Assalamu'alaikum ... Selamat Datang ... Semoga Blog Ini Bisa Memberi Manfaat ... Jangan Bosan Untuk Kembali lagi ^_^

Friday, September 16, 2011

Kepemimpinan Islam

Hai orang-orang yang beriman, ta’aitilah Alloh dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (alQur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4. Annisaa:59)

Di dalam ayat tersebut, sebelum kata Alloh dan Rasul-Nya didahului kata ‘athi’u yang berarti taatilah, sedangkan sebelum kata ulil amri tidak disebutkan kata ‘athi’u. Menurut para mufassir itu merupakan isyarat bahwa keaatan kepada ulil amri itu sanat ditentukan oleh bagaimana ketaatan pemimpin itu kepada Alloh dan RasulNya. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bersifat mutlaqoh (tanpa syarat), sedangkan ketaatan kepada ulil amri bersifat muqayyadoh (bersyarat). Pada masalah yang sama Rasululloh Sho1lal1ahu Alaihi Wa Sallam menetapkan sebuah kaidah ketaatan, dalam sabdanya: “la tha’atan lil makhluqin fi ma’shiyatil Khaliq”, artinya tiada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq (Alloh).

Kewajiban hidup dalam suatu tatanan dimana ada pemimpin dan ada yang dipimpin sangat jelas dalam Islam. Karena di dalam hadist yang lain Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Tidak halal (dibenarkan) bagi tiga orang muslim yang berdiam di suatu tempat, kecuali apabila mereka memilih dan mengangkat salah satu di antara mereka sebagai pemimpin.” (HR Abu Daud).

Dari ayat dan kedua hadist tersebut jelas bahwa memilih pemimpin adalah kewajiban agama yang tidak boleh diabaikan, dan partisipasi umat Islam dalam memilih pemimpin merupakan bagian dan ibadah kepada Alloh yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Selain itu bila ada 3 orang kaum muslimin berkumpul maka salah seorang wajib dijadikan pemimpin bagi mereka. Menurut lbnu Taimiyah, tujuan kepemimpinan adalah memperbaiki segi-segi duniawi yang sangat erat hubungannya dengan agama: pertama, membagikan harta antara siapa-siapa yang berhak menerimanya, dan yang kedua, menghukum orang-orang yang melanggar ketentuan undang-undang. Ummat Islam wajib memilih yang terbaik untuk melaksanakan kepemimpinan, dan Berdasarkan Al Qur’an, hadist, dan pendapat para ulama, seseorang dikatakan layak menjadi pemimpin jika memenuhi sepuluh muwashofat (karakter) berikut:

Pertama, salimul aqidah (bersih akidahnya):
Seorang pemimpin harus memiliki keimanan yang kokoh, bersih dari sifat-sifat syirik, dan menghukum dengan hukum yang tidak bertentangan dengan hukum-hukum Alloh . Kebersihan aqidah ditandai dengan keimanan yang kokoh terhadap rukun iman dan keyakinan kepada Tauhidulloh. Selalu mengikhlaskan niat dalam setiap tindak tanduknya.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.(al baqoroh 177)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, Ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (Qs annisa 36)

Kedua, shahihul ibadah (benar ibadahnya):
Seorang pemimpin harus menjalankan hidup dalam rangka ibadah, baik secara khusus maupun umum. Dia harus mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di Bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadha haji ke Baytullah. Karena dia wajib menjalankan kepemimpinannya sebagai bagian dari pengabdian, ketundukan, dan ketaatannya kepada Alloh Ta’ala, sehingga ia menjalankan kepemimpinan tersebut dengan ikhlas dan ihsan (professional), sebagaimana sabda Rosululloh Shollailahu Alaihi Wa Sallam “Sesunguhnya Allah mewajibkan ihsan terhadap semua urusan.”

Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (Maryam 65)

Ketiga, matinul khuluq (kokoh akhlaknya):
Seorang pemimpin harus jujur (siddiq) dan menjadi qudwah atau contoh yang baik bagi rakyatnya. Dari segi moralitas Dia menjalankan kepemimpinan dengan penuh amanah, adil, hikmah , empati, tidak mengancam, menindas, dan menyakiti hati rakyat. Jangan jadi pemimpin ummat jika masih suka bermaksiat baik secara sembunyi-sembunyi apalagi terang-terangan.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (Al ahzab 21)

Keempat, qadirun ‘alal kasbi (mandiri dan produktif):
Seorang pemimpin harus kompeten, mampu menunjukkan kreativitas dan potensi yang dimilikinya. Kalau pekerjaan kecil saja membutuhkan inovasi dan dinamisasi, apalagi pekerajan memimpin negara. Seharusnya dia memiliki inisiatif mensejahterakan dan memakmurkan rakyatnya dengan program-program ekonomi yang tepat.

(siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri[621], dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Al anfal 53.)

