Assalamu'alaikum ... Selamat Datang ... Semoga Blog Ini Bisa Memberi Manfaat ... Jangan Bosan Untuk Kembali lagi ^_^

Sunday, August 15, 2010

Ikhtiar dan Tawakkal


Di dalam kehidupan ini, ada empat kemungkinan yang dapat kita jumpai di dalam urusan berikhtiar, apapun bentuk ikhtiar yang kita dilakukan. Kemungkinan pertama, seringkali kita temui orang yang berusaha dan berhasil. Kemungkinan kedua, ada juga orang yang walaupun telah berusaha dengan sekuat tenaga, tetapi kemudian tujuannya tidak tercapai. Yang ketiga, walau pun agak jarang tetapi ada juga orang yang sebenarnya tidak berusaha, atau usaha yang dilakukannya itu minimal, tetapi juga berhasil. Yang terakhir, lebih sering kita jumpai orang yang tidak berusaha, dan tidak berhasil. Jadi, ada orang yang berusaha, berhasil; ada yang berusaha tetapi tidak berhasil; tidak berusaha, berhasil dan terakhir, tidak berusaha, tidak berhasil.

Keempat fakta ini menunjukkan kepada kita, bahwa kita tidak bisa dengan pasti mengetok palu, memastikan bahwa keberhasilan yang kita akan peroleh berbanding sejajar dengan usaha yang kita lakukan. Kalau hal ini kita yakini, maka kita cenderung tidak akan mau menerima kegagalan yang kita terima. Yang harus kita yakini adalah kita hanya berkewajiban berusaha, berusaha dengan segenap kemampuan kita untuk mencapai suatu tujuan. Kemudian setelah kita berusaha dengan maksimal, hasilnya kita serahkan kepada kehendak Ilahi.

Konsep yang harus kita tanamkan di dalam berusaha adalah la haula wa la quwwata illa billah, tiada daya dan kekuatan selain daya dan kekuatan milik Allah. Setelah berikhtiar, kita serahkan kepada Allah, bukan menyombongkan jerih-payah, upaya yang telah kita lakukan. Maka kalau konsep ini sudah tertanam di dalam jiwa kita, ketika berhasil kita tidak lantas bersorak, mengepalkan tinju tinggi-tinggi sambil berteriak, yes! Tidak lupa diri, tetapi justru segera mengingat Allah mengucap syukur memuji karunia-Nya. Sebaliknya, ketika gagal kita tidak lantas menekuk muka, putus asa menganggap kegagalan sebagai akhir segalanya. Tetapi kita lantas segera muhasabah, introspeksi diri mencari penyebab kegagalan untuk perbaikan di masa datang, sambil mengingat bahwa semua cobaan datang dari Allah, dan di balik kesulitan terdapat hikmah, kebaikan.

Yakinlah, bahwa walau pun gagal, usaha yang telah kita lakukan akan dinilai sebagai suatu kebaikan di sisi Allah. Sebuah hadis menjelaskan kepada kita, dengan makna bahwa seandainya kita mempunyai pengetahuan yang sangat jelas bahwa esok akan datang hari kiamat, sedangkan di tangan kita terdapat sebutir biji kacang, kita dilarang untuk membuangnya. Tetapi kita disuruh untuk menanamnya walau pun kita tahu betul bahwa esok akan kiamat. Bukan hasil yang dilihat oleh Allah SWT, akan tetapi jerih payah kita menanam biji kacang itulah yang akan dicatat sebagai suatu kebaikan.

Sekali lagi, mari kita tanamkan konsep la haula wa la quwwata illa billah di dalam setiap bentuk usaha kita agar ketika berhasil kita tidak lantas sombong, lupa daratan, dan tidak terpuruk ketika gagal.

Wallahu a’lam bishowab.

