknya terpaksa naik angkutan umum ke sekolah. Di angkutan umum, adiknya kehilangan hp, terus terlambat tiba di sekolah padahal sedang ujian.Komplit

Lihat masalah yang dihadapi Bram. Betul betul kompleks dan memerlukan penanganan yang sangat dalam, karena mencakup semua unsur di sekitar Bram, baik adiknya, kerjaannya, relasinya, dll. Mengapa? Karena ia bereaksi kurang tepat menghadapi kejadian “ringan” pagi itu. Ia bereaksi memakai naluri dan insting, bukannya dengan kedewasaannya. Coba bayangkan kalau misalnya Bram gak marah marah. Ia hanya menyuruh istrinya mengganti jas, menghibur dan memaafkan adiknya, kemudian mengantar adiknya ke sekolah. Sederhana, masalah gak muncul.Melalui ini, kita bisa tahu bahwa bagaimana kita bereaksi memicu masalah atau penyelesaian. Bila kita bereaksi tenang, dewasa dan logis, maka penyelesaian yang muncul. Namun bila menggunakan “emotional dominae” semuanya hanya akan menimbulkan masalah yang lebih kompleks.

Jadi bagaimana kita me manajemen masalah masalah yang terlanjur kita hadapi?

Simpel sekali. Ingat, ini hanya memanajemen, yang berarti mengatur dan menyesuaikan, bukan menyelesaikan, karena masalah setiap orang berbeda. Tujuan kita memanajemen masalah adalah untuk menyederhanakannya, seberapa pun kompleksnya Ada dua cara yang mungkin bisa dilakukan

a. Bila masalah itu adalah masalah eksternal, misalnya masalah di tempat kerja, sekolah, masalah keluarga, dll, jadilah pengamat, berilah solusi bila diminta dan tegaslah dalam menunjukkan logika. Pengamat dalam hal ini berarti kita tidak langsung terjun ke pusat masalah, tapi bergerak melingkar, mulai dari awal masalah sampai ke intinya. Misalnya bila menghadapi teman yang suka mengejek kita. Jangan langsung menjatuhkan pidana bahwa kepribadiannya jelek. Tapi coba sabar, telusuri bagaimana sikapnya pada teman lain. Pasti ada alsan ia melakukan hal itu, apakah sekadar for fun, pelampiasan, atau memang dia ada masalah khusus denganmu. Bila sudah, berilah solusi bila diminta/ atau diperlukan. Mungkin kamu perlu berkonsultasi denga pihak ketiga dan merencanakan bagaimana menyatakan perasaanmu pada temanmu ini. Dan yang terakhir, tegas dalam logika berarti bila masalahnya adalah masalah “side to side”, “ya atau tidak”, nyatakanlah argumenmu dan jangan menariknya kembali, karena akan menimbulkan lebih banyak masalah.

b. Bila masalah internal misalnya kepercayaan diri, patah semangat dan sejenisnya, kilas baliklah kejadiannya. Putar ulang kenangan kejadian yang menyebabkan hal itu. Identifikasilah apa penyebab utama, misalnya kamu ga percaya diri menghadapi ujian. Apa karena ada temanmu yang gagal,atau kamu sendir pernah gagal? Atau apakah kurang persiapan? Bila sudah diidentifikasi apa penyebab utamanya, itulah yang perlu dicari solusinya. Kalau kamu gak percaya diri karena kurang persiapan, itulah yang kamu perbaiki. Tidak perlu misalnya, pindah les belajar, cari guru privat, dll karena bukan itu yang akan menyelesaikannya. Dan yang paling penting, “never give up”

Semua masalah mungkin bisa diselesaikan. Tapi yang paling penting, bagaimana kita mengatur dan menyederhanakannya dahulu, baru menyelesaikannya. Karena, solusi suat masalah bisa jadi “bumerang” dan sumber masalah baru. Intinya, dalam manajemen masalah, pertama jadilah pengamat dan identifikasilah masalahnya. Tidak terlalu sulit. Gitu aja kok repot….?