Kelima, mutsaqaful fikri (luas pemikirannya):
Seoran9 pemimpin harus cerdas (fathonah), visioner memiliki wawasan yang luas, yang mencakup pengetahuan tentang administrasi negara. politik, hukum, dan agama. sehingga membuatnya mampu berijtihad terhadap kasus-kasus dan hukum-hukum. Dengan karakter mutsaqaful fikri ini juga seorang pemimpin harus komunikatif (tabligh), mampu menyampaikan ide dan gagasannya dapat difahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

Keenam, qowiyul jismi (kuat fisiknya):
Seorang pemimpin dituntut memiliki fisik yang kuat tida lamban, loyo, atau mudah ngantuk. Adalah kebiasaan Rosululloh Shollallahu Alaihi Wa Sallam jika beliau ingin mengangkat seseorang menjadi panglima perang, maka disuruhnya orang tersebut menjadi imam sholat dan melakukan khutbah. Karenanya tatkala Rosul Shollallahu Alaihi Wa Sallam menyuruh Abu Bakar tampil menjadi imam, maka kaum Muslimin mengangkatnya pula sebagai pemimpin perang. Imam sholat menunjukkan adanya jaminan moral, sedangkan pemimpin perang menunjukkan jaminan kekuatan fisik, keberanian dan ketegasan. Maka seorang pemimpin harus tegas dan berani menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Ketujuh, mujahidun Iinafsihi (bersungguh-sungguh mengendalikan dirinya):
Seorang pemimpin harus bersungguh-sungguh dan mampu mengendalikan hawa nafsunya, tidak otoriter, arogan, dan memaksakan kehendak kepada orang lain . Dia harus menjauhi sifat pemarah atau sifat egois (mementingkan din sendiri), selalu harus tertanam dalam dirinya bahwa ia merupakan “khodimul Ummah” (pelayan ummat).

40. Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
41. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). (an Naaziat)

Kedelapan, munazhamun fi syu’unihi (mampu menata semua urusannya):
Seorang pemimpin harus mampu mengatur semua urusannya dengan baik, mampu mengelola potensi anggota atau bawahannya, serta mampu bermusyawarah dengan baik. Pemimpin yang tidak mampu mengurus (memenej) akan menimbulkan kekacauan.

Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadist yang sudah sangat sering kita dengar mengatakan bahwa, "Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak memiliki kapasitas untuk mengembannya), maka tunggulah saat kehancurannya" (H. R. Bukhari bab Ilmu).

Kesembilan, haritsun ‘ala waqtihi (mampu memelihara waktunya):
Seorang pemimpin harus mampu memelihara waktunya dengan efektif dan efisien, tidak lalai dan melakukan perbuatan yang mubazir. Pemimpin memberikan waktunya untuk kepentingan ummat dan bangsanya meskipun juga perlu menjaga keseimbangan waktu untuk diri dan keluarganya. Pemimpin yang sholeh dan efektif digambarkan Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam sebagai “ruhbanun bil lail wa fursanun bin nahar”, seperti rahib di malam hari dan seperti penunggang kuda di siang hari

Kesepuluh, nafi’un Iighairihi (bermanfaat bagi orang Iain) :
Seorang pemimpin tidak boleh egois dan harus mementingkan kemaslahatan umat dan rakyat di atas kepentingan pribadi, keluarga atau kelompok, sehingga ia dicintai oleh rakyatnya. Dalam satu hadist Rosululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam bersabda:
“sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.” Rasululloh Shollallohu Alaihi Wa Sallam juga menjelaskan bahwa salah satu kriteria pemimpin yang baik yaitu;
“kalian mencintai mereka (pemimpin), dan merekapun mencintai kalian. Kalian mendo’akan mereka dan mereka pun mendo’akan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian pun membenci mereka, kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian “.(HR Thabrani).


Thursday, September 15, 2011

Menuju Pintu Cerita-cerita

Oleh : Hermanto
from kumpulan Puisi

Aku berjalan menuju pintumu
Lalu kuketuk dengan lembut
“Siapakah di luar ? Temanku atau Kekasihku ?”
tanyamu dari dalam.
“Aku adalah Temanmu”, sahutku
“Ini Aku bawakan cerita masa lalu dan sedikit masa depan kita”
“Mari duduk di sampingku, ceritakanlah semuanya padaku“, pintamu.
Cerita-ceritapun mengalir dengan sederhana
sehingga wajahmu berubah ceria, tiba-tiba sedih
kemudian tertawa lagi untuk menangis kembali
hingga berulang pada akhirnya,
menyisakan pertanyaan di hati akan
kelanjutan sedikit cerita-cerita masa depan.
“Esok aku akan datang kembali”, janjiku