Friend Link

Bagi Teman-teman Yang pengen tukaran link, Silahkan Konfirmasi lewat komen atau yang lainnya, atau bisa juga berupa banner :



Silahkan copy-paste kode ini, lalu konfimasi ke saya
Oke ! Salam kenal semua ...


jurnal taqin >>>
Photobucket
ruang-ihsan >>>


Radio Mbs >>>
Photobucket



Saturday, August 7, 2010

Memperbarui Ikrar Syahadat


Syarat sah syahadat sebagai bukti keislaman kita ada tiga. Pertama adalah syahadat tersebut harus diucapkan dengan lisan. Walaupun ada orang misalnya dari pengikut agama lain sering mencoba melaksanakan ibadah-ibadah ritual kita, umpamanya ikut berpuasa di bulan Ramadhan, tetapi karena lisannya tidak pernah mengikrarkan persaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, maka orang tersebut belum termasuk di antara golongan orang-orang Muslim. Jadi pernyataan dengan lisan merupakan gerbang menuju ke dalam golongan Islam.

Syarat yang kedua adalah apa yang telah diikrarkan dengan lisan tersebut harus dibenarkan dengan hati. Seberapa pun seringnya bibir menggumamkan syahadat, tetapi apabila hati menolak pernyataan tersebut, maka ikrar persaksian tersebut dianggap batal. Mungkin di tengah-tengah kita banyak kita jumpai orang yang sekedar mengucapkan syahadat untuk tujuan-tujuan tertentu, untuk dapat sekedar diakui sebagai bagian dari golongan Islam yang kemudian agar sah sebuah pernikahan misalnya, padahal hatinya menyimpan niat jahat menolak pernyataan tersebut. Inilah munafik. Antara ikrar lisan dengan pernyataan hati terputus, tidak sejalan dan bahkan di dalam hati menolak pernyataan lisannya sendiri. Allah SWT menjelaskan prilaku orang seperti ini sebagai orang-orang yang:

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, "Kami telah beriman". Dan apabila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". (QS. 2:14).

Syarat terakhir adalah peryataan lisan tersebut hari dibuktikan dengan perbuatan. Yang namanya saksi akan selalu dimintai bukti-bukti penguat atas persaksiannya. Apabila sebuah persaksian yang tanpa disertai bukti yang kuat, maka otomatis pembuktiannya menjadi lemah dan inilah yang disebut dengan mengaku-ngaku. Seseorang yang mengaku beriman kepada Allah tetapi tidak menjalankan perintah-perintah-Nya bahkan melanggar larangan-Nya jelas dapat dikatakan sebagai saksi yang memiliki bukti yang lemah, sehingga persaksiannya tertolak.

Pernyataan lailaha illallah Muhammada rrasulullah memang merupakan kunci untuk masuk ke dalam anugerah Allah yaitu surga. Akan tetapi perlu diingat, kunci itu juga memiliki gigi-gigi. Apalah artinya sebuah kunci bila tidak bergigi. Nah gigi dari kunci untuk dapat membuka pintu surga ini adalah ketaatan, ketaqwaan terhadap pelaksanaan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Sekarang kita tanya diri kita masing-masing, konsistenkah apa yang kita ucapkan dengan apa yang kita yakini kebenarannya? Apakah antara pernyataan lisan, pembenaran dengan hati itu sejalan dengan perbuatan-perbuatan kita? Apabila ternyata masih terputus, tidak bersesuaian antara ketiganya, maka marilah mulai hari ini kita tanamkan niat untuk melaksanakan anjuran Rasulullah untuk selalu memperbarui syahadat kita.

Ya Allah bimbinglah kami untuk selalu berjalan di atas jalan yang telah Engkau ridhoi. Amien.

Wallahua’lam Bishowab

Tuesday, August 3, 2010

Mendidik Diri Mengenal Allah


Yang pertama kali ditangani oleh Rasulullah SAW dalam membina kaum muslimin generasi awal adalah pengenalan terhadap Allah sebagai Tuhan yang patut disembah dan membebaskan mereka dari penyembahan kepada selain Allah. Rasulullah mengajarkan kepada mereka siapa Tuhan sesungguhnya. Inilah yang disebut dengan makrifatullah, mengenal Allah. Tuhan Allah rabbil ‘alamin diperkenalkan kepada mereka dengan segala kemahaan-Nya dan semua sifat-sifat-Nya.

