Assalamu'alaikum ... Selamat Datang ... Semoga Blog Ini Bisa Memberi Manfaat ... Jangan Bosan Untuk Kembali lagi ^_^

Saturday, February 22, 2014

Kepala Sekolah Rumah

Kepala itu visioner, kepala itu konseptor. Begitulah ungkapan yang berkumandang dar ilmu kepemimpinan. Kalau dilihat dari pembahasan sebelumnya tentang Rumahku Sekolahku, maka seorang bapak adalah kepala sekolah di rumahnya sendiri. Lalu bagaimana peran kepala sekolah rumah ni di rumahnya sendiri ?. Pertanyaan ini harus dijawab dengan tndakan cerdas dan profesional bila kita mengiginkan rumah kita melahirkan orang - orang berkualitas. Gurunya berkualitas, peserta didiknya juga berkualitas.
Modal utama seorang pemimpin adalah seni kepemimpinan itu sendiri. Ini menjadi modal untuk menuju langkah selanjutnya. Kemudian, pemimpin itu punya cita-cita, punya visi yang ingin dicapai di kemudian hari. Setelah punya cita-cita, maka pemimpin harus cerdas mengaplikasikan cita-cita dalam kehidupan nyata. Maka diperlukan misi-misi cerdas untuk menunjang terlaksananya cita-cita. Di sinilah kecerdasan pemimpin semakin diuji. Bagaimana iya membuat konsep, mensosialisaskan konsep, mensinergikan konsep dengan patnernya, menjalankan konsep, membuat sebuah keterpaduan dan integritas antara konsep, pelaksana, penerima, penikmat dan hasil yang diinginkan. Kemudian ketelitian dalam mengontrol, mengawasi dan mengevaluasi. Disinilah kemudian akan muncul kebahagiaan jika semuanya berjalan dengan dengan seni kepemimpinan yang indah. Sehingga tidak ada kesan kemudian bahwa menjadi seorang bapak itu biasa-biasa saja. ni berarti kita seperti orang mengembala, kemudian kita hanya duduk di bawah pohon tanpa memperhatikan apa yang terjadi dengan gembalaan, atau bahkan kita tidur. Setelah bangun, kta dapati gembalaan kita melakukan sesukanya, kemudan ssetelah semua terjadi kita salahkan pohon, kita salahkan rumput, kita salahkan pagar bahkan kita salahkan gembalaan kita. Akan tidak lucu jadinya. Oleh karenanya wahai para bapak, wahai para suami, sadarilah mulai saat ini bahwa anda-anda adalah pemimpin. Berfikirlah, bergeraklah dan berbahagialah dari apa yang kita hasilkan. WalLohu'alam

Rumahku Sekolahku

Kalau berbicara tentang sekolah, saat ini sudah berbagai macam jenisnya ada di sektar kita. Mulai dari yang paling unggul sampai yang paling sederhana. Mulai dari yang bercorak nasionalis sampai yang bercorak agamis. Lalu kemana akan kita sekolahkan anak kita. Maka jawabannya adalah sekolah mana yang kita nilai terbaik dan paling cocok untuk anak kita. Namun, sebelum kita titipkan anak kita ke sekolah yang menjadi pilihan kita, perlu kita sadari bahwa, kesuksesan anak kita tidak serta merta menjadi tanggung jawab sekolah. Akan tetapi ada yang paling bertanggung jawab sebelum itu. Tiada lain dan tiada bukan adalah kta sendiri sebagai orang tua di rumah.
Setelah beberapa tahun terakhir, ane ikut serta dalam lembaga penyelenggara pendidikan, yaitu sekolah. Ada prinsip yang menjadi pembelajaran buat ane pribadi, yang ane rasa perlu kita ilmui bersama. Yaitu, hampir rata-rata anak yang memiliki keunggulan diberbagai bidang itu bukanlah berasal dar pencapaian sekolahnya. Akan tetapi merupakan kemampuan bawaan yang ia bawa dari rumahnya. Hal ini menunjukkan bahwa, faktor utama keunggulan seorang anak dalam bidang apa pun adalah rumahnya. Sehingga dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa, sekolah terbaik dan yang pertama bagi seorang anak adalah rumahnya. Yang dikelola oleh seorang guru yang bernama Ibu, dan dipimpin oleh kepala sekolah yang bernama Bapak. Ane pernah ikut sebuah seminar pendidikan, di stu ada pelajaran yang selalu ane ingat yang disamapaikan oleh pematerinya, yaitu "Jangan anda dzolimi/aniaya guru di sekolah anak anda dikarenakan anak anda belum layak masuk ke sekolah itu, maksudnya, anak anda belum anda persiapkan untuk memasuki jenjang sekolah itu, sebelum dia dipersiapkan di rumahnya". Dalam Islam sendiri kita diingatkan bahwa, setiap anak yang lahir adalah ftrah, kemudian orang tuanyalah yang memberi warna. Kemudian dilain hal juga diingatkan bahwa, anak adalah amanah yang harus dijaga oleh orang tuanya. Dan masih banyak pesan yang lain. Sehngga ini harus menjadi perhatan utama bag orang tua dan calon orang tua, bahwa masa depan anak yang dilahirkannya itu tergantung kepada mereka. Bagi calon orang tua, melahirkan anak hebat itu harus sudah terencana sebelum berniat memilikinya. Karena ni adalah proses panjang. Jika ngin mendapatkan yang luar biasa, maka persapannya harus luar biasa pula. Sehingga tidak ada kemudian, harapan tidak sampai, saling menyerahkan dan saling menyalahkan. Dikarenakan tidak paham dengan prinsip yang sangat penting ini. Sekali lagi, SEKOLAH PERTAMA dan UTAMA bagi anak kita adalah RUMAHNYA. GURU PERTAMA dan UTAMA adalah orang tuanya. Setelah itu, jenjang berikutnya akan mudah untuk dilalui. Setiap orang tua harus bisa membuat sebuah konsep RUMAHKU SEKOLAHKU, bahkan sejak awal menikah. Bapak sebagai Kepala sekolahnya, dan Ibu sebagai guru kelasnya. Sehingga akan lahir anak-anak berkualitas dan berkarakter hasil dari sekolah pertamanya. WalLohu'alam