Besoknya aku berjalan kembali menuju pintumu
Lalu kuketuk agak keras.
“Siapa di luar ? Temanku atau Kekasihku ?”
tanyamu seperti kemarin.
“Aku adalah Kekasihmu”, sahutku
“Ini Aku membawa lanjutan panjang cerita-cerita masa depan kita”
“Masuklah dan duduklah di hadapanku, aku sudah tidak sabar mendengarnya”, pintamu.
Ceritaku-ceritakupun mengalir dengan sederhana
Dengan hanya sebaris kata :
“Aku ingin kamu yang menjadi penyempurna dienku”
Kamupun tersenyum lalu menangis
dan berkata : “Besok kamu tidak perlu menuju pintu ini, karena pintu ini telah menjadi milik kita”
Besoknya kita bersama-sama menuju pintu penyempurna
dien karena inilah saatnya seperti cerita-cerita masa depan kita

Film Kekerasan dan Agresifitas Anak

Saat ini, pengaruh media terhadap anak sudah berada pada tahap menghawatirkan. Sebanyak 83 persen anak-anak di bawah usia 6 tahun menggunakan media layar. Kondisi ini dinilai oleh Psikolog anak sebagai keadaan yang mencemaskan dan perlu mendapat perhatian serius. Sebab selain mengurangi jam tidur yang berakibat mengganggu kesehatan, juga mempengaruhi psikologi mentalnya. “Bahkan anak-anak pra-sekolah menghabiskan minimal 4 jam setiap hari untuk menyaksikan tayangan televisi, DVD Player, Video Game, dan komputer”, kata Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatra Utara (USU), Prof. Dr. Chairul Yoel, SpA(K) pada seminar “Anak Perlu Diet Media” di hotel Garuda Plaza Medan, Sabtu (19/7). Dokter spesialis anak dan Konsultan ini menyebutkan, expose terhadap media memberi resiko kepada anak yang menjadi sensitif dengan kekerasan dan anti sosial. Pengaruh dan perkembangan anak usai menyaksikan tayangan media dengan kekerasan selama masa pra sekolah akan mengakibatkan psikologi anak tersebut menjadi keras dalam pergaulan.

Di Indonesia, belum ada penelitian khusus mengenai pengaruh tayangan kekerasan terhadap prilaku anak, ini tentu membuat semakin sulit untuk mengatakan bahwa tayangan televisi berpengaruh terhadap prilaku anak. Sementara itu, meski masih mengalami simpang siur, para peneliti luar sudah banyak yang menyimpulkan adanya korelasi (untuk tidak menyebut penyebab) antara tayangan kekerasan terhadap prilaku anak. Sebuah survai pernah dilakukan oleh Christian Science Monitor (CSM) pada tahun 1996 terhadap 1.209 orang tua yang memiliki anak umur 2 – 17 tahun. Terhadap pertanyaan seberapa jauh kekerasan di TV mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi, sisanya, 26% mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi, dan 11% tidak mempengaruhi.
Hasil penelitian Dr. Brandon Centerwall dari Universitas Washinton memperkuat survai itu. Ia mencari hubungan statistik antara meningkatnya tingkat kejahatan yang berbentuk kekerasan dengan masuknya TV di tiga negara (Kanada, Amerika dan Afrika Selatan), fokus penelitian adalah orang kulit putih. Hasilnya, di Kanada dan Amerika tingkat pembunuhan di antara penduduk kulit putih naik hampir 100%. Dalam kurun waktu yang sama, Kepemilikan TV meningkat dengan perbandingan yang sejajar. Di Afrika Selatan, siaran TV baru diizinkan tahun 1975. Penelitian Centerwall dari tahaun 1975 – 1983 menunjukkan tingkat pembunuhan diantara kulit putih meningkat 130%. Padahal antara 1945 – 1974, tingkat pembunuhan justru menurun (Kompas, 20 Mei 1995).
Ada beberapa hipotesis yang dinyaakan oleh para ahli komunikasi yang dapat dijadikan patokan dasar, yaitu :

Hipotesis Katalis (Chatalis Hyipothesis) yang menyatakan bahwa menyaksikan tayangan kekerasan di televisi menyebabkan pengurangan dorongan agresif melalui ekspresi prilaku bermusuhan yang dialami orang lain. Hipotis Rangsangan (Stimulation Hypothesis) memprediksi bahwa menyaksikan tayangan kekerasan menyebabkan peningkatan dalam perilaku agresif yang sesungguhnya. Salah satu hipotesis ini adalah hipotesis menirukan atau mencontoh (Imitation or Modeling Hypothesis) yang menyatakan bahwa orang mempelajari perilaku agresif dari televisi dan kemudian memproduksi prilaku itu. Sebuah hipotesis yang sedikit berbeda adalah Hipotesis Kehilangan Kendali Diri (Disinhibition Hypothesis) yang menyatakan bahwa televisi menimbulkan rasa segan orang untuk berprilaku agresif terhadap orang lain. Apabila hipotesis ini benar, maka tayangan kekerasan di televisi mungkin mengajarkan norma umum bahwa kekerasan adalah cara yang dapat diterima untuk berhubungan dengan orang lain.

