Assalamu'alaikum ... Selamat Datang ... Semoga Blog Ini Bisa Memberi Manfaat ... Jangan Bosan Untuk Kembali lagi ^_^

Tuesday, October 12, 2010

Menyepelekan Amal

Dalam kitab sahih Bukhari ada diriwayatkan sebuah hadis dari Aisyah ra yang memberitakan bahwa Rasulullah SAW biasa memberikan amal untuk dikerjakan oleh masing-masing sahabat sesuai dengan kemampuan para sahabat. Akan tetapi para sahabat yang menerima amalan untuk dikerjakan tersebut banyak yang protes karena menurut mereka amal-amal tersebut ringan-ringan saja sedangkan mereka masih sanggup mengerjakan amal lain yang lebih berat. Bahkan ada yang protes sampai bilang bahwa mereka bukanlah seperti Rasulullah yang ma’shum, yang telah mendapat jaminan ampunan dosa dari Allah.

Mendengar protes para sahabat tersebut Rasulullah marah sekali. Beliau mengatakan bahwa yang paling bertakwa dan paling memahami agama ini adalah beliau. Beliau menegaskan agar para sahabat jangan sekali-kali menganggap enteng pahala amal-amalan yang beliau perintahkan.

Paling tidak ada dua hal menarik yang dapat kita lihat sebagai renungan kita dari kutipan hadis di atas. Pertama adalah ‘keresahan’ para sahabat yang hanya diberikan amalan-amalan yang ‘ringan-ringan saja’. Mereka bahkan sampai berani mengajukan protes terhadap hal ini. Menurut para sahabat tersebut, mereka janganlah diberikan amalan-amalan yang berpahala kecil sebab mereka ingin berlomba-lomba mengumpulkan pahala tentunya sebagai pemberat timbangan amal kebaikan di akherat kelak. Mereka meminta Rasulullah SAW memberikan kepada mereka amalan yang lebih berat yang mestinya juga berpahala lebih berat.

Yang perlu kita renungkan adalah alangkah berbedanya ghirah, semangat beribadah para sahabat dengan semangat kebanyakan dari kita sekarang. Dalam hidup kita sekarang ini, seringkali kita tidak memiliki semangat untuk ber-fastabiqul khairat- berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita sering merasa cukup berada di luar arena, menjadi penonton atau bahkan pengulas, pengeritik perlombaan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Ketika orang lain bersedekah, berinfak sekian-sekian kita sering komentari mereka mencari muka, mencari dukungan. Ketika orang lain rajin sholat berjamaah ke masjid walau pun dingin-dingin di pagi subuh, kita berdalih dengan hadis yang menyatakan bahwa Islam itu mudah maka janganlah dipersulit, cukuplah sholat di kamar saja kalau masih mengantuk. Kita lebih sering memposisikan diri sebagai penonton dan pengeritik tanpa keinginan terlibat dalam perlombaan meraih ridho Ilahi.

‘Ala kulli hal, kita jarang berusaha bertanya ibadah apa lagi yang bisa kita tingkatkan. Kita jarang resah karena tidak dapat meningkatkan amal ibadah kita. Kita sering merasa aman dengan amal yang sudah ‘rutin’ kita kerjakan tanpa ada upaya-upaya untuk pindah ke level yang lebih tinggi. Inilah sebenar-benar status quo!

Yang kedua adalah, bagaimana Rasulullah ‘meluruskan’ protes para sahabat yang menganggap bahwa amalan-amalan yang ringan-ringan akan selalu berpahala kecil.

Yang terjadi pada masa sekarang adalah, selain kita senang dengan status quo, begitu mudahnya kita melupakan amalan-amalan kecil untuk dijadikan kebiasaan. Contoh kecil, coba perhatikan berapa banyak orang Islam yang berdoa sebelum makan. Jangankan berdoa, mengawali makan dengan bismillah saja lupa! Kalau makanan sudah siap, sikat habis. Ini baru mengawali makan. Coba perhatikan lagi, berapa banyak orang yang berani mengucap salam ketika bertemu. Apalagi atasan ke bawahan, staf ke non-staf. Jarang, kalau tidak boleh dikatakan tidak ada! Padahal untuk salam ini ada hadis yang menyatakan, jatah surga jatuh pada orang yang mendahului mengucap salam. Bagaimana dengan ucapan hamdalah, yarhamukallah pada saat bersin? Kayaknya lebih sering keluar ucapan bless you, ya? Mungkin karena kedengaran lebih keren... Dan seterusnya, dan seterusnya.

