Assalamu'alaikum ... Selamat Datang ... Semoga Blog Ini Bisa Memberi Manfaat ... Jangan Bosan Untuk Kembali lagi ^_^

Saturday, December 11, 2010

Hakikat Pengetahuan

Kesempurnaan manusia, dari dimensi ia sebagai maujud manusia, adalah suatu kesempurnaan yang didapatkan dengan pilihan dan ikhtiar. Karena itu bisa dikatakan, kekhususan gerak menyempurna manusia, dari dimensi ia sebagai maujud manusia, adalah gerak menyempurna ikhtiari. Dan ini tidak lain apa yang diisyaratkan di akhir ayat surah al-Ahzab sebagai amanat yang diterima oleh manusia:

"Sesungguhnya Kami telah amanatkan kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, tetapi semua menolak dan enggan menerimanya, maka dipikullah manusia amanat itu, sesungguhnya manusia adalah zhâlim dan jâhil".[1]

Tentang pembahasan-pembahasan yang ada di seputar ayat ini dan tafsirannya, Anda dapat merujuk kepada tafsir al-Mizan.

Amanat dalam ayat ini, apapun bentuk tafsirannya, niscaya berhubungan dengan pilihan, ikhtiar, dan taklif. Dan ini menjadi tanggung jawab manusia dalam berhadapan dengan Tuhan Yang Mahaagung.

Adapun apakah amanat ini adalah hasil dari taklif (dimana dalam sebagian riwayat ditafsirkan dengan wilayat)[2] ataukah taklif itu sendiri dan ataukah mukadimah-mukadimah taklif, yang jelas, mempunyai hubungan dengan taklif.

Supaya manusia dapat memilih sesuatu dan bertanggung jawab terhadapnya, tentu terdapat syarat-syarat yang berhubungan dengan itu, pertama, ia mengenal sesuatu yang menjadi taklifnya dan mengetahui apa tanggung jawabnya berhubungan dengannya. Kedua, terdapat kecenderungan-kecenderungan yang saling berlawanan dalam konteks amal, sehingga tersedia basis untuk ikhtiar dan memilih. Ketiga, terdapat kemampuan untuk mengambil keputusan dan memilih, sehingga dapat memilih salah satu di antara kecenderungan-kecenderungan yang saling berlawanan. Keempat, apa yang dipilih dapat disampaikan pada tahap realisasi, yakni syarat-syarat pelaksanaannya dan kemampuan melaksanakannya, tersedia bagi dia.

Sumber dasar tiga syarat dari mukadimah-mukadimah ini, yakni potensi pengetahuan dan kecenderungan-kecenderungan, kemampuan mengambil keputusan, serta memilih, semuanya telah diadakan dalam institusi manusia secara fitri, akan tetapi syarat-syarat amal dan aplikasi berhubungan dengan sesuatu yang di luar dari wujud manusia. Oleh sebab itu, mesti tersedia juga syarat-syarat di luar (di samping kaki, tangan, dan wasilah-wasilah lainnya yang tersedia dalam diri manusia) sehingga manusia mampu melaksanakan suatu pekerjaan. Karena itu, pada tempatnya kita membahas tentang sumber-sumber dasar fitri yang Tuhan berikan dan bagaimana menyampaikannya pada tingkat aktualitasnya.



Pengetahuan

Kami sudah ungkapkan bahwa syarat yang pertama adalah ilmu, persepsi, atau dengan ungkapan lain pengetahuan. Dalam al-Qur'an, sangat banyak ayat-ayat yang menyinggung tentang masalah ini, dan ayat yang paling jelas mengungkapkan konteks ilmu dan hubungannya dengan ikhtiar dan tanggung jawab manusia, di antaranya:

a."Sesungguhnya Kami ciptakan manusia dari nutfah yang tercampur, kemudian Kami mengujinya, maka dari itu Kami menjadikannya mendengar dan melihat".[3]

Sesudah menyebutkan penciptaan manusia dari nutfah yang tercampur, ayat ini mengisyaratkan pada hikmah penciptaan dan tujuannya yang akan mendapatkan pengujian. Yakni ia akan menghadapi beberapa jalan sehingga tesedia medan untuk merealisasikan tanggung jawabnya. Selanjutnya ayat ini menyebutkan kemampuan persepsi dalam bentuk mendengar dan melihat yang Tuhan berikan kepada manusia.