Centerwall, seorang ahli Psikologi kemudian menjelaskan, TV tidak langsung berdampak pada orang-orang dewasa pelaku pembunuhan, tetapi pengaruhnya sedikit demi sedikit tertanam pada si pelaku sejak mereka masih anak-anak. Denagan demikian ada tiga tahap kekerasan yang terekam pada penelitian, yaitu pada awalnya meningkatnya kekerasan diantara anak-anak, beberapa tahun kemudian meningkatnya kekerasan diantara remaja, dan pada tahun-tahun akhir penelitian dimana taraf kejahatan meningkat secara berarti, yakni kejahatan pembunuhan oleh orang dewasa. Penemuan ini sejalan dengan hasil penelitian Lembaga Kesehatan Mental Nasional Amerika yang dilakukan dalam sekala besar selama sepuluh tahun. ”Kekerasan dalam program televisi menimbulkan perilaku agresif pada anak-anak dan remaja yang menonton program tersebut”, demikian simpulnya. Sedangkan menurut Ron Solby dari uni versitas Harvard secara terinci menjelaskan, ada empat macam dampak kekerasan terhadap perkembangan keperibadian anak. Pertama Dampak agresor, yaitu dimana sifat jahat dari anak semakin meningkat. Kedua Dampak korban, yaitu dimana anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain. Ketiga Dampak pemerhati, disini anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain. Keempat Dampak nafsu, yaitu meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.
Seperti yang dikutip dari Kumpulan Artikel Psikologi Anak Intisari cetakan April 1999, kedua psikolog di atas memperlihatkan hasil penelitian yang mengagetkan yang dimulai 1960 pada 800 anak sekolah beerusia 8 tahun. Betapa tidak , anak-anak yang terlalu lama menonton acara kekerasan di televisi cenderung berperilaku agresif di kelas maupun di tempat bermain. Setelah anak-anak itu dimonitor sebelas dan 22 tahun kemudian, anak-anak yang sudah remaja (19) dan dewasa (30) itu jauh lebih agresif. Meraka membuat masalah-masalah yang lebih besar, termasuk kekerasan di dalam rumah tangga serta pelanggaran lalulintas, ketimbang rekan mereka yang kurang agresif karena tidak terlalu banyak menonton adegan kekersan di televisi. Menurut kedua psikolog itu, kendati seorang anak tidak agresif pada usia 8 tahun,tapi menonton acara kekerasan di televisi dalam jumlah cukup banyak akan menyebabkan perilaku lebih agresif pada usia 19 tahun dibanding dengan rekan-rekan sebayanya yang tidak menyaksikan adegan kekerasan di televisi.
Dalam kesaksian di depan kongres pada tahun 1992, Eron dan Huesmann mengatakan, kekerasan televisi mempengaruhi remaja dari segala usia, semua tingkat sosio-ekonomi dan intelegensi. “Tidak juga terbatas pada anak-anak yang memang sudah berwatak agresif, dan terjadi di mana pun”. Pendapat itu dikuatkan oleh komentar dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) Alva Handayani, S.Psi “Anak-anak , terutama yang masih usia sekolah dasar hingga kira-kira berusia 10 tahun memang suka meniru, sebab dilihat dari segi perkembangan kognitifnya, daya pilah/filter anak-anak seusia itu belum sempurna. Dengan begitu, mereka cebderung meniru mentah-mentah apa yang dilihatnya. Perilaku ini akan lebih berkembang tatkala di lingkungan teman-temannya muncul anggapan atau penilaian bahwa yang pintar berantem adalah yang jagoan. Maka anak cenderung akan melakukan sikap agresif, sebabnya hal itu suatu kebanggaan jika dia menang dalam berkelahi. Lagi pula, pola penyelesaian dengan perilaku agresif ini cenderung lebih mudah ketimbang dia harus mikir. Apalagi ketika marah energi seseorang akan lebih tinggi, maka energi tersebut disalurkan melalui perilaku tersebut” jelas Alva panjang lebar. Namun tambahnya, anak yang lebih cerdas akan bisa memilih mana yang sifatnya realitas dan khayalan.
Dari uraian di atas, dapat penulis tarik sebuah permasalahan penting bahwa walaupun di Indonesia belum banyak yang meneliti tentang besarnya pengaruh tayangan film kekerasan terhadap anak, namun bukan berarti hal itu kecil atau bahkan tidak ada, kita tidak boleh menutup mata dari kenyataan bahwa tayangan film kekerasan sangat mempengaruhi karakter anak, khususnya sikap agresif.