Yang ingin kami katakan, mari kita budayakan amalan-amalan kecil yang Islami, mengucap salam pada saat bertemu, berdoa pada saat makan atau sekedar bismillah, mengucap hamdalah ketika bersin dan membalas mendoakan dengan yarhammukallah bagi orang yang bersin (semoga Allah menyayangimu) dan lain sebagainya sambil kita berusaha meningkatkan level ketakwaan kita ke level yang lebih baik. Insya Allah amalan-amalan ringan ini dan upaya kita untuk menjadi pelaku ibadah yang lebih baik bisa menyemarakkan dakwah di lingkungan kita yang gersang ini.

Thursday, October 7, 2010

Menghafal Al-Qur'an Dapat Tingkatkan Prestasi Akademis


Hidayatullah.com
Orang yang terbiasa menghafal al-Qur'an, maka ia akan belajar keseriusan dalam hidup, serta belajar mengatur hidupnya
Para akademisi dan spesialis sependapat bahwa menghafal al-Qur'an memiliki efek yang baik dalam pengembangan keterampilan dasar pada siswa, serta dapat meningkatkan pendidikan dan prestasi akademis.

Dr. Abdullah Subaih, profesor psikologi di Universitas Imam Muhammad bin Su'ud al-Islamiyah di Riyadh, menyerukan kepada para pelajar agar mengikuti halaqoh-halaqoh menghafal al-Qur'an. Ia juga menegaskan bahwa hafalan al-Qur'an tersebut dapat membantu untuk konsentrasi dan merupakan syarat mendapatkan ilmu.

Ia juga menambahkan bahwa semua ilmu pengetahuan, baik itu ilmu kedokteran, matematika, ilmu syari'ah, ilmu alam dan lain sebagainya, membutuhkan konsentrasi yang tinggi dalam meraihnya. Dan bagi orang yang terbiasa menghafalkan al-Qur'an, ia akan terlatih dengan konsentrasi yang tinggi.

Menurutnya, sel-sel otak itu seperti halnya dengan anggota tubuh yang lainnya, yakni harus difungsikan terus. Orang yang terbiasa menghafal, maka sel-sel otak dan badannya aktif, dan menjadi lebih kuat dari orang yang mengabaikannya.

Dr. Subaih juga menjelaskan bahwa orang yang terbiasa menghafal al-Qur'an, maka ia akan belajar keseriusan dalam hidup, serta belajar mengatur hidupnya. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan dalam merencanakan tujuan hidup, serta meraihnya.

Nikmat yang Melenakan

Dua buah nikmat yang sering diabaikan menurut Rasulullah SAW adalah nikmat sehat dan waktu luang. Alangkah seringnya kita menyadari betapa nikmatnya sehat justru setelah kita tidak dapat melakukan apa-apa, ketika kita terbaring di atas tempat tidur, sakit. Justru seringkali pada saat kita sakit lah kita banyak menyebut nama Allah, istighfar bahkan membuat janji-janji perbaikan diri, janji untuk meningkatkan kualitas ibadah. Kita banyak membuat rencana-rencana perbaikan yang akan kita lakukan kalau diberikan kesehatan kembali. Dan yang lebih mengagumkan, pada saat sakit, kesadaran begitu tinggi bahwa tak ada yang besar, selain Allah. Tetapi lucunya setelah Allah mengembalikan nikmat sehat tersebut, tidak sedikit juga orang yang melupakan janji-janji perbaikan diri yang telah dibuatnya ketika sakit tadi. Artinya nikmat sehat kembali melenakan dia untuk menepati janji hidupnya. Naudzubillah.


Nikmat kedua yang juga tidak kalah seringnya diabaikan adalah waktu luang. Seperti nikmat sehat, nikmat waktu luang ini jarang kali mendapatkan perlakuan yang sesuai. Tidak sedikit di antara kita begitu yakin dengan melimpahnya waktu luang yang dianugerahkan ini sampai berani mengeluarkan pernyataan, ah kan masih ada hari esok! Di satu sisi pernyataan ini menunjukkan optimisme, khusnudzon, baik sangka terhadap akan datangnya kembali nikmat Allah. Akan tetapi di sisi lain, ini juga dapat berarti kita mengulur-ulur kesempatan, terutama kesempatan untuk melakukan kerja yang mengarah ke perbaikan dalam segala hal, baik perbaikan kualitas kehidupan apalagi perbaikan kualitas ibadah. Allah SWT menegaskan bahwa hidup dan kehidupan umat Muslim seharusnya selalu mengikuti jalur untuk ‘berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. (QS. Al Baqarah [2]:148). Kedua nikmat ini seharusnya dapat mengantarkan kita ikut dalam perlombaan kehidupan ini agar kita lebih bisa memberi makna terhadap kehidupan yang kita jalani. Bukankah menjadi pemenang, apapun bentuk kemenangan adalah sesuatu yang membanggakan? Nah fasilitas penunjang berupa sehat dan waktu luang ini seharusnya kita gunakan dengan maksimal.