Friday, February 4, 2011

Melatih Otak Kanan dengan Al-Qur'an

Bila kita membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, maka posisi tulisan berbeda dengan tulisan latin biasa. Posisi yang saling bertolak belakang. Bila tulisan latin diawali dari sebelah kiri menuju sebelah kanan, kalau tulisan Al-Qur'an dimulai dari sebelah kanan menuju sebelah kiri. Memang kalau kita amati, semua amalan ibadah agama dimulai dari kanan. Ternyata hal itu dapat dijadikan terapi otak kita, yaitu melatih kemampuan otak kanan.

Sebelumnya ada baiknya kita ketahui dulu karakter yang dimiliki dua jenis otak ini. Fungsi otak kanan adalah divergen, analogi, kongkret, bebas, imajinatif, asosiatif, intuitif, majemuk, holistik, subyektif, simultan, fleksibel, kreatif, visual, pencari pola. Sedangkan fungsi otak kiri adalah konvergen, digital, abstrak, proporsional, analitik, linier, sekuensial, analitik, obyektif, satu-satu, kaku, matematikal, verbal, pengguna pola.

Si otak kanan berkarakter humoris, simple, menyenangkan, boros, lebih percaya intuisi, berantakan-kacau, ede = ekspresi diri, lebih memilih perasaan sebagai solusi masalah, suka bertualang, bermimpi besar, tukang sorak, “pelanggar aturan”, bebas, spontan.

Si otak kiri berkarakter serius, rumit, membosankan, hemat, lebih percayai fakta, rapi-terorganisir, ide = profitabilitas, lebih memilih keilmuan, hati-hati, berpengetahuan umum, pendukung diam, pembuat aturan, konservatif, mudah ditebak.

Selama ini kebanyakan kita terbiasa menggunakan otak kanan dalam segala kegiatan, padahal yang diinginkan adalah keseimbangan antara dua otak tersebut. Maka kita perlu mengadakan perubahan kecil dengan merubah pola itu.

Bagaimana Melatih Otak Kanan?

Purdie Chandra,”Yang saya alami sendiri, yakni melakukan dzikir dalam hati. Dzikir dalam hati dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dzikir itu akan membuat sesuatu itu terjadi. Sementara, intuisi yang tajam akan menunjukkan sesuatu itu terjadi. Cara lain yaitu dengan melakukan sholat malam, atau Tahajud, dan sholat minta petunjuk atau Istikharah. Puasa juga dapat mencerdaskan otak kanan.

Membaca Al Qur’an. Kalau kita membaca Al Qur’an, dari kanan ke kiri, ini melatih otak kanan.
Salam Sukses

Oleh : Sigit Wiyono
FOP Purwakarta
PT. Excelcomindo Pratama

Tuesday, January 11, 2011

Fitrah yang Menyejukkan


“Tiada (seorang anakpun) yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, atau menjadikannya Nasrani atau menjadikannya Majusi (penyembah api).” HR Bukhori

Kalau berbicara tentang fitrah, kesucian, kebersihan dan sebagainya, sudah pasti setiap manusia yang berakal sehat sangat mendambakannya. Kenapa tidak ? Karena faktor tersebutlah yang membuat manusia dapat diterima di segala keadaan, di berbagai tempat dan oleh berbagai pihak. Alloh SWT sebagai Robbul'alamin akan menerima hamba yang suci lahir-batin, manusia akan tentram bila hidup bermasyarakat dengan orang-orang yang suci; suci jiwa, suci jasad, suci akhlak dan sebagainya.
Tidak usah jauh-jauh dalam mengambil contoh, coba kita pandang wajah seorang anak yang masih lugu dan polos, betapa menyejukkannya. Apapun yang mereka perbuat, kita akan dengan ikhash memaafkan dan memakluminya. Dimana pun mereka berada, akan melahirkan keceriaan yang tiada tara.
Itu adalah anak-anak, suatu hal yang wajar diterima,karena memang setiap manusia yang dilahirkan ke muka bumi ini dalam keadaan suci, tidak ada kotoran warisan yang mereka bawa dari kandungan ibunya.
Bila kita renungkan, dapatkan fitrah kesucian itu dipelihara secara terus-menerus dan berkesinambungan, agar tercipta kesucian sepanjang hayat yang akan melahirkan kesejukan yang luar biasa dimana pun kita berada. Sungguh suatu keindahan yang tidak dapat dibayangkan bila hal itu dapat terwujud, setidaknya di linkungan peribadi kita