Thursday, January 9, 2014

Ayo Mengontrol

Ada sebuah pelajaran menarik dari cerita Penggembala. Mungkin sebagian kita pernah menyaksikannya. Atau bahkan kita pernah mengalaminya. Para Nabi Alloh saja sebelum diutus semua memiliki pengalaman menggembala.
Apa pun yang digembalakan semua memiliki tujuan dan manfaat yang tidak jauh berbeda. Oleh karenanya, perlu kita pelajari ada apa dengan menggembala.

Bersambung .....

Monday, January 6, 2014

Cerdas Menggunakan Alat

Sudah menjadi pengetahuan kita bahwa Alloh SWT menciptakan manusia dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang super lengkap. Baik dalam bentuk siap pakai, maupun yang harus melalui proses terlebih dahulu. Saat ini pun sudah semakin maju, ada fasilitas yang terlihat dan ada yang tidak terlihat. Itu baru dalam pandangan bentuknya. Belum kita pandang dari sisi yang lebih beragam.
Namun, apa pun fasilitas itu, semua merupakan alat pelengkap yang digunakan untuk menopang hidup atau untuk membantu mencapai tujuan.
Yang namanya alat, ia akan bergerak sesuai dengan kehendak pemegangnya. Sehingga apa pun yang akan dihasilkan, maka pemegangnya yang menentukan. Begitu pula nilai yang dihasilkan, bukan si alat yang menghasilkan nilai, atau bukan si alat yang memiliki nilai, atau pun bukan si alat yang akan dinilai, tapi pemegang dan pengendalinya.
Sebagai contoh adalah pisau, ketika dia di tangan tukang masak, maka ia akan membantu menghasilkan berbagai macam makanan lezat. Tapi bila berada di tangan orang jahat, maka ia akan melukai banyak orang.
Semua alat akan memiliki prinsip yang sama seperti contoh di atas. Sehingga disinilah manusia memerlukan kecerdasan dalam menggunakannya. Apa pun alatnya.
Kadang banyak fenomena  lucu, ketika atas nama agama kita mengharamkan penggunaan sebuah alat dikarenakan banyak orang yang menyalahgunakan alat itu, sehingga ketika alat itu digunakan oleh musuh kita dalam mencapai pemenangan strategi, kita tidak bisa menggunakannya karena fatwa kita sendiri. Coba bayangkan, karena banyak penjahat beraksi dengan pisau, akhirnya diharamkan menggunakan pisau. Bagaimana nasib ibu-ibu yang harus menggunakan pisau untuk memotong daging.
Contoh lain, karena banyak ditemukan konten negatif di internet, lalu kemudian kita mengharamkan penggunaan internet, akan jadi lucu terdengar, karena internet sekarang sama seperti tangan dan mulut yang berfungsi sebagai penyebar informasi, apakah kemudian kita juga mengharamkan penggunaan tangan dan mulut kita.
Ayo kita cerdas menggunakan alat-alat yang ada di tangan kita. Gunakan ia untuk menghasilkan kebaikan dan manfaat, untuk memperkuat ibadah kepada Alloh SWT, jangan sampai alat-alat itu menghasilkan bahaya dan mudarat, atau mungkin merusak ibadah kita kepada Alloh SWT. Yuk jadi cerdas.