Wednesday, September 14, 2011

Terapi Air dan Manfaatnya

Saya pernah dapat sms dari kerabat tentang terapi air dan manfaatnya. Diyakini berdasar penelitian dan pengalaman, bahwa dengan meminum air putih pada waktu-waktu tertentu dan dengan takaran tertentu akan memaksimalkan efektivitas pada tubuh manusia.
Antara lain sebagai berikut:
Dua gelas air setelah bangun tidur akan membantu mengaktifkan organ-organ internal.
Satu gelas air 30 menit sblm makan utk membantu fungsi pencernaan & ginjal.
Satu gelas air sebelum mandi membantu menurunkan tekanan darah.
Satu gelas air sebelum tidur utk menghindari stroke & serangan jantung.
Nah, itu sedikit info, semoga bermanfaat.
Ayo Infokan tips ini kepada orang-orang yang kita sayangi.

Oleh Ikatan Dokter Indonesia
Published with Blogger-droid v1.7.4

Monday, August 29, 2011

Become Winner


Puji sukur tentunya marilah kita kumandangkan bersama. Sebulan sudah kita menempuh pejuangan dengan Qiyam Ramadhan. Lapar dan dahaga tak terbayangkan beratnya. ditambah berbagai macam godaan dari syetan-syetan lokal hehe ... (syetan internasionalnya lagi dibelenggu). Belum lagi masalah kesehatan Ramadhan yang kadang tidak bisa diduga adanya. Namun pada kenyataannya kita bisa melewatinya, sekalipun nilai hanya Alloh SWT yang tahu.

Kalau berbicara tentang kemenangan, berarti ada pertarungan yang telah dilalui. Begitu pula para alumni Ramadhan, mereka baru saja melalui sebuah pertarungan, ya apalagi namanya kalau bukan pertarungan, pertarungan melawan syetan lokal tadi, alias "Diri sendiri", Nabi saw sendiri menyatakan bahwa pertarungan terbesar adalah pertarungan melawan diri sendiri. Bila sukses, berarti kita pantas disebut "The Winner".
Coba kita tengok kebelakang, apakah kita layak disebut The Winner.
sudahkah kita persiapkan Ramadhan kita dengan langkah persiapan Ramadhan, kemudian diri kita apa sudah kita bekali dengan ilmu Romadhan sebagai senter agar tidak tersesat di belantara Ramadhan. Kemudian bagaimana dengan amalan-amalan penunjang, seperti; shodaqoh super, kewajiban zakat, memperbanyak do'a untuk diri dan orang lain, tarbiyah Ramadhan, i'tikaf di akhir Ramadhan dan masih banyak lagi.
Kemudian sudahkah kita evaluasi di akhir Romadhan apakah diri kita termasuk yang gagal Ramadhan dikarenakan terjebak pada faktor-faktor penggagal Romadhan, atau kita yang termasuk yang mendapat kebahagiaan setelah menempuh Ramadhan. Yah semua kembali kepada masing-masing, namun yang pasti adalah, jurnal taqin mengucapkan

SELAMAT HARI RAYA 'IDUL FITRI 1432 H
MOHON MAAF ATAS SEGALA KHILAF

Thursday, August 25, 2011

Mazhab Iblis dan Kaumnya

Iblis dahulunya adalah hamba Alloh SWT yang paling taat kepada Alloh SWT. Bahkan dikabarkan dalam beberapa kitab, ketaatan Iblis melebihi para malaikat. Namun beberapa masa kemudian (sampai sekarang), Alloh begitu murka kepada Iblis. Mengapa bisa terjadi ? Tidak lain dan tidak bukan adalah disebabkan wataknya yang angkuh itu membuat Alloh murka. Ini nampak ketika Alloh SWT menciptakan manusia pertama, Adam as. Ketika semua Malaikat (termasuk Iblis juga) diperintah Alloh untuk sujud (sebagai bentuk penghormatan, bukan penyembahan) kepada Adam, Iblis enggan, seperti dalam FirmanNya;

Allah berfirman, "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu". Iblis menjawab, "Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS. Al A’raf:12)

Ikhwani fillah, dialog tersebut terjadi antara Allah Al Khaliq dengan Iblis laknatullah sewaktu penciptaan Adam. Dengan kesombongan yang demikian besar Iblis berani ingkar kepada perintah Allah untuk bersujud kepada Adam hanya karena ‘merasa’ lebih baik dari Adam. Dia yang diciptakan dari api mengaku lebih baik dari Adam yang Allah ciptakan dari tanah. Dan di akhir episode, rasa besar diri Iblis inilah yang kemudian mengantarkannya mendapat julukan laknatullah.