Rasulullah SAW, atas perintah Allah SWT, mendidik para sahabat dengan pengetahuan ketauhidan, pengesaan terhadap Allah jauh sebelum beliau mendidik mereka tentang kewajiban-kewajiban ritual, seperti sholat, puasa dll. Hal ini merupakan landasan yang kuat dari segala ketaatan beragama, ketaatan dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan dalam agama. Rasulullah mengetahui, apabila para sahabat sudah mengenal Allah, tidak menyembah kepada selain Dia dan memahami segala sifat-sifat Allah, maka segala ketaatan tersebut tidak akan membutuhkan pengawasan manusia karena memang pemahaman yang diajarkan oleh Rasulullah adalah Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Maka kita lihat hasil didikan Rasulullah adalah generasi yang benar-benar mengenal Allah. Di zaman Umar ra, seorang anak gembala, ya cuma anak gembala bukan anak sekolahan, bukan anak gedongan dirayu untuk menjual seekor kambing milik tuannya, yang pada waktu itu walaupun jumlah kambing yang digembalakannya beribu-ribu ekor, tetapi sewaktu dirayu untuk menjual satu ekor saja, anak gembala ini balik bertanya kepada Umar ra, kalau tuan saya tidak mengetahui, maka di mana Allah. Artinya si anak gembala ini ingin mengatakan kepada Umar bukankah Allah Tuhan sekalian alam ini sungguh Maha Mengetahui? Inilah salah satu bukti hasil didikan Rasulullah. Sebuah generasi yang walaupun ada kesempatan untuk berbuat maksiat, tetapi memiliki kepahaman yang mendalam bahwa Allah sungguh Maha Mengetahui.

Di saat sekarang pun seharusnya pemahaman seperti ini harus tetap menjadi sesuatu yang kita percayai. Konsep Allah SWT Maha Mengetahui dan Maha Melihat segala perbuatan kita akan cukup menjadikan kita orang yang istiqomah, tetap lurus dalam kebaikan. Sewaktu ada kesempatan untuk berbuat maksiat, terutama dalam keadaan sendiri, kita segera sadar, Allah selalu mengawasi kita. Kalau sudah begini yang ada dalam kesadaran kita, dalam keyakinan kita, penyakit-penyakit kronis dalam kemasyarakatan tentu tidak akan pernah timbul. Sewaktu baru dalam tataran niat saja kita akan bermaksiat kepada Allah, melanggar perintah-Nya kita segera memperingati diri bahwa Allah mengetahui bahkan niat yang baru terbersit di dalam hati.

Dua saja sifat Allah yang kita pahami yaitu Allah Maha Mengetahui dan Allah Maha Melihat akan cukup menjadi benteng bagi kita atas segala godaan untuk bermaksiat kepadaNya. Ketaatan terhadap perintah Allah akan didasari oleh keikhlasan dan bukan didasari oleh rasa sungkan terhadap atasan atau rekan sekerja atau siapa saja. Segala perintah agama kemudian, misalnya perintah sholat, puasa, zakat dll., tidak akan terlalaikan sebab ada keyakinan bahwa semua itu tercatat, diketahui oleh Allah SWT yang kemudian harus kita pertanggungjawabkan di hari kemudian.

Mari kita pahamkan diri bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat.

Wallahua’lam bishawab

Saturday, July 31, 2010

Tumbuh Suburnya Generasi Minimalis


Barang siapa yang akhir kalimatnya Lailaha illallah, maka ia akan masuk surga (Al Hadis).

Kalau setiap orang ditanya tentang keinginan masuk surga, sudah pasti tidak ada yang mengingkari. Setiap orang, terlepas dari bagaimana pun tingkat kepatuhannya terhadap perintah-perintah Ilahi, akan cenderung menginginkan surga baik untuk dirinya sendiri, keluarganya dan orang-orang yang dicintainya. Tentunya tidak terkecuali kita. Kita pun sangat menginginkan kehidupan surga dengan segala kenikmatan-kenikmatannya.

Akan tetapi tidak sedikit orang-orang yang menginginkan surga tersebut, atau bahkan mungkin kita sendiri, kurang tepat dalam menafsirkan hadis-hadis. Misalnya mereka sering merasa cukup dengan hadis yang kami kutip di atas sebagai landasan untuk dapat masuk surga. Dengan telah mengucap kalimat Lailaha illallah saja banyak orang beranggapan telah berhak atas jatah di surga. Mereka beralasan bahwa ada hadis yang mengatakan kalimat tauhid inilah kunci pembuka pintu-pintu surga. Dan memang benar ada hadis yang demikian. Ada hadis yang menegaskan bahwa kalimat Laillaha illallah ini merupakan kunci surga. Hanya kadang mereka lupa bahwa sebuah kunci pasti memiliki anak gigi. Kalimat Laillaha illallah tanpa diikuti bentuk ketaatan lain, seperti kewajiban rukun Islam atau ibadah lain akan laksana kunci tanpa gigi.