Apabila diingat kembali sebenarnya kedua nikmat ini juga termasuk dalam empat pertanyaan akhirat yang mesti kita pertanggungjawabkan. Inilah pertanyaan pada hari ketika ‘Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS. Yasin [36]:65).

Nah sekarang sebelum kita sampai kepada hari untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan, ada baiknya kita tanya diri kita terlebih dahulu, di mana kita habiskan nikmat sehat dan waktu luang yang Allah berikan. Adakah nikmat ini kita hambur-hamburkan di gardu-gardu ronda dengan papan karambol, gelas kopi, puntung rokok dan kulit kacang menjadi kajian? Ataukah di depan televisi mengagumi mimpi-mimpi?

Terakhir, coba tanya diri sendiri, adakah satu kebaikan kecil, satu saja niat suci yang, karena sesuatu dan lain hal, belum dapat anda laksanakan. Kalau ada marilah sekarang kita laksanakan niat suci tersebut mumpung ada kesempatan dan kita masih diberikan nikmat sehat.

Wednesday, October 6, 2010

Easy Solutions Together TutorNext

TutorNext is one of the online services that offer tutoring assistance and services online homework in all subjects and grade. TutorNext will help your job to make it more easy, comfortable and very affordable. Students who regularly use the service TutorNext not only get their homework completed on time, but also to understand the topics and the subjects were given as part of homework better. Get help with homework everyday you with TutorNext's Homework Help service.There are several advantages of TutorNext who will we get, namely:

Online Homework Help By Expert Tutors
To use an online homework service, TutorNext help all students who need to do is upload the site TutorNext task. online tutor TutorNext work on homework assignment and a letter with an explanation step-by-step detailed in the next 48 hours. For the students have an understanding of the homework problems or require further assistance in understanding the concepts he can connect with a tutor and get help immediately

Homework Help Online Made Easy
TutorNext team supervisor who worked on homework assignment students and highly qualified and trained. They are subject experts and keep yourself aligned with the students, syllabus and curriculum and the best part is they are 24x7 available.
TutorNext is a leader in providing assistance to student assignments, not only because the number of Homework Help is provided per year, or the number of customers who order every day, but because the quality is really superior TutorNext service.

Get Free Online Homework Help
Get help with homework for free by taking free online Homework Help session with TutorNext. Get help with your homework, solve math problems online and get the problem you are finished on time with homework sessions for free online TutorNext's help.

Online Homework Helper
TutorNext have a Homework Helper Online other than you. They help you with your homework and daily tasks. Regardless of grade or subject you can email through your homework and TutorNext send it back to you with detailed explanation. In fact, unlike other services that TutorNext Homework Help provided with the online tutoring as well to help you stay ahead in class.

Easy Online Homework Help
Get Homework Help online is easy with a very affordable cost with TutorNext. Send in as much homework and assignment questions and problems you need solved and get precise and accurate solutions with TutorNext.

Gugurkan Kesombongan dengan Sholat Berjamaah


Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'. (QS. Al Baqarah:43)

Salah satu hikmah sholat berjamaah adalah menggugurkan kesombongan rasa besar diri yang membesarkan semua predikat keduniaan, pangkat, jabatan, harta dan nama yang disandang dan menggantinya dengan penyerahan total terhadap kebesaran Ilahi. Ini dibuktikan dengan fakta bahwa barisan sholat berjamaah, shaf-shaf sholat tersebut tidak pernah terbentuk berdasarkan golongan, jabatan, staf-non staf, dan lain-lain predikat keduniaan. Di mana pun sholat berjamaah didirikan, ia tidak didasari oleh semua predikat ini. Yang pegawai rendahan apabila kebetulan berdiri di sebelah seorang senior manajer, misalnya, dia harus tanpa sungkan-sungkan merapatkan barisan dengan bapak manajer tersebut. Demikian juga pejabat tinggi tidak boleh, misalnya karena alasan derajat menjadi turun gara-gara bersebelahan dengan bawahan, tidak boleh meminta perlakuan istimewa dengan mengkavling ruang sholat sekehendak hatinya dan tidak memperbolehkan orang lain merapatkan barisan dengannya. Kesombongan-kesombongan seperti inilah yang digugurkan oleh persatuan shaf sholat berjamaah. Ini yang pertama.