Mari kita renungi apa yang diakui oleh Iblis laknatullah ini. Iblis mengaku berkualitas lebih baik dari pada Adam hanya gara-gara bahan penciptaannya dari api sedang Adam Allah ciptakan dari tanah. Inilah mazhab, jalan pola pikir Iblis. Iblis mendasari penilaian baik dan buruk hanya atas dasar bahan penciptaan, atas dasar materi, sesuatu yang kasat mata. Bukankah baik dan buruk itu adalah nilai? Jadi tentu saja tidak pantas kita menilai berdasarkan materinya. Dan kita, ternyata kita pun seringkali mengikuti pola pikir dan perilaku Iblis ini. Penilaian baik dan buruk terhadap seseorang sering kita dasarkan pada jabatan, kekuasaan, harta kepunyaan orang tersebut. Terhadap orang yang golongan menengah ke atas kita sering nunduk-nunduk, manggut-manggut, inggih-inggih dengan tangan menekuk di bawah pusar. Sedangkan terhadap orang yang berada di bawah kita, orang miskin di sekeliling kita, seringkali kita berkacak pinggang setinggi dada hanya gara-gara kita merasa penciptaan kita, nasib dan nasab kita, lebih baik dari dia. Naudzubillah.

Jelas pengakuan seperti ini bertentangan dengan garis yang telah ditetapkan oleh Allah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa. Inilah konsep baik dan buruk dalam pandangan Allah yang tercantum di dalam Al Qur’an. Yang paling baik ialah dia yang paling ikhlas menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Yang paling buruk adalah dia yang paling sombong bermaksiat kepada Allah.

Ikhwan fillah, saudaraku, sudah saatnya kita mengoreksi diri sambil memohon kepada Allah agar dijauhkan dari mazhab, pola pikir dan perilaku Iblis ini. Terakhir, satu-satunya cara untuk mendapatkan gelar terbaik adalah dengan bertaqwa, dan tidak ingkar kepada perintah-perintah Allah. Hanya sekali Iblis ingkar, bermaksiat terhadap perintah Allah dia sudah digelari laknatullah. Dan setelah dilaknat oleh Allah, Iblis berjanji untuk menyesatkan umat manusia semuanya. Jadi mari kita memohon kepada Allah SWT agar dijauhkan dari perilaku Iblis dan godaannya.

Wallahua’lam bishshowab.

Tuesday, August 23, 2011

Kecerdasan Anak Adalah Cermin Ibu

Hati Ani hari ini berdebar-debar. Ma'lum, hari ini adalah pembagian buku Raport kenaikan kelas Nisa, anaknya yang duduk di kelas 1 salah satu SD faforit di kotanya. Sepanjang jalan ia terus berdo'a supaya prestasi anaknya bagus. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya tibalah pembagian buku Raport. Satu persatu nama murid kelas satu dipanggil. Ketika tiba giliran Nisa, dengan tenang Ani membuka Raport Nisa, beberapa menit kemudian dia berseru "Alhamdulillah...". Semua siswa kelas 1 dinyatakan naik, namun berbeda dengan Ani, ia tampak berseri-seri karena Nisa menempati peringkat pertama. Berkali-kali ia dekap dan cium putrinya itu.

Ekspresi kebahagiaan yang dialami Ibu Ani dan ibu-ibu lainnya ketika mendapati anaknya berhasil merupakan sikap yang sangat alamiah yang tidak dapat ditutup-tutupi. Itu adalah wajar, karena anak tidak sekedar "darah daging" semata, akan tetapi juga mewakili moralitas, keprihatinan, intelektualitas, spiritualitas orang tua, terutama adalah Ibu. Karena ibu adalah manusia terdekat dengan sang anak. Apa pun yang dilakukan sang Ibu kepada si anak akan membekas dan menjadi cerminan dirinya.
Rosul saw mengatakan "Syurga berada di bawah telapak kaki ibu". Pernyataan ini memiliki beberapa makna yang salah satunya adalah, sang ibu harus mampu membangun surga itu bagi anak-anaknya di masa depan.
Ibu adalah pembangun pendidikan pertama untuk anak-anaknya, dia adalah pendidik yang tidak sekedar memindahkan ilmu, akan tetapi juga sebagai pembentuk kepribadian, kecerdasan, moralitas, mentalitas dan sebagainya.
Siapa yang tidak kenal Thomas Alfa Edison, sang penemu listrik. Seorang anak yang dicap tidak mampu di sekolah, namun dengan didikan sang ibu dia bisa menjadi manusia luar biasa. Dalam dunia Islam, ada Muhyidin Ibnu Arabi,seorang Ulama ahli Filsafat dan Tasawuf. Mengapa dia bisa menjadi Syeikh Besar dimasanya, ternyata dia dibesarkan di lingkungan orang-orang intelek, siapa mereka, Ibunya.
Masih banyak lagi bukti-bukti yang dapat disaksikan. Sehingga,yang perlu dilakukan untuk mendapatkan anak yang cerdas adalah diawali dari "Ibu cerdas", sehingga dia paham bagaimana melahirkan generasi cerdas. Jangan sampai kelak ada pernyataan penyalahan terhadap kegagalan sang anak, karena hal itu terjadi diawali dari lingkungan terdekat yang mendidik sang anak.
Nah, ayo kita lahirkan dulu diri-diri kita menjadi orang tua cerdas, terutama Ibu cerdas.