Dengan memperhatikan hubungan dari kalimat-kalimat ini, kita akan menyimpulkan bahwa untuk "ujian dan cobaan" maka mesti tersedia pendengaran dan penglihatan (pemilihan mendengar dan melihat di antara persepsi manusia yang bermacam-macam, dikarenakan tingkat urgensi dan keluasan dua indera ini dalam mendapatkan pengetahuan). Kesimpulannya, supaya manusia layak untuk diuji dan tujuan penciptaannya di alam ini terjamin maka mesti mempunyai kemampuan mengenal dan mengetahui.

b. "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibu kamu dalam keadaan tidak mengatahui sesuatu apapun dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan "af-idah" (pemahaman), semoga kamu bersyukur".[4]

Di sini terdapat beberapa bahasan:

- Apakah manusia sama sekali tidak mempunyai pengetahuan sebelum dilahirkan?

- Apakah masalah ini mencakup semua manusia?

- Apakah ilmu, hanya dapat diperoleh dari tiga jalan (mata, telinga, dan hati) ini?

- Jika tidak terbatas pada tiga jalan ini, apa sebabnya hanya tiga jalan ini disebutkan?

- Dalam hal pendengaran dan penglihatan, apakah maksudnya hanya dua organ indera ini ataukah yang dimaksud potensi penglihatan dan pendengaran?

- Mengapa pendengaran dibawakan dalam bentuk singular, sedangkan penglihatan dalam bentuk plural?

- Apa yang dimaksud dengan fuâd?

Sebagaimana yang disaksikan, pembahasan ini sangatlah kompleks dan untuk menjawab semua pertanyaan yang melingkupinya tidak dapat dicakup dalam makalah ini, oleh karena itu yang dapat kita utarakan hanyalah bahasan global tentang pendengaran, penglihatan, dan fuâd yang tentunya ini bukanlah dalam tataran batasan, tapi ditinjau dari dimensi urgensinya. Dan adapun apakah manusia sebelum dilahirkan sama sekali tidak memiliki pengetahuan ataukah tidak, berhubungan dengan beberapa pembahasan filosofis:


Apakah manusia, kecuali ilmu-ilmu yang diperoleh dari jalan pendengaran, penglihatan, dan sebagainya, mempunyai juga ilmu lain seperti ilmu hudhuri (presentif) ataukah tidak? Dengan kata lain, apakah nafs (jiwa) mempunyai ilmu terhadap dirinya ataukah tidak? Berasaskan pembahasan filsafat, setiap maujud non-materi (mujarrad) yang mandiri dan substansi, adalah mengetahui dirinya, karena itu ketika nafs mendapatkan keaktualan dan mempunyai tingkatan kenon-materian maka mesti ia memiliki suatu bentuk pengetahuan terhadap dirinya. Dalam masalah ini, mengapa ayat mengatakan bahwa ketika manusia baru terlahir dari perut ibu tidak memiliki pengetahuan sama sekali?
Dari dimensi lain, terungkap pertanyaan ini, apakah manusia memiliki ilmu-ilmu fitri ataukah tidak? Sebagian besar filosof berpandangan bahwa manusia mempunyai suatu bentuk pengetahuan fitri, namun mengapa ayat berkata demikian?
Juga sangat banyak terdapat dalam riwayat bahwa wujud suci Nabi mulia Muhammad Saw dan sebagian dari para Nabi serta Aimmah As, di dalam perut ibu telah mempunyai pengetahuan, bertasbih, dan terkadang dari dalam perut ibu berbicara dengan ibunya, oleh karena itu mengapa ayat berkata: "Tidak mengetahui sesuatu apapun"?