Alasan lain sehingga dikatakan sholat berjamaah tersebut dapat menggugurkan kesombongan adalah sifat gerakan sholat itu sendiri. Pada saat sujud, kepala tempat berdiamnya intelegensi yang sering dipertuhankan dan raut wajah elok yang sering dibanggakan karena kegagahan dan kecantikannya, saat sujud kepala dan wajah sumber kesombongan ini tersungkur lebih rendah dari jalan keluar kotoran yang menjijikkan. Inilah dua hal yang dapat memberikan pelajaran kepada kita, menyadarkan kita bahwa dengan sholat berjamaah kesombongan adalah sesuatu yang menggelikan. Semua predikat keduniaan, pangkat jabatan dan nama besar yang disandang tidaklah ada artinya di depan Allah.

Bagi orang yang ingin menghilangkan kesombongan diri, seharusnya banyak-banyak mendatangi shaf-shaf sholat berjamaah yang didirikan. Cuma sayangnya, sampai saat ini sering kali kita temukan tiang masjid berjumlah jauh lebih banyak dari jumlah orang yang menghadiri sholat berjamaah tersebut. Sepinya orang yang menghadiri sholat berjamaah ini bukan disebabkan ketidaktahuan akan hikmah-hikmah sholat berjamaah. Justru yang terjadi adalah biasanya kita berapologi, mencari pembenaran diri, mencari alasan-alasan yang kira-kira dapat kita jadikan hujah atas ketidakhadiran kita dalam jamaah sholat ini. Di samping itu, ada kenyataan bahwa kita lebih bisa profesional dalam urusan dunia tetapi untuk urusan ibadah seringkali kita tidak bisa profesional. Kita merasa cukup dengan mengandalkan orang lain. Kalau orang lain sudah mendirikan sholat berjamaah, maka cukuplah. Kira-kira demikian alasan sebagian di antara kita.

Atau jangan-jangan sepinya barisan sholat berjamaah di masjid-masjid gara-gara kita masih merasa bahwa status keduniaan kita menghalangi kita membangun jamaah dengan jamaah lain yang cuma pegawai rendahan. Atau justru kita merasa bahwa bokong kita masih kurang cantik untuk mengatasi wajah kita yang elok. Kalau ini yang menghalangi kita mendatangi jamaah sholat yang didirikan, marilah kita tertawakan diri atas kebodohan kita ini.

Terakhir, marilah kita biasakan ruku’ bersama orang-orang yang ruku’ agar terbiasa hati kita menghapus semua kebesaran diri dan mengikrarkan bahwa yang besar hanyalah Allah. Allahu Akbar.

Wednesday, September 8, 2010

Selamat Hari Raya 'Idul Fitri 1431 H




SEMOGA ALLOH MERIDHOI SEMUA YANG TELAH KITA LAKUKAN DI BULAN SUCI ROMADHON, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Thursday, August 19, 2010

Apakah Anda Istri Sukses ?


Oleh Saikh Hafidzh Ali Syuaisyi’ dalam bukunya “Kado Pernikahan”
Apakah Anda Istri Sukses ?, pertanyaan ini memiliki jawaban yang relatif dan sangat beragam dengan berbagai timbangan dan standarisasi masing-masing. Karena untuk menilainya tidak cukup hanya diri pribadi yang melakukannya, akan tetapi perlu cermin dari luar pribadi , masing-masing. Namun ada beberapa indiakator (tanda acuan) yang bisa dijadikan penilaian umum terhadapa kualitas itu. Coba kita simak beberapa pertanyaan idikator dibawah ini, lalu pilih jawaban yang antara lain; a) Selalu, b) Kadang-kadang, c) Jarang, d) Tidak terjadi. Adapun pertanyaannya sebagai berikut:

1. Apakah kamu memperhatikan permintaan-permintaan yag diinginkan oleh suamimu?
2. Apakan kamu tersenyum di depan suamimu ketika ia pulang kerumah?
3. Apakah kamu mengeluh kepada suamimu atas ulah anak-anakmu?
4. Apakah kamu memotong pembicaraan suamimu saat sedang makan lalu kamu bercerita kepadanya apa yang sedang terjadi saat ia sedang tidak berada di rumah?
5. Apakah kamu ikut campur, hubungan suamimu dengan teman-temannya? Dan apakah itu terjadi karena alas an-alasan subjektif?
6. Apakah kamu membatu pekerjaan suamimu?
7. Apakah kamu ikut campur pekerjaan suamimu tanpa seizinnya?
8. Apakah kamumembersihkan dan merawat rumah ketika suamimu sedang adadirumah?
9. Apakah kamu menghargai waktu istirahat suamimu?
10. Apakah kamu mengeluh bosan dan jenuh?
11. Apakah kamu ikut enemani suamimu dalam hobi-hobinya?
12. Apakah kamu mengeluh keadaan yang sempit?
13. Apakah kamu meminta suamimu mengubah kebiasaan?
14. Apakah kamu merasa bangga menjadi istri suamimu?
15. Apakah kamu menceritakan kebanggaan itu kepada suamimu?
16. Apakah kamu menganjurkan suamimu melakukan kebajikan?
17. Apakah kamu merasa bahagia saat suamimu sedang berada di rumah?
18. Apakah kamu merasa suamimu berubah menjadi baik?
19. Apakah kamu merasakan perasaan yang sama pada dirimu?
20. Apakah suamimu takut memikul tanggung jawab?
21. Apakah kamu membantunya mengatasi perasaan tersebut?
22. Apakah kamu mau menerima kritik dari suamimu?
23. Apakah suamimumau menerima kritik dari orang lain dan dari dirimu?
24. Apakah kamu mendampingi suamimu dan menyuruhnya tabah saat sedang mengalami musibah?
25. Apakah kamu merasa bahwa salah satu tujuan yang diusahakan oleh suamimu dan yang kamu harapkan terwujud?
26. Apakah kamu seiya dengan suamimu dalam pikiran-pikiran dan prinsip-prinsipnya?
27. Apakah kamu mengunjungi keluarga dan teman dekatmu secara rutin?
28. Apakah halite mempengaruhi pekerjaan suamimu?
29. Apakah kamu meminta suamimu mengkritisi prilaku-prilaku yang tidak ia sukai?
30. Apakah kamu melakukan hal-hal yang mengejutkan suamimu?
31. Apakah suamimu melakukan hal yang sama?
32. Apakah kamu segera mencerca jika ia melakukan hal-hal yang berakibat tidak baik?
33. Apakah kamu mengorbankan pekerjaanmu demi menyenangkan suamimu dan keberhasilan karirnya?
34. Apakah kamu menganggap keberhasilan suamimu juga keberhasilanmu?

Oke, selamat mencoba ! yang jujur ya !

Tuesday, August 17, 2010

Qiyam Ramadhan


Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. "(Hadits Muttafaq 'Alaih)

Dari Abdurrahman bin Auf radhiallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebut bulan Ramadhan seraya bersabda : "Sungguh, Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan Allah puasanya dan kusunatkan shalat malamnya. Maka barangsiapa menjalankan puasa dan shalat malam pada bulan itu karena iman dan mengharap pahala, niscaya bebas dari dosa-dosa seperti saat ketika dilahirkan ibunya." (HR. An-Nasa'i, katanya: yang benar adalah dari Abu Hurairah)," Menurut Al Arna'uth dalam "Jaami'ul Ushuul", juz 6, hlm. 441, hadits ini hasan dengan adanya nash nash lain yang memperkuatnya.


Qiyam Ramadhan (shalat malam Ramadhan) hukumnya sunnah mu 'akkadah (ditekankan),dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau anjurkan serta sarankan kepada kaum Muslimin. Juga diamalkan oleh Khulafa' Rasyidin dan para sahabat dan tabi'in.
Karena itu, seyogianya seorang muslim senantiasa mengerjakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan dan shalat malam pada sepuluh malam terakhir, untuk mendapatkan Lailatul Qadar

Qiyamul lail (shalat malam) disyariatkan pada setiap malam sepanjang tahun. Keutamaannya besar dan pahalanya banyak.

Firman Allah Ta'ala :

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya ''( Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur, untuk mengejakan shalat malam) , sedang mereka berdo'a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami beikan kepada mereka. "(AsSajdah: 16).

Ini merupakan sanjungan dan pujian dari Allah bagi orang-orang yang mendirikan shalat tahajjud di malam hari. Dan sanjungan Allah kepada kaum lainnya dengan firman-Nya :

"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka momohon ampun (kepada Allah) . " (Adz-Dzaariyaat: 17-18).

"Dan orang-orangyang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka." (Al-Furqaan: 64).

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi(dengan mengatakan: Hadits ini hasan shahih dan hadist ini dinyatakan shahih oleh Al-Hakim) dari Abdullah bin Salam, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "sekalian manusia, sebarkan salam, berilaorang miskin makan, sambungkan tali kekeluargaan dan shalatlah pada waktu malam ketika semua manusia tidur, niscaya kalian mau ke Surga dengan selamat. "

Juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Bilal, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah kamu mendirikan shalat malam karena itu tradisi orang-orang shalih sebelummu. Sungguh, shalat malam mendekatkan dirimu kepada Tuhanmu, menghapuskan kesalahan, menjaga diri dari dosa dan mengusirpenyakit dari tubuh" (Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menyetujuinya, 1/308),

Dalam hadits kaffarah dan derajat, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dan termasuk derajat: memberi makan, berkata baik, dan mendirikan shalat malam ketika orang-orang tidur': dinyatakan shahih oleh Al-Bukhari dan At-Tirmidzi)" Lihat kitab
Wazhaa'ifu Ramadhan, oleh Ibnu Qaasim, hlm. 42, 43.

Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasalllam : "Sebaik-baik shalat setelah fardhu adalah shalat malam. " (HR. Muslim).


Termasuk shalat malam: witir, paling sedikit satu raka'at dan paling banyak 11 raka'at. Boleh melakukan witir dengan satu raka'at saja, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : "Barangsiapa yang ingin melakukan witir dengan satu raka'at maka lakukanlah. " HR. Abu
Dawud dan An-Nasa'i.
Atau witir dengan tiga raka'at, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : "Barangsiapa yang ingin melakukan witir dengan tiga raka 'at maka lakukanlah. " (HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i)•

Hal ini boleh dilakukan dengan sekali salam, atau shalat dua raka'at dan salam kemudian shalat raka'at ketiga. Atau witir dengan lima raka'at, diiakukan tanpa duduk dan tidak salam kecuali pada akhir raka'at. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Barangsiapa ingin melakukan witir dengan lima raka'at maka lakukanlah. "(HR. Abu Dawud dan An-Nasa'i).

Dari Aisyah radhiallahu 'anha, beliau mengatakan: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasanya shalat malam tiga belas raka'at, termasuk di dalamnya witir dengan lima raka 'at tanpa duduk di salah satu raka 'atpun kecuali pada raka'at terakhir. " (Hadits Muttafaq 'Alaih).

Ketiga hadits tersebut dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban
Atau witir dengan tujuh raka'at; dilakukan sebagaimana lima raka'at. Berdasarkan penuturan Ummu Salamah radhiallahu 'anha : "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasanya melakukan witir dengan tujuh dan lima raka 'at tanpa diselingi dengan salam dan ucapan. "(HR, Ahmad, An-Nasa'i dan Ibnu Majah).

Boleh juga melakukan witir dengan sembilan, sebelas, atau tiga belas raka'at. Dan yang afdhal adalah salam setiap dua rakaat kemudian witir dengan satu raka'at. Shalat malam pada bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan keistimewaan atas shalat malam lainnya.



Shalat malam Ramnahaan mencakup shalat pada permulaan malam dan pada akhir malam.



Shalat tarawih terrnasuk qiyam Ramadhan. Karena itu, hendaklah bersungguh-sungguh dan memperhatikannya serta mengharapkan pahala dan balasannya dari Allah. Malam Ramadhan adalah kesempatan yang terbatas bilangannya dan orang mu'min yang berakal akan memanfaatkannya dengan baik tanpa terlewatkan.

Jangan sampai ditinggalkan shalat tarawih, agar memperoleh pahala dan ganjarannya. Dan jangan pulang dari shalat tarawih sebelum imam selesai darinya dan dari shalat witir, agar mendapatkan pahala shalat semalam suntuk. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : "Barangsiapa mendirikan shalat malam bersama imam sehingga selesai, dicatat baginya shalat semalam suntuk. " (HR. Para penulis kitab Sunan,dengan sanad shahih) Lihat kitab
Majalisu Syahri Ramndhan, oleh Syaikh Ibnu Utsaimin, him. 26-30.

Shalat tarawih adalah sunat, dilakukan dengan berjama'ah lebih utama. Demikian yang masyhur dilakukan para sahabat, dan diwarisi oleh umat ini dari mereka generasi demi generasi. Shalat ini tidak ada batasannya. Boleh melakukan shalat 20 raka'at, 36 raka'at, 11 raka'at, atau 13 raka'at; semuanya baik. Banyak atau sedikitnya raka'at tergantung pada panjang atau pendeknya bacaan ayat. Dalam shalat diminta supaya khusyu', bertuma'ninah, dihayati dan membaca dengan pelan; dan itu tidak bisa dengan cepat dan tergesa-gesa. Dan sepertinya lebih baik apabila shalat tersebut hanya dilakukan 11 raka'at.(Yaitu berdasarkan hadits Aisyah radiallahu'anha yang artinya : " Tiadalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam menambah (rakaat), baik di bulan Ramadhan atau (di bulan) lainya lebih dari sebelas rakaat". (HR. Al-Bukhari dan An-Nasa'i)