Sumber : Buku Mencerdaskan Anak karya Suharsono

Sunday, August 21, 2011

Ayo I'tikaf

Bulan Ramadhan sudah memasuki 1/3 akhir, dan Alloh SWT melipatgandakan imbalannya bagi para pejuang Ramadhan. Rosul saw biasa meningkatkan ibadah dengan beri'tikaf di masjid, seperti dijelaskan;
Dari ‘Aisyah radhiallahu anha isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ


“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri Beliau beri’tikaf setelah kepergian beliau.”
(HR. Al-Bukhari no. 1886 dan Muslim no. 2004)


Ada Berita besar Dari Alloh SWT

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ


Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)

Nah, Ayo Berburu Lailatul Qodr

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ


"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan." (Muttafaq 'alaih)

Kemudian sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam lagi,

خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ وَإِنَّهَا رُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ


"Sesungguhnya aku telah keluar untuk memberitahu kepada kalian (kapan Lailatul Qadar itu). Tetapi (di tengah jalan) aku bertemu dengan fulan dan fulan yang sedang bertengkar, sehingga aku terlupa kapan malam itu. Semoga ini lebih baik bagi kalian. Oleh karena itu, carilah malam tersebut pada (malam) kesembilan, ketujuh, dan kelima (dari sepuluh hari terakhir)." (HR. al-Bukhari)

Ayo, tunggu apa lagi, yuk berburu lailatul Qodr, Ayo I'tikaf ..... ^_^

Puasa dan Bahagia



Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’”
(HR. Muslim no. 1151)


Thursday, August 18, 2011

Delapan Tanda Pecundang Ramadhan

Oleh: Ali Akbar Bin Agil
From http://hidayatullah.com/

Rasulullah Muhammad saw mengatakan, “Berapa banyak orang yang melaksanakan puasa namun ia tak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus.”
Ungkapan Nabi di atas merupakan sinyalemen bahwa tidak sedikit di antara para aktivis puasa Ramadhan melewati hari-hari puasanya sekadar tidak makan, minum, dan berhubungan badan. Puasanya hanya berupa menahan rasa lapar, dahaga, dan hasrat seksual belaka.

Kalau sudah demikian, apa saja tanda orang yang puasanya hanya berkisar seputar perut dan kemaluan itu?

Pertama, ketika seseorang berpuasa tapi gagal memenuhi target satu kali khatam al-Qur`an di bulan Ramadhan meski satu kali saja. Imam Syafi`i merupakan salah satu contoh sosok yang sukses dalam bulan Ramadhan. Bukan satu atau dua kali khatam al-Qur`an namun beliau mengkhatamkannya sebanyak enam puluk kali dalam satu bulan.

Dr. A`id Abdullah Al-Qarni menceritakan keadaan rumah para Salafus Shaleh di bulan Ramadhan. Suara lantunan al-Quran senantiasa bergema bak gema lebah. “Mereka membaca al-Qur`an dengan tartil, memperhatikan keajaiban-keajaiban isinya, menangisi peringatan-peringatan yang terdapat di dalamnya, berbahagia dengan berita gembiranya, saling menyuruh dengan perintah-perintahnya, dan saling mencegah dengan larangan-larangannya,” tulisnya.

Lebih dari itu, Ibnu Taimiyah pernah mengatakan, “Barangsiapa yang tidak membaca al-Qur`an ia telah meninggalkan al-Qur`an, barangsiapa yang membaca al-Qur`an namun tidak merenungi kandungan-kandungan maknanya berarti ia juga telah meninggalkan al-Qur`an, dan barangsiapa yang membaca al-Qur`an serta merenunginya namun isinya tak ia amalkan sama saja ia telah meninggalkan al-Qur`an.”

Jika membaca dan berusaha mekhatamkan al-Qur`an saja gagal dilaksanakan, kapan akan merenungi kandungannya dan kapan pula al-Qur`an akan diamalkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Kedua, ketika seseorang berpuasa namun tidak mampu menjaga anggota tubuh dari penyimpangan. Salah satu hikmah seperti disebutkan oleh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi adalah sebagai tarbiyah (pendidikan) bagi kemauan, perang terhadap hawa nafsu yang negatif dan hal-hal buruk yang telah mentradisi, serta melazimkan kesabaran.

Berpuasa perut tanpa puasa anggota tubuh tentunya hanya memperoleh kepayahan fisik semata namun hampa hikmah dan tarbiyah. Yang terbaik adalah bagaimana puasa yang dilakukan betul-betul mengandung kebersamaan, antara menahan diri makan, minum, berhubungan biologis, dan di saat yang sama mempuasakan anggota tubuh dari penyimpangan: hati dari penyakit-penyakitnya, lidah dari mengeluarkan kata-kata kasar dan cabul, mata dari pandangan yang tak halal, tangan dari merampas hak orang lain, telinga dari mendengar perkataan kotor, nyanyian-nyayian seronok yang mengumbar nafsu, dan hinaan, dan kaki dari melangkah ke tempat-tempat yang tidak baik.