Dalam menjawab pertanyaan 1 dan 2, yang mesti diperhatikan "Ilmu" dalam tinjauan ini dimutlakkan dalam beberapa bentuk. Dalam masyarkat umum, ketika kita katakan ilmu, yang dimaksud ilmu adalah pengenalan dan pengetahuan. Namun dengan menggunakan pendekatan filsafat maka ilmu mempunyai makna bergradasi, yaitu "tidak tahu", "setengah tahu", dan "tahu". "Tidak tahu" adalah ilmu dimana manusia sama sekali tidak mempunyai persepsi tentangnya, bahkan sampai pertanyaan tentangnya, ia berkata: tidak tahu! Akan tetapi dengan eksperimen dan argumentasi akal, dapat dibuktikan bahwa pengetahuan dalam bentuk ini, tanpa diketahui, ada dalam kedalaman hati nurani seseorang.

"Setengah tahu", adalah ketika seseorang tidak tahu bahwa dirinya mengetahui, akan tetapi mungkin saja ia akan mendapatkan pengetahuan, sebagaimana banyak hal (obyek) yang kita ketahui yang kita lupakan dalam kondisi sekarang, akan tetapi dengan bertemu obyek itu, kita menjumpai bahwa kita mengetahuinya.

"Tahu", bermakna kita memiliki ilmu dan kita tahu bahwa kita mengetahuinya.

Oleh karena itu bisa dikatakan: dalam ayat yang menafikan ilmu dari manusia, pertama, dalam pandangannya terhadap ilmu yang diketahui keberadaannya, kedua, tidak bertentangan dengan ilmu yang ada pada manusia dalam bentuk tidak diketahui dan setengah diketahui, akan tetapi dikarenakan tidak memperhatikan pada kedua jenis ilmu itu maka ia tidak menghitungnya sebagai ilmu. Dengan pendekatan pandangan ini maka kita bisa menggabungkan antara ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan keberadaan ilmu huduri manusia terhadap Tuhan, seperti ayat: "Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi".[5]

Oleh karena itu ungkapan: "Kamu tidak mengetahui sesuatu apapun", tidak menafikan pengetahuan hudhuri tentang Tuhan (dalam awal penciptaan) yang tidak diketahui. Adapun tentang pertanyaan apakah ungkapan "Tidak mengetahui sesuatu apapun" itu berhubungan dengan seluruh manusia ataukah manusia-manusia pada umumnya? Jawabnya, anggaplah ayat ini penampakannya (lahiriahnya) berlaku bagi manusia umumnya, semua mereka tidak memiliki ilmu pada awal kelahirannya. Akan tetapi, keumuman ini bisa terkhususkan (maksudnya dapat dikecualikan dengan adanya pengkhususan terhadap anggota-anggotanya) dengan petunjuk-petunjuk luar (dalil khâriji). Di samping itu dapat dikatakan penampakan seperti ini dalam umum dan mutlak, tidaklah timbul dari ayat, akan tetapi ayat dalam kedudukan ihmâl (mengabaikan), berkeinginan memberi perhatian bahwa Tuhan memberikan nikmat-nikmat ini kepada manusia, sehingga manusia menghasilkan ilmu dari jalan pendengaran dan penglihatan. Pembahasan lain yang berkaitan dengan ayat ini tadi, mengapa ia hanya menyebutkan penglihatan, pendengaran, dan pemahaman (mata, telinga, dan hati) sedangkan yang lainnya tidak disebutkannya. Dalam menjawab pertanyaan ini mesti dikatakan bahwa jalan lain untuk memperoleh makrifat dan pengetahuan, bisa didapatkan dengan jalan umum yang ada pada ikhtiar semua orang, seperti penciuman dan perasa, ataukah dengan jalan yang tidak umum, seperti wahyu dan ilham yang terbatas hanya pada Nabi-Nabi dan wali-wali Tuhan. Dan ayat tidak berada pada tataran menjelaskan kelompok akhir ini, sebab mukhatabnya pada semua orang. Adapun tentang kelompok pertama (jalan umum; pencium, perasa, dan lainnya), dikarenakan tingkat urgensinya tidak seberapa besar maka tidak disebutkan. Jadi pada dasarnya ayat bermaksud menegaskan perkara bahwa mesti sarana dan wasilah untuk mendapatkan pengetahuan terhadap hak dan taklif ini digunakan, dan yang sangat penting dalam masalah ini, adalah ketiga potensi ini, serta potensi-potensi lainnya dalam masalah ini tidak mempunyai pengaruh yang berarti.