Friday, December 31, 2010

Leadership Theories

In accordance with the various definitions of leadership, there are several kinds of leadership theories. The theory of leadership in general can be classified into four broad categories, namely using the approach of (1) The influence of power, (2) Talent, (3) Behavior, and (4) Situation. But this is only part of the theory, namely from the perspective of western society, not yet from eastern society. But it never hurts. We will try to review one by one.


1) Theory with Leadership Influence
The theory put forward by French and Raven (1959) states that leadership stems from power in a group or organization. In other words, the person or persons who have access to sources of power in a particular group or organization will control or lead that group or organization. There are three kinds of sources of power, namely (1) position, (2) personality, and (3) politics.

Saturday, December 25, 2010

Teori – teori Kepemimpinan

Sesuai dengan beragamnya definisi mengenai kepemimpinan, teori-teori kepemimpinan pun ada beberapa macam. Teori kepemimpinan secara umum dapat digolongkan ke dalam empat kategori besar, yaitu menggunakan pendekatan (1) Pengaruh kekuasaan, (2) Bakat, (3) Prilaku, dan (4) Situasi. Tapi ini baru sebagian teori, yaitu dari pandangan masyarakat barat, belum dari masyakat timur. Tapi tidak ada salahnya Kita akan coba ulas satu demi satu.

1) Teori dengan Pengaruh Kepemimpinan
Teori yang dikemukakan oleh French dan Raven (1959) ini menyatakan bahwa kepemimpinan bersumber pada kekuasaan dalam satu kelompok atau organisasi. Dengan perkataan lai, orang atauorang-orang yang memiliki akses terhadap sumber kekuasaan dalam suatu kelompok atau organisasi tertentu akan mengendalikan atau memimpin kelompok atau organisasi itu. Adapun sumber kekuasaan itu sendiri ada tiga macam, yaitu (1) kedudukan, (2) kepribadian, dan (3) politik.

