Assalamu'alaikum ... Selamat Datang ... Semoga Blog Ini Bisa Memberi Manfaat ... Jangan Bosan Untuk Kembali lagi ^_^

Thursday, January 9, 2014

Ayo Mengontrol

Ada sebuah pelajaran menarik dari cerita Penggembala. Mungkin sebagian kita pernah menyaksikannya. Atau bahkan kita pernah mengalaminya. Para Nabi Alloh saja sebelum diutus semua memiliki pengalaman menggembala.
Apa pun yang digembalakan semua memiliki tujuan dan manfaat yang tidak jauh berbeda. Oleh karenanya, perlu kita pelajari ada apa dengan menggembala.

Bersambung .....

Monday, January 6, 2014

Cerdas Menggunakan Alat

Sudah menjadi pengetahuan kita bahwa Alloh SWT menciptakan manusia dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang super lengkap. Baik dalam bentuk siap pakai, maupun yang harus melalui proses terlebih dahulu. Saat ini pun sudah semakin maju, ada fasilitas yang terlihat dan ada yang tidak terlihat. Itu baru dalam pandangan bentuknya. Belum kita pandang dari sisi yang lebih beragam.
Namun, apa pun fasilitas itu, semua merupakan alat pelengkap yang digunakan untuk menopang hidup atau untuk membantu mencapai tujuan.
Yang namanya alat, ia akan bergerak sesuai dengan kehendak pemegangnya. Sehingga apa pun yang akan dihasilkan, maka pemegangnya yang menentukan. Begitu pula nilai yang dihasilkan, bukan si alat yang menghasilkan nilai, atau bukan si alat yang memiliki nilai, atau pun bukan si alat yang akan dinilai, tapi pemegang dan pengendalinya.
Sebagai contoh adalah pisau, ketika dia di tangan tukang masak, maka ia akan membantu menghasilkan berbagai macam makanan lezat. Tapi bila berada di tangan orang jahat, maka ia akan melukai banyak orang.
Semua alat akan memiliki prinsip yang sama seperti contoh di atas. Sehingga disinilah manusia memerlukan kecerdasan dalam menggunakannya. Apa pun alatnya.
Kadang banyak fenomena  lucu, ketika atas nama agama kita mengharamkan penggunaan sebuah alat dikarenakan banyak orang yang menyalahgunakan alat itu, sehingga ketika alat itu digunakan oleh musuh kita dalam mencapai pemenangan strategi, kita tidak bisa menggunakannya karena fatwa kita sendiri. Coba bayangkan, karena banyak penjahat beraksi dengan pisau, akhirnya diharamkan menggunakan pisau. Bagaimana nasib ibu-ibu yang harus menggunakan pisau untuk memotong daging.
Contoh lain, karena banyak ditemukan konten negatif di internet, lalu kemudian kita mengharamkan penggunaan internet, akan jadi lucu terdengar, karena internet sekarang sama seperti tangan dan mulut yang berfungsi sebagai penyebar informasi, apakah kemudian kita juga mengharamkan penggunaan tangan dan mulut kita.
Ayo kita cerdas menggunakan alat-alat yang ada di tangan kita. Gunakan ia untuk menghasilkan kebaikan dan manfaat, untuk memperkuat ibadah kepada Alloh SWT, jangan sampai alat-alat itu menghasilkan bahaya dan mudarat, atau mungkin merusak ibadah kita kepada Alloh SWT. Yuk jadi cerdas.

Saturday, December 28, 2013

Menghidupkan Hati yang Galau

Oleh Ust. Ahmad Muzaini, S.Pd.I

Dalam kehidupan sehari, kita sering mengalami berbagai hal yang mana hal itu dapat menyebabkan "kegalauan" hati.
Ada beberapa tips yang diberikan oleh Aa' Gym dalam menghidupkan hati yang galau, gundah gulana, yaitu;

1. Merasa Bersaudara
Dengan merasa bersaudara, maka akan ada perasaan untuk saling membantu. Kalau ada teman yang memerlukan bantuan, maka hati kita akan disibukkan untuk ikut membantunya. Demikian pula ketika kita yang memerlukan bantuan, maka teman kita tidak akan berat untuk membantu kita, karena kita suka membantu dan kita bersaudara.