Penjelasan kata af-idah

Kata fuâd yang dalam al-Qur'an digunakan sinonim dengan qalb (hati), aslinya bermakna organ khusus dalam badan manusia atau hewan yang berperan memompa aliran darah serta berfungsi membersihkannya, namun dalam urf (tradisi, adat) digunakan dengan makna pusat persepsi, emosi, dan perasaan. Adapun hubungan antara makna leksikalnya dengan makna urfnya, kemungkinan timbul dari sisi kebanyakan masyarakat mengkonsepsi bahwa persepsi dan perasaan mempunyai hubungan dengan organ khusus ini, dan al-Qur'an al-Karim juga menggunakannya dengan berlandaskan istilah urf-nya tersebut:

- "Sesungguhnya penglihatan tidak buta, akan tetapi qulub (hati-hati) yang ada di dalam dada yang buta".[6]

Mungkin dapat dikatakan bahwa ini adalah suatu hubungan imajinasi, mengapa al-Qur'an secara terang-terangan mengesahkannya? Dalam menjawabnya dapat dikatakan, sebab al-Qur'an diturunkan dalam bahasa masyarakat, berbicara sesuai dengan istilah masyarakat, karena itu ia tidak mengesahkan apa yang masyarakat khayalkan sebagai kenyataan, pada hakikatnya ia berkata: saya tidak mengatakan mata yang ada di kepala kamu itu buta, akan tetapi saya mengatakan mata hati kamu yang ada dalam dada kamu yang buta.

Juga dapat dikatakan, yang dimaksud dengan dada, adalah bukan dada jasmani, tetapi yang dimaksud dengan hati, adalah potensi pemahaman dan yang dimaksud dengan dada, adalah batin manusia.

- "Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang ada di dalam dada".[7]

Tuhan mengetahui apa yang ada di dalam dada, maksudnya qalbu, yang berfungsi sebagai pusat persepsi, dan dada yakni suatu tingkatan dari batin. Dan juga bisa dikatakan, qalbu (hati), kendatipun bukan tempat emosi dan persepsi, ia adalah organ yang mendahului semua organ lainnya dalam kaitannya dengan ruh dan organ paling akhir yang tidak berfungsi ketika ruh terpisah dari badan. Hubungan ruh dengan badan dalam seluruh organ tubuh tidak dalam satu bentuk hubungan, pada sebagian organ tubuh, seperti hati dan otak, adalah utama. Dan mungkin hubungan ruh dengan hati dari semua yang lainnya adalah lebih utama.

Sebagai kesimpulan, dari berbagai aspek penggunaan fuâd dalam al-Qur'an, dihasilkan bahwa yang dimaksud dengannya bukanlah organ materi dari badan dan bukan juga potensi khusus dari ruh, akan tetapi meliputi potensi yang bermacam-macam.