Monday, August 16, 2010

Super Dermawan di Bulan Ramadhan


Dari Ibnu Abbas raldhiallahu 'anhuma, ia berkata : "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al-Qur'an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al-Qur'an. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus".{Bukhari dan Muslim}

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan tambahan:
"Dan beliau tidak pernah dimintai sesuatu kecuali memberikannya. "

Dan menurut riwayat Al-Baihaqi, dari Aisyah radhiallahu 'anha :
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta. "

Kedermawanan adalah sifat murah hati dan banyak memberi. Allah pun bersifat Maha
Pemurah, Allah Ta'ala Maha Pemurah, kedermawanan-Nya berlipat ganda pada waktu-
waktu tertentu seperti bulan Ramadhan.

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan, juga
paling mulia, paling berani dan amat sempurna dalam segala sifat yang terpuji; kedermawanan beliau pada bulan Ramadhan berlipat ganda dibanding bulan-bulan lainnya, sebagaimana kemurahan Tuhannya berlipat ganda pada bulan ini.

Berbagai pelajaran yang dapat diambil dari berlipatgandanya kedermawanan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di bulan Ramadhan :

Bahwa kesempatan ini amat berharga dan melipatgandakan amal kebaikan.

Membantu orang-orang yang berpuasa dan berdzikir untuk senantiasa taat, agar memperoleh pahala seperti pahala mereka; sebagaimana siapa yang membekali orang
yang berperang maka ia memperoleh seperti pahala orang yang berperang, dan siapa yang
menanggung dengan balk keluarga orang yang berperang maka ia memperoleh pula seperti
pahala orang yang berperang. Dinyatakan dalam hadits Zaid bin Khalid dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda:

"Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa maka baginya seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya. " (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Bulan Ramadhan adalah saat Allah berderma kepada para hamba-Nya dengan rahmat,
ampunan dan pembebasan dari api Neraka, terutama pada Lailatul Qadar Allah Ta 'ala
melimpahkan kasih-Nya kepada para hamba-Nya yang bersifat kasih, maka barangsiapa
berderma kepada para hamba Allah niscaya Allah Maha Pemurah kepadanya dengan
anugerah dan kebaikan. Balasan itu adalah sejenis dengan amal perbuatan.

Puasa dan sedekah bila dikerjakan bersama-sama termasuk sebab masuk Surga.
Dinyatakan dalam hadits Ali radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sungguh di Surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luamya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. " Maka berdirilah kepada beliau seorang Arab Badui seraya berkata: Untuk siapakah ruangan-ruangan itu wahai Rasulullah? jawab beliau:"Untuk siapa saja yang berkata baik, memberi makan, selalu berpuasa dan shalat malam ketika orang-orang dalam keadaan tidur. " (HR. At-Tirmidzi dan Abu Isa berkata, hadits ini gharib)

Semua kriteria ini terdapat dalam bulan Ramadhan. Terkumpul bagi orang mukmin dalam
bulan ini; puasa, shalat malam, sedekah dan perkataan baik. Karena pada waktu ini orang yang berpuasa dilarang dari perkataan kotor dan perbuatan keji. Sedangkan shalat, puasa dan sedekah dapat menghantarkan pelakunya kepada Allah Ta 'ala.

Puasa dan sedekah bila dikerjakan bersama-sama lebih dapat menghapuskan dosa-dosa
dan menjauhkan dari api Neraka Jahannam, terutama jika ditambah lagi shalat malam.
Dinyatakan dalam sebuah hadits bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Puasa itu merupakan perisai bagi seseorang dari api Neraka, sebagaimana perisai dalam peperangan " ( Hadits riwayat Ahmad, An-Nasa'i dan Ibnu Majah dari Ustman bin Abil-'Ash; juga diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya serta dinyatakan shahih oleh Hakim dan disetujui Adz-Dzahabi.) Hadits riwayat Ahmad dengan isnad hasan dan Al- Baihaqi.

Diriwayatkan pula oleh Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Puasa itu perisai dan benteng kokoh yang melindungi seseorang) dari api Neraka"

Dan dalam hadits Mu'adz radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Sedekah dan shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api" (Hadist riwayat At-Tirmidzi dan katrrnya. "Hadits hasan shnhih. "

Dalam puasa, tentu terdapat kekeliruan serta kekurangan. Dan puasa dapat menghapuskan dosa-dosa dengan syarat menjaga diri dari apa yang mesti dijaga. Padahal kebanyakan puasa yang dilakukan kebanyakan orang tidak terpenuhi dalam puasanya itu penjagaan yang semestinya. Dan dengan sedekah kekurangan dan kekeliruan yang terjadi dapat terlengkapi. Karena itu pada akhir Ramadhan, diwajibkan membayar zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perkataan kotor dan perbuatan keji.