Itu contoh kecil. Contoh lain misalnya dalam mencari pahala dari tadarrus, membaca dan mengkaji Al Qur’an. Mereka merasa cukup dengan hadis yang maknanya menyatakan bahwa membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas sama dengan membaca seluruh Al Qur’an. Jadilah mereka penghapal dan pembaca setia tiga surat pendek ini. Ibadah sholat Jum’at secara fiqih, walau pun ada pertentangan, sudah memadai kalau dapat mengikuti sholatnya. Maka banyaklah orang yang ikut dalam kelompok, jamaah sholat Jum’at yang datang terakhir, yang hanya dapat sholatnya saja. Dan masih banyak contoh lain yang bermuara pada satu keyakinan, agama itu kan mudah, ambil saja yang gampang-gampang. Nah!

Adanya kelompok minimalis seperti ini sebenarnya cukup menyedihkan. Ada kecenderungan orang-orang seperti ini apabila berhadapan dengan prestasi keduniaan, merekalah yang paling melesat. Tetapi ketika berhadapan dengan perintah ibadah, mereka mengambil posisi sudah memadai ini. Mereka menekankan tentang profesionalisme kerja, tetapi sering lupa dengan profesionalisme ibadah. Padahal untuk urusan ibadah Allah juga menegaskan tentang perlunya berkompetisi.

Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Seungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah [2]:148).

Ups, dari tadi saya memakai kata ganti mereka. Tidakkah saya termasuk dalam golongan minimalis ini? Ini yang mestinya kita tanyakan pada diri sendiri.
Ya Allah, berikan kami rahmat-Mu karena tanpa rahmat-Mu tiadalah kami dapat masuk ke surga-Mu. Dan jadikan kami agar dapat lepas dari golongan minimalis ini, golongan yang meminta jatah surga dengan mengandalkan ibadah yang sedikit. Amien.

Friday, July 30, 2010

Ganti ucapan kotor jadi motivator


Hampir setiap kita pernah mengucapkan kata-kata tidak berguna dan kotor. Baik disengaja atau pun tidak. Motifnya pun beragam, namun yang lebih sering adalah untuk mengumpat atau mencela sesuatu yang tidak kita sukai. Padahal dalam tatakrama pergaulan yang selama ini kita jalani, hal itu termasuk sesuatu yang tidak baik, karena akan membuat luka di hati yang dikenai. Bahkan dalam jaran agama,hal seperti itu sangat dikutuk,karena akan merusak kehidupan bersosial-masyarakat.

Dalam ajaran agama, kita diajarkan bahwa setiap hal yang akan menggaggu ketentraman orang yang ada di sekeliling kita merupakan tindakan tercela. Nah, coba kita garis bawahi kata “mengganggu ketentraman”. Bila kita perhatikan istilah tersebut, maka segala sesuatu itu tercela bukan karena jenis perbuatannya, akan tetapi seberapa kekuatan perbuatan itu dapat mengganggu ketentraman orang lain. Apa pun jenis perbuatan itu. Termasuk di sini adalah perkataan yang kotor. Sekarang bila ditanya, mungkinkah perbuatan-perbuatan tersebut dapat diubah menjadi perbuatan yang lebih bermanfaat ?. sangat mungkin kalau menurut saya.
Setiap perbuatan itu tergantung apa yang menjadi niat awalnya, begitulah agama mengajarkan kepada kita, Nuklir akan menimbulkan akibat apa itu tergantung apa niat sang pengelola. Demikian juga dengan kata-kata kotor, tinggal kita ubah saja orientasi pemanfaatannya. Kalau biasa kita gunakan untuk menjatuhkan orang, bagaimana kalau sekarang kita gunakan kata-kata kotor iru untuk memotivasi orang.
Sekarang coba bandingkan dua kalimat berikut :
“Bodoh benar kamu ini, kerja seperti ini saja tidak selesai”
“Ayo cepat selesaikan pekerjaan itu, tidak maukan kalau kamu disebut bodoh hanya gara-gara tidak bisa selesai, ayo semangat !”
Nah, sama-sama menggunakan kata-kata tidak terpuji, tapi efeknya akan lain, ayo praktekkan, jadika diri kita selalu bermanfaat untuk orang lain, sekalipun kita adalah orang yang hobi berkata tidak terpuji :D