Dari penelitian ayat-ayat diperoleh penisbahan "persepsi" terhadap qalbu:
"Apakah mereka tidak melakukan perjalanan di muka bumi, dan hati mereka merenungkan tentangnya?"[8]
"Dan sungguh akan Kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati , tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah)… ."[9] Dalam ayat ini digunakan ungkapan "fiqh" yang bermakna pemahaman yang dalam dan mendapatkan hakikat, dan ungkapan ini dinisbahkan kepada qalbu. Dari sisi lain, perasaan dan emosi juga dinisbahkan kepada qalbu, apakah itu baik ataukah buruk.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya".[10]
"Dan apabila yang disebut nama Allah yang Maha Esa, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat".[11]
"Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, hampir saja dia menyatakannya (rahasia tentang Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, agar dia termasuk orang-orang beriman (kepada janji Allah)".[12] Di ayat ini kita jumpai bahwa kata fuad dan qalb, adalah satu, dan fuad serta qalb ini yang didatangi kondisi kegelisahan atau ketenangan.
"Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat".[13]
"Dalam hati mereka ada penyakit lalu Allah menambah penyakitnya itu".[14]
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya."[15]

Dari ayat-ayat di atas dapat kita ketahui bahwa hati adalah sesuatu yang dapat menyaksikan Tuhan, dan makna serta penegrtian seperti ini banyak dijumpai dalam riwayat. Dalam Nahjul Balâgah kita dapatkan ungkapan Imam Ali As: "Mata tidak mempersepsinya dengan penyaksian pandangan, akan tetapi hati yang mempersepsinya dengan hakikat iman". Jenis persepsi ini adalah ilmu atau pengetahuan hudhuri, karena itu dapat dikatakan bahwa hati dari sudut tinjauan al-Qur'an, adalah suatu maujud yang memiliki ilmu hudhuri dan juga mempunyai ilmu hushuli serta juga dapat dinisbahkan kepadanya perasaan, emosi, kegelisahan dan ketenangan. Oleh karena itu, secara ungkapan filsafat, hati bukanlah suatu potensi khusus. Dalam pembahasan filsafat, dikatakan bahwa setiap bentuk perbuatan yang keluar dari manusia, niscaya keluar dari suatu mabda khusus. Ketika kita menyaksikan beragam macamnya persepsi, maka kita akan mengatakan bahwa masing-masing dari mereka mempunyai satu potensi, seperti indera in common, khayal, memori, dan akal. Adapun untuk reaksi jiwa, perasaan, serta emosi jiwa tidak dipandang mempunyai mabda pelaku dan semua itu dinisbahkan kepada jiwa. Di antara filosof, populer pandangan bahwa akal bukanlah suatu potensi khusus, akan tetapi akal (rasionalitas) adalah pekerjaan jiwa. Pandangan ini dapat dikritik dan dikatakan bahwa akal juga dari sisi mempersepsi komprehensi-komprehensi, harus dihitung sebagai suatu potensi. Pada hakikatnya, yang dapat dinisbahkan kepada hakikat nafs, adalah ilmu huduri dan pekerjaan ruh adalah menyaksikan realitas, dan ini merupkan gradasi yang lebih tinggi dari persepsi komprehensi-komprehensi.

Dengan demikian, dapat dipahami makna ini, bahwa setiap bentuk perbuatan yang bersumber dari ruh maka yang dimaksud adalah suatu potensi khusus. Dengan pandangan ini, ketika kata hati kita jadikan bahan telaah, dengan memperhatikan kepada macam-macam penggunaannya maka berdasarkan istilah ini harus dikatakan: hati bukanlah suatu potensi khusus, sebab kepadanya dinisbahkan bermacam-macam perkara yang dari sisi mahiyah satu sama lain adalah berbeda. Sekelompok dari mereka masuk dalam mahiyah infiâl (affection, reaction) dan sekelompok lainnya masuk dalam mahiyah fi'il (act, actus).

Pekerjaan-pekerjaan juga bermacam-macam ragamnya, karena itu hati merupakan jiwa (nafs) manusia dari sudut tinjauan bahwa ia mempunyai persepsi, perasaan, dan emosi. Sehingga di samping itu al-Qur'an juga menisbahkan kepada hati masalah ikhtiar dan pilihan, seperti ayat-ayat:

- "Allah tidak menghukum kamu karena sumpahmu yang tidak kamu sengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena niat (pilihan) yang dilakukan hati kamu".[16]

- "Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang diperhitungkan dosanya) apa yang sengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang".[17]