1.1) Kekuasaan yang bersumber pada kedudukan
Kekuasaan yang bersumber pada kedudukan terbagi lagi ke dalam beberapa jenis;
a) Kekuasaan Formal atau legal (French & Raven, 1959)
termasuk dalam jenis ini adalah komandan tentara, kepala dinas, presiden atau perdana mentri dan sebagainya yang mendapat kekuasaan karena ditunjuk dan/atau diperkuat dengan peraturan atau perundangan yang resmi.
b) Kendali atas Sumber dan Ganjaran (French & raven, 1959)
Majikan yang menggaji karyawan, majikan yang mengupah buruh, kepala suku atau kepala kantor yang dapat member ganjaran kepada bawahannya, dan sebagainya, memimpin berdasarkan sumber kekuasaan seperti ini.
c) Kendali atas Hukum (French & Raven, 1959)
ganjaran biasanya terkait dengan hukuman sehingga kendali atas ganjaran biasa juga kendali atas hukuman. Walaupun demikian, ada kepemimpinan yang yang sumbernya hanya kendali atas hukuman saja, ini merupakan kepemimpinan yang didasarkan pada rasa takut. Contoh para preman yang memungut pajak kepada pedagang, pedagang akan tunduk kepada preman karena takut akan mendapat perlakuan kasar.
d) Kendali atas Informasi (French & Raven, 1959)
informasi adalah ganjaran positif bagi orang yang memerlukannya, sehingga siapa pun yang menguasai informasi dapat menjadipemimpin. Misal adalah orang yang paling tahu arah jalan maka otomatis dia akan menjadi pimpinan rombingan.
e) Kendali Ekologi (lingkungan)
sumber kekuasaan ini dinamakan juga perekayasa situasi (situational sengineering). Contoh adalah kendali atas penempatan jabatan (Oldham, 1975). Seorang atasan, manager, atau kepala bagian personality mempunyai kekuasaan atas bawahannya, karena ia boleh menentukan posisi anggotanya.
1.2) Kekuasaan yang Bersumber pada Kepribadian
Berbeda dari kepemimpinan kekuasaan, kekuasaan yang bersumber pada kepribadian berawal dari sifat-sifat pribadi, yaitu sebagai berikut;
a) Keahlian atau Ketrampilan (French & Raven, 1959)
Dalam agama Islam, orang yang menjadi imam adalah orang yang paling fasih membaca ayat Al-Qur’an. Demikian pula dalam pesawat atau kapal, orang yang paling ahli dalam mengemudilah yang akan menjadi pemimpin.
b) Persahabatan atau Kesetiaan (French & Raven, 1959)
Sifat dapat bergaul, setia kawan atau setia kepada kelompok dapat merupakan sumber kekuasaan, sehingga seseorang dianggap sebagai pemimpin.
c) Karisma (House, 1977)
Ciri kepribadian yang menyebabkan timulnya kewibawaan pribadi dari pemimpin juga merupakan salah satu sumber kekuasaan dalam proses kepemimpinan. Mengenai hal ini dibicarakan tersendiri dalam teori bakat.
1.3) Kekuasaan yang Bersumber pada Politik
Kekuasaan yang bersumber pada politik terdiri atas beberapa jenis (Pfeffer, 1981)
a) Kendali atas Proses Pembuatan Keputusan (Pfeffer & Salanick, 1974)
dalam organisasi, ketua menetukan apakah suatu keputusan akan dibuat dan dilaksanakan atau tidak. Dan sebagainya.
b) Koalisi (Stevenson, Perace & Porter, 1985)
kepemimpinan atas dasar sumber kekuasaan politik ditentukan juga atas hak atau kewenangan untuk membuat kerja sama denga kelompok lain.
c) Partisipasi (Pfeffer, 1981)
pemimpin mengatur partisipasi anggotanya, siapa yang boleh berpartisipasi, dalam bentuk apa tiap anggota berpartisipasi, dan sebagainya.
d) Institusionalisasi
Pemimpin agama menikahkan pasangan suami istri, menentukan terbentuknya keluarga baru. Notaris atau hakim menetukan berdirinya suatu yayasan atau perusahaan baru. Dan sebagainya.