2. Mengingat Budi Baik Orang Lain
Dengan mengingat budi baik orang, kita akan selalu merasa senang dan bersyukur. Kemana pun kita pergi, kita akan merasa bahagia tanpa beban dan merasa tidak punya musuh.

3. Meraba Penderitaan
Dengan meraba  penderitaan orang lain, kita akan disibukkan untuk selalu peduli dan selalu bersyukur atas apa yang kita miliki. Dan juga kita akan dikaruniakan kecerdasan hati.

Thursday, December 26, 2013

Lembut tapi Tegas

Dalam kehidupan sehari-hari sebagian orang kadang susah membedakan antara ketegasan dan kekerasan, padahal keduanya berbeda. Memang terkadang sebagian orang menggunakan kekerasan untuk menerapkan ketegasan, namun efeknya akan mudah hilang ketika kekerasannya hilang, karena ketegasannya dihasilkan oleh adanya rasa takut, ketika rasa takut hilang maka ketegasannya pun hilang.
Untuk bisa mencipkan sebuah ketegasan yang baik. Maka kita harus awali dengan yang baik, menggunakan proses yang baik, dan dengan itu akan menghasilkan sesuatu yang baik.
Pada intinya, ketegasan adalah sikap yang kuat untuk mempertahankan segala sesuatu di tempat yang sebenarnya dengan berbagai macam cara.
Nabi Muhammad saw adalah orang yang sangat tegas terhadap semua aturan hidup yang telah dibuat Alloh SWT, dan Nabi Muhammad saw juga merupakan orang yang paling lembut kepada ummatnya. Pola ini harus kita teladani, bagaimana memadukan antara ketegasan dengan kelembutan, dan belajar untuk meninggalkan keterpaduan antara  ketegasan dan kekerasan. Penerapannya cukup sederhana, kita ingat pola awalnya adalah "sikap kuat untuk mempertahankan segala sesuatu pada tempat yang benar", jalankan itu dengan tanpa kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal. Berikan pelayanan terbaik kepada setiap kebaikan, namun jangan pernah kompromi kepada suatu kejelekan sekalipun kecil dan sangat kecil.
Selamat mencoba. Semoga sukses

Jujur itu Membahagiakan

Seorang ayah sedang berusaha membuka buah durian. Agar tangannya terlindungi dari goresan duri, ia menggunakan kaos kaki pada kedua tangannya. Melihat hal itu anak laki-lakinya berkata, "Ayah, itu kaos kaki aku, bukan untuk membuka durian!". Mendengar ungkapan protes anaknya, sang ayah berkata, "Wah, ayah kira ini lap". Anak itu kemudian pergi dan membawa lap. "Ayah ini lap, itu kaos kaki aku!".
Seorang ayah sedang berada di hadapan komputer bersama anaknya. Tak lama kemudian telepon selulernya berdering, lalu bercakap-cakap. Temannya itu menanyakan apa yang sedang dilakukannya. Ayah anak itu berkata bahwa dia sedang membuat program komputer. Tak lama kemudian teleponnya ditutup. Anak laki-laki yang memperhatikan ayahnya berkata, "Ayah seharusnya mengatakan bahwa ayah sedang main game bukan sedang membuat program". Lalu anak itu meminta ayahnya untuk menelpon lagi temannya dan mengatakan yang sebenarnya.
Dua kisah nyata di atas, sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak usia dini dimana pun secara fitrah cenderung mengatakan apa adanya. Sedangkan orang dewasa dengan berbagai alasan kadang tidak berkata sesuai fakta. Dalam beberapa kasus, orang  dewasa melakukan hal itu karena pembelaan diri, seperti pada kisah pertama di atas.
Lalu apa akibatnya yang terjadi pada si anak. Tentu saja anak akan belajar dari peristiwa dan pengalaman sehari-hari. Pada kisah kedua, sang ayah bersedia meralat ucapannya pada temannya, si anak akan belajar bahwa terkadang manusia melakukan kesalahan dan bisa meminta maaf. Namun jika orang tua tidak mau atau berat untuk meralat, maka anak akan belajar bahwa terkadang kita bisa menjawab tidak sesuai fakta. Itu adalah awal pelajaran ketidakjujuran,, dan jika seri ng terjadi akan membentuk karakter pembohong.
Orang tua memang harus menanamkan kewibawaan, namun kewibawaan itu harus berdiri di atas kebenaran, jangan sampai kewibawaan itu berdiri di atas ketidakjujuran.
Sumber : Majalah Suara Hidayatullah edisi November 2013