Saturday, December 28, 2013

Menghidupkan Hati yang Galau

Oleh Ust. Ahmad Muzaini, S.Pd.I

Dalam kehidupan sehari, kita sering mengalami berbagai hal yang mana hal itu dapat menyebabkan "kegalauan" hati.
Ada beberapa tips yang diberikan oleh Aa' Gym dalam menghidupkan hati yang galau, gundah gulana, yaitu;

1. Merasa Bersaudara
Dengan merasa bersaudara, maka akan ada perasaan untuk saling membantu. Kalau ada teman yang memerlukan bantuan, maka hati kita akan disibukkan untuk ikut membantunya. Demikian pula ketika kita yang memerlukan bantuan, maka teman kita tidak akan berat untuk membantu kita, karena kita suka membantu dan kita bersaudara.

2. Mengingat Budi Baik Orang Lain
Dengan mengingat budi baik orang, kita akan selalu merasa senang dan bersyukur. Kemana pun kita pergi, kita akan merasa bahagia tanpa beban dan merasa tidak punya musuh.

3. Meraba Penderitaan
Dengan meraba  penderitaan orang lain, kita akan disibukkan untuk selalu peduli dan selalu bersyukur atas apa yang kita miliki. Dan juga kita akan dikaruniakan kecerdasan hati.

Thursday, December 26, 2013

Lembut tapi Tegas

Dalam kehidupan sehari-hari sebagian orang kadang susah membedakan antara ketegasan dan kekerasan, padahal keduanya berbeda. Memang terkadang sebagian orang menggunakan kekerasan untuk menerapkan ketegasan, namun efeknya akan mudah hilang ketika kekerasannya hilang, karena ketegasannya dihasilkan oleh adanya rasa takut, ketika rasa takut hilang maka ketegasannya pun hilang.
Untuk bisa mencipkan sebuah ketegasan yang baik. Maka kita harus awali dengan yang baik, menggunakan proses yang baik, dan dengan itu akan menghasilkan sesuatu yang baik.
Pada intinya, ketegasan adalah sikap yang kuat untuk mempertahankan segala sesuatu di tempat yang sebenarnya dengan berbagai macam cara.
Nabi Muhammad saw adalah orang yang sangat tegas terhadap semua aturan hidup yang telah dibuat Alloh SWT, dan Nabi Muhammad saw juga merupakan orang yang paling lembut kepada ummatnya. Pola ini harus kita teladani, bagaimana memadukan antara ketegasan dengan kelembutan, dan belajar untuk meninggalkan keterpaduan antara  ketegasan dan kekerasan. Penerapannya cukup sederhana, kita ingat pola awalnya adalah "sikap kuat untuk mempertahankan segala sesuatu pada tempat yang benar", jalankan itu dengan tanpa kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal. Berikan pelayanan terbaik kepada setiap kebaikan, namun jangan pernah kompromi kepada suatu kejelekan sekalipun kecil dan sangat kecil.
Selamat mencoba. Semoga sukses

Jujur itu Membahagiakan

Seorang ayah sedang berusaha membuka buah durian. Agar tangannya terlindungi dari goresan duri, ia menggunakan kaos kaki pada kedua tangannya. Melihat hal itu anak laki-lakinya berkata, "Ayah, itu kaos kaki aku, bukan untuk membuka durian!". Mendengar ungkapan protes anaknya, sang ayah berkata, "Wah, ayah kira ini lap". Anak itu kemudian pergi dan membawa lap. "Ayah ini lap, itu kaos kaki aku!".
Seorang ayah sedang berada di hadapan komputer bersama anaknya. Tak lama kemudian telepon selulernya berdering, lalu bercakap-cakap. Temannya itu menanyakan apa yang sedang dilakukannya. Ayah anak itu berkata bahwa dia sedang membuat program komputer. Tak lama kemudian teleponnya ditutup. Anak laki-laki yang memperhatikan ayahnya berkata, "Ayah seharusnya mengatakan bahwa ayah sedang main game bukan sedang membuat program". Lalu anak itu meminta ayahnya untuk menelpon lagi temannya dan mengatakan yang sebenarnya.
Dua kisah nyata di atas, sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak usia dini dimana pun secara fitrah cenderung mengatakan apa adanya. Sedangkan orang dewasa dengan berbagai alasan kadang tidak berkata sesuai fakta. Dalam beberapa kasus, orang  dewasa melakukan hal itu karena pembelaan diri, seperti pada kisah pertama di atas.
Lalu apa akibatnya yang terjadi pada si anak. Tentu saja anak akan belajar dari peristiwa dan pengalaman sehari-hari. Pada kisah kedua, sang ayah bersedia meralat ucapannya pada temannya, si anak akan belajar bahwa terkadang manusia melakukan kesalahan dan bisa meminta maaf. Namun jika orang tua tidak mau atau berat untuk meralat, maka anak akan belajar bahwa terkadang kita bisa menjawab tidak sesuai fakta. Itu adalah awal pelajaran ketidakjujuran,, dan jika seri ng terjadi akan membentuk karakter pembohong.
Orang tua memang harus menanamkan kewibawaan, namun kewibawaan itu harus berdiri di atas kebenaran, jangan sampai kewibawaan itu berdiri di atas ketidakjujuran.
Sumber : Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2013