2) Teori Bakat
Teori bakat dinamakan juga teori sifat (trait), teori karismatik atau teori transformasi. Inti dari teori ini adalah bahwa kepemimpinan terjadi karena sifat-sifat atau bakat yang khas yang terdapat dalam diri pemimpin yang dapat diwujudkan dalam prilaku kepemimpinan. Sifat atau bakat itu dinamakan karisma atau wibawa. Sebagai contoh adalah Bung Karno, Adolf Hitler, Fidel Castro, Mahatma Gandhi, Ibu Theresa dan Martin Luther King. Tokoh-tokoh ini memiliki sifat yang tidak dimiliki pemimpin-pemimpin lain.
Di pihak lain, pemimpin-pemimpin karismatik tidak dapat disamakan dengan tokoh-tokoh yang kewibawaan, kekuasaan atau kepemimpinannya bersumber atau ditopang oleh legenda-legenda, mitos, dan dongeng-dongeng. Misal keturunan raja, bangsawan, orang sakti, keturunan yang dianggap titisan dewa dan sebagainya.
Karisma yang ditunjang oleh oleh mitos dan legenda ini bukanlah dating dari bakat atau sifat pribadi yang bersangkutan, sehingga tidak dapat digolongkan dalam teori bakat yang sedang kita bicarakan ini.
Teori bakat menurut Hourse (1977) bahwa karisma yang berupa bakat atau sifat adalah hal yang dapat dijelaskan secara objektif ilmiyah, sehingga dapat diteliti, diukur, dan diuktikan keberadaanya.
Teori bakat menurut Baas (1985) ada factor-faktor tambahan lain yang menyebabkan lahirnya kepemimpinan karismatik selain faktor bawaan sejak lahir yang dikemukakan oleh Hourse, yaitu factor anteseden (hal yang mendahului terjadinya seorang pemimpin), faktor atribusi (keyakinan sendiri) dan faktor konsekuensi dari kepemimpinan.
Teori bakat menurut Conger dan Kanungo (1987) bahwa kepemimpinan karismatik terutama bersifat atributif, yaitu karena adanya ciri-ciri tertentu dari pemimpin yang dipersepsikan oleh para pengikut bersarkan pengamatan pengikut terhadap prilaku pemimpin.
Teori Tranformasional menurut Robert (1984) bahwa pemimpin karismatik dapat juga terjadi dalam kelompok-kelompok yang sangat terorganisasi. Berbeda dari pendapat sebelumnya yang seakan-akan menyatakan bahwa kepemimpinan karismatik tidak dapat berjan pada kelompok-kelompok yang sangat terorgaisasi.
Karisma: Negatif atau Positif?
Ykul (1989) mengemukakan bahwa sejarah telah mencatat pemimpin-pemimpin karismatik yang telah member dampak positif yang sangat luar biasa kepada kelompoknya, bahkan terhadap umat manusia secara keseluruhan, seperti Mahatma Gandhi dan Martin Luther King. Di pihak lain sejarah juga mencatat pemimpin-pemimpin karismatik yang memberikan dampak negative dan kehancuran, seperti Adolf Hitler. Pertanyaan yang timbul adalah “Apakah pemimpin karismatik berdampak positif atau negatif bagi pengikutnya?”. Pertanyaan ini semakin perlu dijawab karena banyak pemimpin karismatik yang sulit digolongkan dalam salah satu jenis tersebut. Bahkan ada yang berpengaruh negatif di satu pihak namun positif di pihak yang lain.
Musser (1987) mengusukan kriteria yang berbeda antara pemimpin karismatik yang positif dan negatif. Ciri pemimpin karismatik yang negatif adalah yang lebih mementingkan tujuan dirinya sendiri daripada idiologi-idiologinya.

3) Teori Perilaku
Teori prilaku memusatkan perhatiannya pada perilaku pemimpin dalamkaitannya dengan struktur dan organisasi kelompok. Oleh karena itu, teori prilaku ini lebih sesuai untuk kepemimpinan dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, karena peran pemimpin digariskan dengan jelas. Teori perilaku menurut beberapa ahli, antara lain;
Mintzberg (1973) mengemukakan sepuluh peran pemimpin (manager) sebagai berikut; Peran dalam hubungan antarpribadi adalah sebagai pemimpin, penghubung dan panutan (figurehead). Peran yang berkaitan dengan pemrosesan informasi adalah sebagai pemantau, penyebaran informasi dan juru bicara. Peran yang berkaitan dengan pembuatan keputusan adalah sebagai wiraswasta, penyelesaian gangguan, pengalokasian sumber, dan negosiator.
Bagaimana seorang pemimpin memenuhi kesepuluh peran itu, hal itu akan ditentukan bagaimana kepemimpinannya. Mereka akan memiliki kecocokan dengan salah satu peran, dan biasanya mereka akan unggul dalam hal itu.
Page (Page, 1985 & Tornow, 1987) juga memusatka teori kepemimpinannya pada peran yang dibawakan pemimipin dalam posisi managerial. Menurutnya ada Sembilan kewajiban dan tanggung jawab manager dalam organisasi. Yaitu penyelia (supervising), perencan dan pengorganisasi, pembuat keputusan, pemantau indicator, pengendalian, perwakilan, pengkooordinasi, konsultasi, dan administrasi.
Sebagai manager sudah barang tentu seseorang yang dapat menduduki sembilan peran tersebut. Namun, setiap orang memiliki kemampuan tersendiri, sehingga ada yang kuat di peran tertentu dan lemah di peran yang lain.