Thursday, August 8, 2013

SMS Backup & Restore di Android

Bagi Teman-teman yang suka oprek-oprek Android, tentu tidak asing lagi dengan proses Reset, format dan wipe data. Proses ini tentunya akan menghilangkan data-data telephone dan SMS. Nah, ini aplikasi sangat cocok tentunya untuk selalu dimiliki. Namanya SMS Backup dan Restore. Aplikasi khusus untuk Bakcup dan Restor/Recovery data SMS. Sebelum Flashing HP jangan lupa Backup dulu data SMSnya. Setelah Flash selesai tinggal direstore saja. Semriwiiiiing ... data SMS kembali seperti semula, kalau tidak ada error proses ... Kalau berminat bisa download aplikasinya di sini, atau bisa tengokin di Play Store. Selamat ber-oprek ria

Tuesday, July 30, 2013

Pembiaran Itu Berbahaya

Mungkin sebagian kita pernah melihat ada anak-anak yang melakukan berbagai hal unik, menarik, menghawatirkan, bahkan dinilai berbahaya namun orang tuanya diam saja, merasa biasa tanpa ada rasa khawatir dan tanpa tindakan.
Ada yang naik di meja, naik jendela, panjat pagar, panjat rangka bangunan yang sedang dibangun, bahkan panjat jendela  bus dan keluarkan kepala keluar bus yang sedang laju, sedang orang tuanya hanya diam tanpa merasa khawatir atau merasa bersalah disaat anaknya melakukan kesalahan.
Kalau ditela'ah lebih dalam, sebagian kita beranggapan hal itu tidak bermasalah. Bahkan mungkin kita tidak merasa ada apa-apa dalam hal demikian alias itu kegiatan hidup biasa saja. Namun tidak untuk sebagian orang yang sangat teliti tentang pendidikan anak di dalam keluarganya. Sekecil apa pun yang dilakukan sang anak tidak akan lepas dari pengawasannya dan tidak akan sunyi dari tegurannya. Karena mereka sadar bahwa setiap kegiatan anak adalah pembelajaran.
Ketika anak melakukan sebuah pekerjaan maka sejatinya dia sedang menimbang sebuah nilai, ketika orang tua diam, berarti itu akan menghasilkan sebuah penilaian bahwa apa yang dilakukan adalah baik dan disetujui. Ketika pekerjaan itu mendapat pujian, maka akan menghasilkan sebuah penilaian bahwa apa yang dilakukan itu istimewa. Ketika pekerjaan itu mendapatkan teguran, maka akan menghasilkan sebuah penilaian bahwa apa yang dilakukan itu salah.
Inilah bukti nyata bahwa pendidikan itu dari buaian hingga liang lahat, dalam artian menyeluruh, tanpa henti dan tanpa celah.
Kadang kita sering menyaksikan ada anak yang begitu ringannya membentak temannya, padahal ada orang tuanya di sanpingnya. Ada juga yang sering mengucapkan perkataan kotor. Ada yang terbisa berprilaku negatif (dalam penilaian lingkungan sosial) padahal di lingkungan sekitarnya itu merupakan hal yang negatif.
Bayangkan saja kalau setiap perbuatan yang dilakukan anak kita diamkan, kita biarkan, maka dia akan membentuk penilaian sendiri terhadap setiap yang dilakukan. Syukurnya kalau itu perbuatan positif, bagaimana kalau perbuatan negatif. Tidak dapat dibayangkan, anak kita melakukan berbagai macam pelanggaran tanpa merasa kalau itu kesalahan. Maka kita akan melahirkan generasi yang selalu merasa benar sekalipun mereka bersalah.
WalLohu 'alam