Orang yang berpuasa meninggalkan makan dan minumnya. Jika ia dapat membantu orang lain yang berpuasa agar kuat dengan makan dan minum maka kedudukannya sama dengan orang yang meninggalkan syahwatnya karena Allah, memberikan dan membantukannya kepada orang lain. Untuk itu disyari'atkan baginya memberi hidangan berbuka kepada orang-orang yang berpuasa bersamanya, karena makanan ketika itu sangat disukainya, maka hendaknya ia membantu orang lain dengan makanan tersebut, agar ia termasuk orang yang memberi makanan yang disukai dan karenanya menjadi orang yang bersyukur kepada Allah atas nikmat makanan dan minuman yang dianugerahkan kepadanya, di mana sebelumnya ia tidak mendapatkan anugerah tersebut. Sungguh nikmat ini hanyalah dapat diketahui nilainya ketika tidak didapatkan.

Sunday, August 15, 2010

Ikhtiar dan Tawakkal


Di dalam kehidupan ini, ada empat kemungkinan yang dapat kita jumpai di dalam urusan berikhtiar, apapun bentuk ikhtiar yang kita dilakukan. Kemungkinan pertama, seringkali kita temui orang yang berusaha dan berhasil. Kemungkinan kedua, ada juga orang yang walaupun telah berusaha dengan sekuat tenaga, tetapi kemudian tujuannya tidak tercapai. Yang ketiga, walau pun agak jarang tetapi ada juga orang yang sebenarnya tidak berusaha, atau usaha yang dilakukannya itu minimal, tetapi juga berhasil. Yang terakhir, lebih sering kita jumpai orang yang tidak berusaha, dan tidak berhasil. Jadi, ada orang yang berusaha, berhasil; ada yang berusaha tetapi tidak berhasil; tidak berusaha, berhasil dan terakhir, tidak berusaha, tidak berhasil.

Keempat fakta ini menunjukkan kepada kita, bahwa kita tidak bisa dengan pasti mengetok palu, memastikan bahwa keberhasilan yang kita akan peroleh berbanding sejajar dengan usaha yang kita lakukan. Kalau hal ini kita yakini, maka kita cenderung tidak akan mau menerima kegagalan yang kita terima. Yang harus kita yakini adalah kita hanya berkewajiban berusaha, berusaha dengan segenap kemampuan kita untuk mencapai suatu tujuan. Kemudian setelah kita berusaha dengan maksimal, hasilnya kita serahkan kepada kehendak Ilahi.

Konsep yang harus kita tanamkan di dalam berusaha adalah la haula wa la quwwata illa billah, tiada daya dan kekuatan selain daya dan kekuatan milik Allah. Setelah berikhtiar, kita serahkan kepada Allah, bukan menyombongkan jerih-payah, upaya yang telah kita lakukan. Maka kalau konsep ini sudah tertanam di dalam jiwa kita, ketika berhasil kita tidak lantas bersorak, mengepalkan tinju tinggi-tinggi sambil berteriak, yes! Tidak lupa diri, tetapi justru segera mengingat Allah mengucap syukur memuji karunia-Nya. Sebaliknya, ketika gagal kita tidak lantas menekuk muka, putus asa menganggap kegagalan sebagai akhir segalanya. Tetapi kita lantas segera muhasabah, introspeksi diri mencari penyebab kegagalan untuk perbaikan di masa datang, sambil mengingat bahwa semua cobaan datang dari Allah, dan di balik kesulitan terdapat hikmah, kebaikan.

Yakinlah, bahwa walau pun gagal, usaha yang telah kita lakukan akan dinilai sebagai suatu kebaikan di sisi Allah. Sebuah hadis menjelaskan kepada kita, dengan makna bahwa seandainya kita mempunyai pengetahuan yang sangat jelas bahwa esok akan datang hari kiamat, sedangkan di tangan kita terdapat sebutir biji kacang, kita dilarang untuk membuangnya. Tetapi kita disuruh untuk menanamnya walau pun kita tahu betul bahwa esok akan kiamat. Bukan hasil yang dilihat oleh Allah SWT, akan tetapi jerih payah kita menanam biji kacang itulah yang akan dicatat sebagai suatu kebaikan.

Sekali lagi, mari kita tanamkan konsep la haula wa la quwwata illa billah di dalam setiap bentuk usaha kita agar ketika berhasil kita tidak lantas sombong, lupa daratan, dan tidak terpuruk ketika gagal.

Wallahu a’lam bishowab.