4) Teori Situasional
Teori situasional berintikan hubungan antara perilaku pemimpin dan situasi dilingkungan pemimpin itu.dalam hal ini ada dua macam hubungan, yaitu (1) perilaku pemimpin yang merupakan hasil atau akibat dari situasi dan (2) perilaku pemimpin merupakan penentu atau penyebab situasi. Dengan perkataan lain, pada hubungan pertama, pemimpin merupakan variabel ikutan (dependent variable), sedangkan yang kedua masuk dalam variabel bebas (independent variable).
4.1) Perilaku Pemimpin sebagai Akibat Situasi
Teori-teori yang membicarakan hal ini adalah;
a) Teori Peran (role theory) dari Merton (1957)
perilaku pemimpin disesuaikan pada perannya dalam kelompok, misalnya peran seorang komandan berbeda denga peran seorang ayah, sehingga perilaku seorang pemimpin berbeda ketika dia sedang berperan sebagai komandan dan ketika dia sedang menjadi ayah.
b) Teori Harapan (expectancy theory) dari Nebecker & Mitchell (1974)
perilaku pemimpin ditentukan oleh harapan kelompoknya, misalkan seorang ayah diharapkan untuk mencari nafkah bagi keluarganya, sedangkan ayah yang lain diharapkan untuk memberikan pendidikan bagi anak-anaknya.
c) Teori Adptif-Reaktif (adaptive-reactive theory) dari Osborne & Hunt (1975)
perilaku pemimpin tidak ditentukan oleh satu faktor tertentu, tetapi oleh interaksi antara bebrapa faktor dalam suatu situasi (multiple influence model). Dengan kata lain, pemimpin setiap kali menyesuaikan perilakunya pada perubahan situasi. Misalnya, perilaku komandan berbeda pada saat perang dan pada saat damai.
d) Teori Pilihan Kendala (Constraints choices model) dari Stewan (1967, 1976, 1982)
perilaku pemimpin disesuaikan dengan kendala-kendala yang ada. Ia akan memilih perilaku yang kendalanya terkecil. Misalnya seorang komandan tetara dalam situasi pertempuran, jika mengambil suatu tindakan kemungkinan korban sedikit dan kemenangan akan dicapai maka komandan akan melaksanakan hal itu, namun baila sebaliknya, lebih baik menunggu sampai situasi menguntungkan.
4.2) Perilaku Pemimpin sebagai Penyebab Situasi
Dalam teori ini pemimpin dipandang sebagai pihak yang bereaksi terhadap situasi semat-mata, tetapi dipandang sebagai pihak yang lebih aktif, yang mengambil inisiatif, dan yang member dampak pada situasi. Teori ini dinamakan juga teori model kontingensi (contingency models). Beberapa ahli mengemukakan;
Hourse & Mitchell (1974) mengemukakan empat tipe perilaku pemimpin, yaitu; suportif (mendukung), detektif (memeberi petunjuk), partisipatif (ikut terlibat), dan orientasi prestasi (tujuan pencapaian terbaik).
Hersey & Blanchard (1969, 1977, 1982) mengemukakan dua tipe perilaku pemimpin, yaitu; lebih mementingkan tugas (task behavior) dan lebih mementingkan hubungan (relationship behavior)
Kerr & Jernier (1978) menyatakan, ada dua macam variabel situasi, yaitu (1) yang mendukung efektivitas kepemimpinan (substitutes) dan (2) menghambat efektivitas
Kepemimpinan. Mengahadapi dua situasi itu memiliki sikap kepemimpinan yang berbeda. Dalam ha ini ada dua jenis pemimpin, yaitu; instrumental (mengawali, merangsang) dan suportif (melanjutkan, mempertahankan).
Vroom & Yettom (1973) mendasarkan pada bagaimana perilaku pembuatan keputusan pemimpin mempengaruhi kualitas pembuatan keputusan bawahan dan penerimaan bawahan terhadap keputusan. Ada tiga prosedur pembuatan keputusan, yaitu; otokratik (membuat sendiri), konsultasi (konsultasi terlebih dahulu), dan keputusan bersama.
Fiedler (1964, 1967) dan Sarwono (1995)
Efektivisas kepemimpinan tergantung pada persepsi pemimpin terhadap anggota kelompoknya. Persepsi pemimpin terhadap anggotanya diukur berdasarkan pada pandangannya terhadap anggota yang paling lemah, paling rendah prestasinya atau paling tidak disukai (LPC/ last preferred co-worked)

Itulah beberapa teori tentang kepemimpinan, semoga bermanfaat.