Dengan demikian jika kita utarakan bahwa dengan memperhatikan perkara-perkara pengungkapan al-Qur'an terhadap hati, maka akan diperoleh bahwa hati sinonim dengan ruh atau nafs yang digunakan dalam filsafat, tentu ungkapan ini tidaklah termasuk sebagai suatu ungkapan yang tak berdasar. Satu-satunya hal yang dapat dikatakan yang dapat dinisbahkan kepada nafs tapi tidak dapat dinisbahakan kepada hati adalah pekerjaan-pekerjaan badan. Nafs memiliki suatu potensi kerja yang mana potensi ini mendorong badan kepada gerakan dan ini tidak pernah dinisbahkan kepada hati. Oleh karena itu, setiap sesuatu yang terkonsepsi memiliki suatu bentuk persepsi di dalamnya, apakah ilmu dan makrifat itu sendiri ataukah kualitas-kualitas ilmu, semuanya dinisbahkan kepada hati, akan tetapi sesuatu yang sama sekali tidak memiliki bentuk persepsi di dalamnya maka tidak dinisbahkan terhadap hati. (Perasaan dan emosi juga dibarengi dengan persepsi).

Kesimpulan: Dari keseluruhan ayat-ayat yang kita telaah, kita peroleh hasil bahwa Tuhan menciptakan bagi manusia wasilah-wasilah untuk memperoleh makrifat dan pengetahuan dan yang terpenting darinya adalah mata, telinga, dan hati.

Di samping ketiga alat persepsi yang disebutkan al-Qur'an tersebut sebagai wasilah manusia untuk mendapatkan ilmu, al-Qur'an juga dengan bahasa khusus berbicara tentang ilmu manusia dalam bentuk lain.

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia tela menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."[18]



Jika yang dimaksud pena berupa suatu benda yang segera terbesit dalam ingatan kita, yakni pena biasa, dan isyarat ayat terhadap penulisan, pada dasarnya mengisyaratkan kepada suatu tahapan lain yang tahapannya lebih terakhir dari semua tahapan sebelumnya, yakni manusia melihat, mendengarkan, dan merenungkan, kemudian sesudah itu menuliskan pikiran-pikirannya.

Yang jelas, meskipun al-Qur'an telah memberikan perhatian khusus terhadap wasilah-wasilah yang beragam untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan, tapi ia juga meninjau pengetahuan lain bagi manusia yang tidak akan dihasilkan dari jalan-jalan biasa, di antaranya adalah ilmu dan makrifat yang didapatkan dari jalan wahyu: "(Allah) Yang Mahapengasih), Yang telah mengajarkan al-Qur'an."[19]

Kita akan mengetahui al-Qur'an dari jalan biasa (manusia pada umumnya), namun, Nabi Saw tidak mendapatkan pengetahuan al-Qur'an dari jalan umum. Dia – keselamatan atasnya beserta Ahlubaitnya yang suci – mendapatkan al-Qur'an dari jalan wahyu.

Dari kitab suci al-Qur'an ini juga kita memperoleh informasi bahwa pengetahuan-pengetahuan yang tidak umum ini juga, tidak hanya terbatas pada wahyu yang diperoleh para nabi As, tetapi kecuali mereka, terdapat orang-orang lain juga yang tidak dari jalan-jalan umum menjadi âlim dan ârif. Terkadang ilmu jenis ini disebut dengan ilmu ladunni, "Dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami"[20]. Yakni ayat ini mengisyaratkan terhadap pengetahuan yang tidak didapatkan dari jalan umum.