Wednesday, July 14, 2010

Ebook Tentang Internet

Asslamualaikum dunia blog, wah lama banget ga' nyentuh ne blog, jadi merasa gimana gitcu, sebagai bentuk ungkapan maaf ane, ta' posting ini aja dulu ya ! semoga bermanfaat. Ane punya sedikit koleksi ebook neh, moga manfaat, entar klo ada lagi, ta' kasih dah ... :D

- Pengantar pengkabelan dan Jaringan
- Mudah dan Murah Membuat Jaringan Internet
- Network Address Translation (NAT)
- Getting Email Client Yahoo.co.id with Thunderbird
- Pengantar XML
- Pengantar Domain Name System (DNS)
- Pengantar Jaringan ISP
- Panduan Setting Internet Dial Up Via HP GPRS
- Panduan Setting GPRS-MMS
- Menggambar Teknik Elektronika dan Layout pada PCB
- Membuat Windows Live CD
- Mengenal IP Versi.6
- Mengecek Proxy dengan PHP
- Mengenal Beberapa Fungsi PadaInternet Explorer
- Membuat Browsing di Internet Lebih Aman
- Mengamankan Komunikasi E-mail
- Membuat dan Memasang Favicon pada Web
- Mengenal Google Secara Mendalam
- Mengenal Infrastruktur Jaringan Komputer
- Membuat Kalender dengan PHP
- Istilah-Istilah Dalam MailingList Milis
- Internet Sebagai Media Sumber Belajar Matematika
- Kebijakan Privasi Yahoo
- Mastering Kode HTML
- Mastris Google
- Local Installation Source Tool
- Membangun Internet Service Provider (ISP)
- Membangun Network Kecil
- Membuat Akses Internet Murah untuk Sekolah
- Keamanan Sistem Informasi Berbasis Internet
- GPRS Setting
- Firewall
- Dasar-Dasar HTML
- Google Earth
- Dasar-Dasar Internet
- HTML and Java Script for Visual Learners
- Google adwords
- Dasar-dasar Penggunaan Google.com
- Buka Gmail Yahoo Mail di Outlook Express
- Basic HTML
- 15 Jenis Serangan Cracker
- 10 Pertanyaan Pokok Tentang Internet dan Intranet
- Arsitektur Informasi Membantu Pencarian Informasi di Web
- Comprehensive Guide to a Professional Blog Site
- 2 Jurus Ampuh Melawan Serangan Hacker
- Administrasi Jaringan Komputer Lintas Platform
- Aplikasi Internet
- Akses Interne tGratis dengan Antena Kaleng

Itulah beberapa koleksi Ebook tentang Internet yang ada di gudang "jurnal taqin", semoga bermanfaat,selamat menikmati ...

Friday, June 11, 2010

Susahnya Berubah


Ku tancapkan niat, ku percepat langkah, ku jauhkan pandangan,ku kobarkan semangat dan ku perbanyak bekal pendukung. Namun ujung-ujungnya ku jatuh terjerembab he3 :D. itulah sekilas gambaran sebuah gerakan perubahan yang biasa kita canangkan dalam diri kita masing-masing. Sepertinya memang perlu ada kajian lebih lanjut dan lebih mendalah mengenai keadaan di atas.

Keadaan seperti pada contoh di atas pasti banyak dialami oleh orang-orang yang selalu punya semangan perubahan. Etah mengapa hasil akhirnya masih banyak yang tidak sesuai harapan. Niat sudah mantap, langkah dan strategi sudah matang, pola pandang sudah sangat positif dan berwawasan, semangat sudah bekobar-kobar, serta bekal-bekal pendukung melimpah. Namun ujung-ujungnya berujung tanpa ujung yang jelas. Apa sebanarnya yang salah. Kalu sekedar hendak menebak-nebak, kayanya yang kurang adalah istiqomah atau komitmen (itu analisis pribadi sic...:D). Istiqomah atau komitmen itu ibarat sebuah perawatan bila kita sedang bercocok tanam. Tanpa proses pemeliharaan, mustahil tamanaman akan tumbuh seperti yang diinginkan. Terserah mau percaya atau tidak, hal ini haya sebatas analisis empiris. Bila ia silahkan dikomentari, bila tidak juga silahkan dikomentari :D.