Oleh : Muhammad Muttaqin
Sumber : Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Sosial, 2005, Jakarta, Balai Pustaka.

Friday, December 24, 2010

Definition of Leadership

Maybe this word is often spoken and heard, but do we know what it means? When it comes to leadership, it turns out that there is no standard definition that becomes a standard definition that can be used as a reference. So we need to read various reviews from several experts whose actual directions and orientations are not much different, namely the basis of talent, nature, behavior, influence on others, interaction patterns, roles, positions, positions and perceptions of others regarding the validity of leadership itself. As for some definitions from experts, among others;

1. Leadership is the behavior of an individual when he directs the activities of a group towards a common goal (Hemphill & Coons, 1957: 7) 

 

Definisi Kepemimpinan

Mungkin kata ini sering terucap dan terdengar, tapi apakah kita tahu maksudnya. Kalau berbicara tentang kepemimpinan ternyata tidak ada definisi baku yang menjadi standar definisi yang dapat dijadikan rujukan. Sehingga kita perlu membaca berbagai ulasan dari beberapa ahli yang sebenarnya arah dan orientasinya tidak jauh berbeda, yaitu dasar bakat, sifat, prilaku, pengaruh terhadap orang lain, pola interaksi, peran, jabatan, posisi dan persepsi orang lain mengenai keabsahan kepemimpinan itu sendiri. Adapun beberapa definisi dari para ahli antara lain;

1. Kepemimpinan adalah prilaku seorang individu ketika ia mengarahkan aktivitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan bersama (Hemphill & Coons, 1957: 7)
2. kepemimpinan adalah salah satu jenis hubungan kekuasaan yang ditandai oleh persepsi anggota bahwa anggota kelompok yang lain mempunyai hak untuk merumuskan pola perilaku dari anggota yang pertama dalam hubungannya dengan kegiatannya sebagai anggota kelompok. (Janda, 1960: 358)
3. kepemimpinan adalah pengaruh antar peribadi yang dilaksanakan dan diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian tujuan-tujuan tertentu. (Tannenbaum, Weschler & Massarik, 1961: 24)
4. kepemimpinan adalah interaksi antar manusia dimana salah satunya menyajikan satu jenis informasi tertentu sedmikian rupa, sehingga yang lain yakin bahwa hasilnya akan lebih baik jika dia berperilaku sesuai dengan cara-cara yang dianjurkan atau diharapkan. (Jacobs, 1970: 232)
5. kepemimpinan adalah pengawaan dan pemeliharaan suatu struktur dalam harapan dan interaksi. (Stogdill, 1974: 411)
6. kepemimpinan adalah tambahan pengaruh yang lebih tinggi dan diatas mekanisme pencapaian dengan arahan rutin dari organisasi. (Katz & Kahn, 1978: 528)
7. kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas sebuah kelompok yang terorganisasi menuju pencapaian suatu tujuan. (Roach & Behing, 1984: 46)

Dari berbagai uraian di atas dapat kita tarik definisi sementara bahwa Kepemimpinan adalah suatu proses, perilaku atau hubungan yang menyebabkan suatu kelompok dapat bertindak secara bersama-sama atau secara bekerja sama atau sesuai dengan aturan atau sesuai dengan tujuan bersama. Sedangkan yang dinamakan Pemimpin adalah orang yang melaksanakan proses, perilaku dan hubungan tersebut.

Oleh : Muhammad Muttaqin
Sumber : Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Sosial, 2005, Jakarta, Balai Pustaka.