Small Scratch to The World

Tuesday, July 30, 2013

Pembiaran Itu Berbahaya

Mungkin sebagian kita pernah melihat ada anak-anak yang melakukan berbagai hal unik, menarik, menghawatirkan, bahkan dinilai berbahaya namun orang tuanya diam saja, merasa biasa tanpa ada rasa khawatir dan tanpa tindakan.
Ada yang naik di meja, naik jendela, panjat pagar, panjat rangka bangunan yang sedang dibangun, bahkan panjat jendela  bus dan keluarkan kepala keluar bus yang sedang laju, sedang orang tuanya hanya diam tanpa merasa khawatir atau merasa bersalah disaat anaknya melakukan kesalahan.
Kalau ditela'ah lebih dalam, sebagian kita beranggapan hal itu tidak bermasalah. Bahkan mungkin kita tidak merasa ada apa-apa dalam hal demikian alias itu kegiatan hidup biasa saja. Namun tidak untuk sebagian orang yang sangat teliti tentang pendidikan anak di dalam keluarganya. Sekecil apa pun yang dilakukan sang anak tidak akan lepas dari pengawasannya dan tidak akan sunyi dari tegurannya. Karena mereka sadar bahwa setiap kegiatan anak adalah pembelajaran.
Ketika anak melakukan sebuah pekerjaan maka sejatinya dia sedang menimbang sebuah nilai, ketika orang tua diam, berarti itu akan menghasilkan sebuah penilaian bahwa apa yang dilakukan adalah baik dan disetujui. Ketika pekerjaan itu mendapat pujian, maka akan menghasilkan sebuah penilaian bahwa apa yang dilakukan itu istimewa. Ketika pekerjaan itu mendapatkan teguran, maka akan menghasilkan sebuah penilaian bahwa apa yang dilakukan itu salah.
Inilah bukti nyata bahwa pendidikan itu dari buaian hingga liang lahat, dalam artian menyeluruh, tanpa henti dan tanpa celah.
Kadang kita sering menyaksikan ada anak yang begitu ringannya membentak temannya, padahal ada orang tuanya di sanpingnya. Ada juga yang sering mengucapkan perkataan kotor. Ada yang terbisa berprilaku negatif (dalam penilaian lingkungan sosial) padahal di lingkungan sekitarnya itu merupakan hal yang negatif.
Bayangkan saja kalau setiap perbuatan yang dilakukan anak kita diamkan, kita biarkan, maka dia akan membentuk penilaian sendiri terhadap setiap yang dilakukan. Syukurnya kalau itu perbuatan positif, bagaimana kalau perbuatan negatif. Tidak dapat dibayangkan, anak kita melakukan berbagai macam pelanggaran tanpa merasa kalau itu kesalahan. Maka kita akan melahirkan generasi yang selalu merasa benar sekalipun mereka bersalah.
WalLohu 'alam
Share:

0 comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan dan bijaksana cermin kecerdasan pemiliknya

Unordered List


English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

-------------------------------------------------

Blogger competition say it to HIT