Dalam beberapa tempat, al-Qur'an juga menggunakan kata wahyu kepada selain para nabi As, yang mana maksud dari kandungannya adalah ilmu yang dihasilkan tidak dari cara umum:

"Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, "Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai. Dan janganlah engkau takut dan jangan bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul".[21]



Al-Qur'an tentang Hadhrat Maryam berkata:

"(Ingatlah), ketika para malaikat berkata, "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat darinya (yaitu seorang putra), namanya Al-masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia brbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan ketika sudah dewasa, dan dia termasuk di antara orang-orang saleh.[22]



Ilmu ini juga tidak tergolong ilmu biasa, dan kedua wanita agung ini, tidak termasuk nabi, karena itu ilmu tidak terbatas hanya pada jalan umum dan jalan yang tidak umum ini juga tidak terbatas hanya kepada nabi-nabi As. Poin lain yang perlu diperhatikan di sini yakni wahyu yang diungkapkan al-Qur'an terhadap kedua wanita agung tersebut, bukanlah wahyu yang terkhusukan kepada para nabi As. Sebab kata wahyu yang digunakan al-Qur'an, juga meliputi ilham, yakni persepsi atau pengetahuan yang diperoleh seseorang tidak dari jalan umum yang datang dari sisi Tuhan.

Sekarang timbul pertanyaan bagi kita, apakah alat-alat persepsi lahiriah ini yang berada dalam ikhtiar manusia dan juga alat-alat batin akal, adalah cukup bagi manusia untuk mendapatkan segala apa yang dibutuhkan dalam kehidupannya dan dengan alat persepsi lahir dan batin itu ia dapat menentukan mafâsid (keburukan) dan masâlih- nya (kebaikan), serta dengannya ia mampu mengiplementasikan tujuan penciptaannya?

Al-Qur'an dalam hal ini mengatakan bahwa ilmu serta pengetahuan yang telah diberikan kepada manusia, adalah ilmu dan pengetahuan yang tidak seberapa besar nilainya, dengan kata lain, persepsi dan pengetahuan biasa manusia adalah sangat terbatas. Sebab setiap alat persepsi yang ada pada manusia memiliki jangkauan persepsi yang terbatas, juga dalam terciptanya persepsi bergantung terhadap syarat-syarat, persepsi-persepsi ini tidak diperoleh pada setiap waktu dan setiap tempat, demikian juga terdapat kesalahan-kesalahan dalam persepsi-persepsi ini, oleh karena itu manusia dalam berpikir dan menganalisa juga tidak luput dari kesalahan.

Al-Qur'an terkadang mengutarakan:

"Dan tidaklah diberikan ilmu kepada kamu kecuali sedikit."[23]

Juga, berkata:

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui".[24]

Oleh karena itu tidak diragukan bahwa alat-alat persepsi manusia, bukan dalam kondisi yang mampu menjamin seluruh kebutuhan-kebutuhan manusia untuk mendapatkan kesempurnaannya. Dan keterbatasan ini sendiri merupakan keniscayaan daripada kenabian, sebab jika ilmu manusia dapat menjamin kebutuhan-kebutuhannya maka manusia tidak butuh terhadap wahyu. Sebab itu dengan memperhatikan hikmah Ilahi yang memestikan manusia mengenal mafâsid dan masâlih-nya serta mengetahui apa yang ia pilih, maka akal menghukumi bahwa mesti ada jalan lain selain persepsi lahiriah dan batiniah yang ada dalam ikhtiar mereka.

Penjelasan singkat ini dapat dirumuskan dalam bentuk dua mukadimah:

1. Tujuan Tuhan dari penciptaan manusia di alam ini adalah manusia dengan ikhtiarnya, melewati jalan ini.

2. Akal dan alat persepsi lain manusia tidak cukup untuk mengenal jalan benar dari jalan salah.

Jadi, mesti nabi-nabi diutus dan wahyu diturunkan. Kemestian ini bukanlah jenis perintah, akan tetapi keniscayaan silogisme itu sendiri. Yakni dengan tinjauan bahwa manusia mesti meraih tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan dan akal melihat bahwa mukadimah-mukadimah untuk mengahasilkan perkara ini adalah nâqish (tidak sempurna, kurang), maka ia menghukumi keniscayaan jalan lain untuk itu.



Jika Tuhan menginginkan mencapai tujuan-Nya dari penciptaan manusia (niscaya menginginkan), mesti meletakkan jalan pengetahuan dalam ikhtiar manusia, dan karena apa yang ada dalam ikhtiar semua manusia secara umum tidak cukup maka mesti ada jalan lain yang secara khusus.