Wednesday, May 12, 2010

Ambillah Waktu Untuk

Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan.

Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi.

Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.

Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.

Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.

Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.

Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.

Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti.

Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.

Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Nabi Muhammad SAW

Jauhilah dengki, karena dengki memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.

Nabi Muhammad SAW

Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia.

Nabi Muhammad SAW

Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian.

Nabi Muhammad SAW

Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal.

Imam Al Ghazali

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.

Khalifah 'Umar

Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan.

Ibnu Mas'ud

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.

Khalifah 'Ali

Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah.

Ibnu Mas'ud

Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu.

Khalifah 'Ali

Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku.

Khalifah 'Umar

Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.

Imam An Nawawi

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.

Khalifah 'Umar

Dia yang menciptakan mata nyamuk adalah Dzat yang menciptakan matahari.

Bediuzzaman Said Nursi

Penderitaan jiwa mengarahkan keburukan. Putus asa adalah sumber kesesatan; dan kegelapan hati, pangkal penderitaan jiwa.

Bediuzzaman Said Nursi

Kebersamaan dalam suatu masyarakat menghasilkan ketenangan dalam segala kegiatan masyarakat itu, sedangkan saling bermusuhan menyebabkan seluruh kegiatan itu mandeg.

Bediuzzaman Said Nursi

Menghidupkan kembali agama berarti menghidupkan suatu bangsa. Hidupnya agama berarti cahaya kehidupan.

Bediuzzaman Said Nursi

Seseorang yang melihat kebaikan dalam berbagai hal berarti memiliki pikiran yang baik. Dan seseoran yang memiliki pikiran yang baik mendapatkan kenikmatan dari hidup.

Bediuzzaman Said Nursi

Pengetahuan tidaklah cukup; kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup; kita harus melakukannya.

Johann Wolfgang von Goethe

Pencegahan lebih baik daripada pengobatan.

Johann Wolfgang von Goethe

Kearifan ditemukan hanya dalam kebenaran.

Johann Wolfgang von Goethe

Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang.

Einstein

Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian.

Einstein

Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya; hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang.

Einstein

Dua hal yang membangkitkan ketakjuban saya - langit bertaburkan bintang di atas dan alam semesta yang penuh hikmah di dalamnya.

Einstein

Apa yang saya saksikan di Alam adalah sebuah tatanan agung yang tidak dapat kita pahami dengan sangat tidak menyeluruh, dan hal itu sudah semestinya menjadikan seseorang yang senantiasa berpikir dilingkupi perasaan "rendah hati."

Einstein

Sungguh sedikit mereka yang melihat dengan mata mereka sendiri dan merasakan dengan hati mereka sendiri.

Einstein

Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna.

Einstein

Tidak semua yang dapat menghitung dapat dihitung, dan tidak semua yang dapat dihitung dapat menghitung.

Einstein


Nabi Muhammad S.A.W. bersabda:"Ada 4 yang di pandang sebagai ibu,"yaitu: Aug 27, '07 12:38 AM
for everyone


1.Ibu dari segala OBAT adalah SEDIKIT MAKAN.

2.Ibu dari segala ADAB adalah SEDIKIT BERBICARA.

3.Ibu dari segala IBADAT adalah TAKUT BERBUAT DOSA.

4.Ibu dari segala CITA-CITA adalah SABAR.

Tuesday, May 11, 2010

Amal yang Tetap Bermakna


Berhati-hatilah bagi orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan, jadi meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan Alloh datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuan bersenang-senangnya bersama Alloh malah menghilang.

Bagi yang amalannya temporal, ketika menjelang pernikahan misalnya, tiba-tiba saja ibadahnya meningkat, sholat wajib tepat waktu, puasa sunnah dijalani, dan bahkan tahajjud pun tampak khusyu’. Tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajjud, sholat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam bertaqarrub kepada Alloh sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.

Ketika berwudhu, misalnya, ternyata di samping ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu kita pun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.

Atau ketika menjadi imam sholat, bacaan Qur’an kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika sholat sendiri, sholat kta menjadi kilat, padat, dan cepat. Kalau sholat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus.