Thursday, August 8, 2013

SMS Backup & Restore di Android

Bagi Teman-teman yang suka oprek-oprek Android, tentu tidak asing lagi dengan proses Reset, format dan wipe data. Proses ini tentunya akan menghilangkan data-data telephone dan SMS. Nah, ini aplikasi sangat cocok tentunya untuk selalu dimiliki. Namanya SMS Backup dan Restore. Aplikasi khusus untuk Bakcup dan Restor/Recovery data SMS. Sebelum Flashing HP jangan lupa Backup dulu data SMSnya. Setelah Flash selesai tinggal direstore saja. Semriwiiiiing ... data SMS kembali seperti semula, kalau tidak ada error proses ... Kalau berminat bisa download aplikasinya di sini, atau bisa tengokin di Play Store. Selamat ber-oprek ria

Tuesday, July 30, 2013

Pembiaran Itu Berbahaya

Mungkin sebagian kita pernah melihat ada anak-anak yang melakukan berbagai hal unik, menarik, menghawatirkan, bahkan dinilai berbahaya namun orang tuanya diam saja, merasa biasa tanpa ada rasa khawatir dan tanpa tindakan.
Ada yang naik di meja, naik jendela, panjat pagar, panjat rangka bangunan yang sedang dibangun, bahkan panjat jendela  bus dan keluarkan kepala keluar bus yang sedang laju, sedang orang tuanya hanya diam tanpa merasa khawatir atau merasa bersalah disaat anaknya melakukan kesalahan.
Kalau ditela'ah lebih dalam, sebagian kita beranggapan hal itu tidak bermasalah. Bahkan mungkin kita tidak merasa ada apa-apa dalam hal demikian alias itu kegiatan hidup biasa saja. Namun tidak untuk sebagian orang yang sangat teliti tentang pendidikan anak di dalam keluarganya. Sekecil apa pun yang dilakukan sang anak tidak akan lepas dari pengawasannya dan tidak akan sunyi dari tegurannya. Karena mereka sadar bahwa setiap kegiatan anak adalah pembelajaran.
Ketika anak melakukan sebuah pekerjaan maka sejatinya dia sedang menimbang sebuah nilai, ketika orang tua diam, berarti itu akan menghasilkan sebuah penilaian bahwa apa yang dilakukan adalah baik dan disetujui. Ketika pekerjaan itu mendapat pujian, maka akan menghasilkan sebuah penilaian bahwa apa yang dilakukan itu istimewa. Ketika pekerjaan itu mendapatkan teguran, maka akan menghasilkan sebuah penilaian bahwa apa yang dilakukan itu salah.
Inilah bukti nyata bahwa pendidikan itu dari buaian hingga liang lahat, dalam artian menyeluruh, tanpa henti dan tanpa celah.
Kadang kita sering menyaksikan ada anak yang begitu ringannya membentak temannya, padahal ada orang tuanya di sanpingnya. Ada juga yang sering mengucapkan perkataan kotor. Ada yang terbisa berprilaku negatif (dalam penilaian lingkungan sosial) padahal di lingkungan sekitarnya itu merupakan hal yang negatif.
Bayangkan saja kalau setiap perbuatan yang dilakukan anak kita diamkan, kita biarkan, maka dia akan membentuk penilaian sendiri terhadap setiap yang dilakukan. Syukurnya kalau itu perbuatan positif, bagaimana kalau perbuatan negatif. Tidak dapat dibayangkan, anak kita melakukan berbagai macam pelanggaran tanpa merasa kalau itu kesalahan. Maka kita akan melahirkan generasi yang selalu merasa benar sekalipun mereka bersalah.
WalLohu 'alam