Friday, July 26, 2013

Memperkuat Prisai

Prisai merupakan alat yang digunakan sebagai pelindung untuk melindungi diri kita dari sabetan senjata lawan. Dia akan menjadi tabir antara kita dengan bahaya yang mengancam.
Demikianlah salah satu fungsi puasa bagi orang-orang yang beriman. Puasa akan menjadi wadah latihan dan penguatan untuk menghadang berbagai macam sabetan dosa yang akan mengoyak keimanan kita. Dengan puasa yang berkualitas akan menghasilkan prisai yang sangat kuat.
Kekuatan prisai ini sangat ditentukan oleh seberapa kuat kesungguhan kita dalam usaha meningkatkan kwalitas puasa kita di bulan Ramadhan. Semakin gigih kita, semakin bagus puasa kita, insyaAlloh semakin kuat prisai kita.
Oleh karenanya, ayo kita berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan meningkatkan kwalitas puasa kita, agar terbentuk sebuah prisai diri yang kuat yang akan melindungi kita dari daya rusak maksiat.
Dan kita berusaha untuk mempertahankannya sampai selesai Ramadhan, sehingga prisai itu dapan dipergunakan di luar bulan Ramadhan.

Thursday, July 25, 2013

Orang Sholeh Beristighfar, orang Salah ... ?

Alloh SWT dan Rosul saw menganjurkan kita untuk selalu memperbanyak istighfar. Anjuran ini ditujukan kepada orang yang beriman. MUngkin ini jadi pertanyaan, kenapa orang beriman masih dianjurkan memperbanyak Istighfar.
Imam Al Ghazaliy menjelaskan bahwa bentuk taubat itu bertingkat-tingkat sesuai dengan kondisi keimanan pelakunya.

;قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تُوْبُوا إِلَى اللَّهِ تَعاَلَى فَإِنِّي أَتُوْبُ إِلَيْهِ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ -البخاري في أدب المفرد

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,”Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali”. (Riwayat Al Bukhari dalam Adab Al Mufrad dan dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthiy)

Al Hafidz Al Ala’iy menjelaskan bahwa maksud taubat di hadits itu adalah taubat istighfar, yang mana Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam banyak melakukannya.

Imam Al Ghazaliy menjelaskan bahwa bentuk taubat itu bertingkat-tingkat sesaui dengan kondisi keimanan pelakunya. Bertaubatnya orang kebanyakan adalah bertaubat dari dosa-dosa yang telah ia lakukan. Sedangkan taubatnya orang shalih adalah taubat dari kelalaian hati. Dan taubat bagi orang-orang yang mencapai derajat keshalihan yang cukup tinggi (khawwas al khawwas) adalah istighfar dari perhatiannya terhadap selain Allah Ta’ala, karena kata “dzanbun” (dosa) secara bahasa bermakna derajat lebih rendah seorang hamba. Dengan demikian, setiap derajat keimanan memiliki taubat sendiri, hingga dengan taubat derajat keimanan dan derajat pertaubatan semakin meningkat. Imam Al Munawiy menjelaskan bahwa ada perbedaan penyebutan jumlah taubat dalam hadits ini dan hadits lainnya yang menyebutkan 70 kali, namun itu semua cermin banyaknya istighfar bukan pembatasan jumlah istighfar yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (lihat, Faidh Al Qadir, 3/361,362). Jika Rasulullah Shallallallahu Alalihi Wassallam perbanyak istighfar dalam setiap harinya, begaimana dengan kita “bangsa awam” yang banyak dosanya? Seharusnya lebih banyak dari itu, bila kita coba berfikir dengan nalar Sederhana. Oleh karenanya, mari kita jadikan Istighfar untuk membersihkan, menjaga, membentengi dan meningkatkan kwalitas keimanan dalam diri.
Wallohu'alam

From Hidayatullah.com