Hati-hatilah bisa jadi ada sesatu di balik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya jika diberi kesenangan maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.

Hal yang berbeda dengan hamba-hambaNya yang telah mencapai maqam ikhlas, maqam di mana seseorang hamba mampu beribadah secara istiqomah dan terus menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan Alloh. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmatNya ini.

Orang-orang yan ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain yang memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani.

Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini. Betapa tidak? orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan sunnah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus.

Berkaitan dengan niat ini seorang ulama ahli hikmah ini berkata, “Terkadang amal yang sedikit menjadi banyak oleh sebab niat, dan sebaliknya kadangkala amal yang banyak menjadi sedikit hasilnya, juga karena niat!”

Pantaslah bila Yahya bin Abi Katsir menganjurkan kepada kita untuk senantiasa mempelajari dan mengetahui akan pentingnya niat ini dalam beramal, dia berkata,”Pelajarila h niat, karena ia lebih menyampaikan kepada tujuan ketimbang amal.”

Rasululloh SAW sendiri menasihatkan kepada kita, “Bahwa sesungguhnya amal itu tergantung kepada niatnya, dan bagi seseorang adalah apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang niat hijrahnya adalah kepada Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Alloh dan RasulNya. Dan Barangsiapa yang hijrahnya karena ingin dunia atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu adalah kepada apa yang ditujunya.” (H.R Bukhari)

Maka bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada Alloh saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, “Bismillahirrohmanir rohim, ya Alloh semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan.” Lisannya yang bening senantiasa memuji Alloh atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada Alloh.

Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak mendapatkan pertambahan nilai apa pun selain menaruh (maaf!) pantat di kursi. Tidak usah heran bila suatu saat Alloh memberi pengingatan dengan sakit ambeyen atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk adalah anugerah nikmat yang Alloh karuniakan kepada kita.

Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya di lubuk hati yang paling dalam kita meyakini bahwa Alloh-lah yang memberi makan tiap hari, tiada satu hari pun yang luput dari limpahan curahan nikmatnya.

Kalau membeli sesuatu, perhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan karena Alloh. Ketika membeli kendaraan, niatkan karena Alloh. Karena menurut Rasululloh SAW, kendaraan itu ada tiga jenis, 1) Kendaraan untuk Alloh, 2)Kendaraan untuk syaitan, 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya? kalau niatnya benar, dipakai untuk mashlahat ibadah, mashlahat agama, maka inilah kendaraan untuk Alloh. Tapi kalau sekedar untuk pamer,riya, ujub, maka inilah kendaraan untuk syaitan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya sendiri, misalkan kuda dipelihara, dikembangbiakkan, dipakai tanpa niat, maka inilah kendaraan untuk diri sendiri.

Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah karena Alloh. Karenanya bermohonlah hanya kepada Alloh, “Ya Alloh saya butuh kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah.” Subhanalloh bagi orang yang telah meniatkan seperti ini, maka, bensinnya, tempat duduknya, shockbreaker-nya, dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam timbangan kebaikan insyaAlloh. Sebaliknya jika digunakan untuk maksiat, maka kita jugalah yang akan menanggung balasan dosanya.

Kedasyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum mengamalkannya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat, misalkan hati sudah bulat meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, “Ya Alloh saya ingin tahajud, bangunkan jam setengah empat pagi ya Alloh Weker pun diputar, istri diberi tahu bahwa jam setengah empat kita akan tahajud. “Ya Alloh saya ingin bersujud kepada-Mu di waktu ijabahnya doa.” Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun tahajud.

Sayangnya, ketika terbangun ternyata sudah adzan subuh. Bagi hamba yang ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian sholat tahajud dan gembira karena ia masih kebagian pahalanya. Bagi orang yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh Alloh, maka kalau ia sudah bertekad, Alloh pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin Alloh tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras banyak tenaga. Alloh Maha tahu apa yang akan terjadi, Alloh juga Mahatahu mungkin kita telah defisit energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya Alloh-lah yang menidurkan kita dengan pulas.

Sungguh apa pun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapat balasan pahala yang setimpal. Tidak tergantung pula pada besar kecilnya amalan tersebut. Subhanalloh

Wallohu ‘alam bi showab