Ketiga, saat malam-malamnya tidak dihidupkan dengan ibadah. Malam-malam Ramadhan adalah waku yang sangat tepat untuk meningkatkan volume ibadah. Setelah beribadah lewat menahan diri dari segala hal-hal yang dilarang selama puasa di siang hari, maka di waktu malam dihidupkan dengan beragam perbuatan terpuji.

Begadang merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslim. Mereka menghabiskan malam-malam dengan bicara tanpa manfaat, merokok, bercengkrama hingga larut malam sembari menghabiskan malam tanpa guna yang bisa meningkatkan kadar ketakwaan.

Keempat, kala berbuka puasa menjadi ajang “balas dendam.” Berbuka puasa sering dijadikan kesempatan “membayar hutang” makan dan minum di siang hari saat tengah puasa. semua makanan dan minuman ia lahap untuk mengganti “tunggakan” sebelumnya. Jika ini yang terjadi, lalu di man letak pelajaran menahan diri dari menuruti nafsu.

Tidak menjadikan buka puasa sebagai balas dendam, membuat jiwa terkendali, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal yang baik, dan yang tak boleh dilupakan orang yang berkecukupan akan semakin sadar bahwa dirinya telah diberi nikmat yang begitu banyak dibandingkan orang fakir, miskin, dan anak yatim piatu yang sering menahan lapar dan dahaga. Karena, meninggalkan syahwat dan kesenangan duniawi.

Sebagian kaum Salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa itu disyariatkan oleh Allah?” Mereka menjawab, “Puasa disyari`atkan supaya orang yang kaya pun dapat merasakan pedihnya rasa lapar sehingga mereka tidak melupakan orang-orang yang kelaparan.”

Kelima, ketika Ramadhan tidak dioptimalkan dengan infak dan sedekah. Di bulan Ramadhan, dianjurkan untuk lebih memperbanyak sedekah dan infak. Ramadhan sendiri disebut juga sebagai syahrul juud yaitu bulan kedermawanan. Rasulullah menyatakan bahwa, “Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan ramadhan.” (HR. Turmudzi)

Keenam, seseorang dapat ditandai sebagai orang yang gagal ramadhan ketika lebih sibuk memasok kebutuhan lebaran ketimbang memenuhi pundi-pundi amal saleh khususnya di 10 malam terakhir Ramadhan.

Padahal, nabi dan para sahabtanya itu lebih aktif dan giat menghidupkan 10 malam terakhir bulan Ramadhan dengan berdiam di masjid (i`tikaf), memperbanyak ibadah, berdizkir, memburu malam lailatul qadar, dan merasakan kesedihan luar biasa karena sebentar lagi akan berpisah dengan bulan Ramadhan.

Ummul Mukminin, Aisyah r.a. menceritakan tentang kondisi Rasulullah SAW ketika sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan: “Adalah Nabi SAW ketika memasuki sepuluh hari yang terakhir di bulan Ramadhan, maka beliau mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari)

Ketujuh, ketika lebaran Idul Fitri disikapi sebagai hari kebebasan dari ‘penjara Ramadhan.” Ramadhan dianggap sebagai penjara dan penghalang untuk melakukan hal-hal yang menyimpang. Sehingga ketika sudah keluar Ramadhan, terasa seperti seorang ‘napi’ yang menghirup udara kebebasan dari ‘LP’ Ramadhan untuk melakukan hal apa saja yang diinginkannya. Keadaan ini terjadi karena selama berpuasa tidak mengikuti adab dan tata cara yang benar sehingga menyikapi Ramadhan bak penjara yang menakutkan itu.

Kedelapan, tidak ada tindak lanjut setelah keluar dari bulan Ramadhan. Tanda kegagalan dalam kompetisi Ramadhan ialah tidak meneruskan dan mempertahankan kedekatan dengan Allah serta solidaritas sosial yang sudah terbangun di bulan suci. Akibatnya, rampungnya Ramadhan ditandai selesainya pula segala macam kebaikan seperti puasa sunnah, shalat malam, sedekah, membaca al-Qur`an, dan sebagainya.

Amal-amal di bulan Ramadhan adalah bekal pasokan ruhani yang menjelma dalam kehidupan sehari-hari untuk sebelas bulan berikutnya. Jangan kita lewatkan dengan kehampaan. Waspadailah delapan tanda pecundang kompetisi Ramadhan. Sayang, modal usia di bulan Ramadhan ini bila kita sia-siakan begitu saja.

Penulis adalah staf pengajar di Ponpes. Darut Tauhid Malang