Yang jelas, tidak diragukan bahwa ilmu manusia secara umum adalah sangat terbatas, dan sebelumnya telah kami singgung bahwa al-Qur'an mempunyai dua macam tinjauan tentang ilmu: ilmu umum (biasa) dan ilmu khusus (tidak biasa).

Pengetahuan biasa, apakah ia husuli atau huduri, semuanya dalam ikhtiar manusia. Sedangkan pengetahuan khusus, adalah pengetahuan yang dikhususkan pada sebagian manusia yang juga apakah ia hushuli atau hudhuri.

Ilmu dan pengetahuan kenabian masuk dalam kategori ilmu yang tidak biasa (khusus) yang berada dalam ikhtiar para nabi As dan dari mereka berpindah kepada yang lainnya.

Adapun tentang hakikat wahyu, adalah ilmu bagaimana, apakah ia husuli atau huduri, merupakan bahan pembahasan dan pengkajian, dan karena kita sendiri tidak merasakan dan mendapatkan hakikat wahyu maka kita secara akurat tidak dapat menghukuminya. Secara global kita hanya dapat mengungkapkan bahwa dalam wilayah ini juga terdapat sejumlah ilmu hudhuri dan sejumlah ilmu hushuli. Dalam sebagian hal dari wahyu, sebagaimana yang datang dari al-Qur'an dan riwayat bahwa kalam dilontarkan kepada nabi atau suatu tulisan diperlihatkan kepadanya, kendatipun bahwasanya penglihatan terhadap yang tertulis dan pendengaran terhadap kalam pada hakikatnya dari jalan ilmu huduri, akan tetapi reaksi maknanya dalam akal, adalah ilmu husuli. Juga mungkin sebagian dari jenis wahyu, adalah huduri murni, akan tetapi kemudian nabi sendiri yang menafsirkannya secara husuli, sebagaimana kita kadang merasakan takut dan mendapatkannya dengan ilmu huduri serta kemudian kita memperoleh pemahaman darinya yang merupakan jenis ilmu husuli.

Pertanyaan lain yang dapat diutarakan adalah berhubungan dengan pengetahuan para nabi tentang hakikat alam. Apakah para nabi As mempersepsi seluruh hakikat alam dengan wahyu ataukah hanya sebagian?

Apa yang diniscayakan argumentasi ini dan dalil-dalil lainnya tentang wahyu dan kenabian, adalah setiap pengetahuan yang daruri bagi jalan kesempurnaan manusia dan tidak disediakan dari jalan akal maka mesti ia terjamin dari jalan wahyu.

Kemestian burhan ini tidak lebih dari ini, akan tetapi juga tidak menafikan yang lain, yakni mungkin saja terdapat sesuatu yang tidak dibutuhkan manusia, namun Tuhan secara melebihkan juga melontarkan kepada nabi dari jalan wahyu. Apa yang dari jalan wahyu berada dalam ikhtiar manusia, tidak diragukan adalah masalah-masalah yang terbatas, akan tetapi sampai batas apa yang para nabi As sendiri dapatkan dengan wahyu, harus dibuktikan dari jalan lain. Dalam konteks ini terdapat tinjauan yang beragam dari riwayat dan ayat: sebagian dari ayat dan riwayat, dari satu sisi, diperoleh kejelasan bahwa pengetahuan para nabi terbatas terhadap masalah-masalah khusus, dan dari sisi lain, dari sebagian ayat dan riwayat lain (dan secara khusus riwayat), diperoleh keterangan bahwa tidak hanya para nabi As, bahkan selain mereka, juga terdapat orang-orang yang mempunyai ilmu terhadap "apa yang ada dan terjadi" serta "apa yang akan ada dan terjadi". Di antara mereka itu adalah Salman al-Farisi Ra.

Pembahasan ini mempunyai aspek dan sisi yang beragam, yang mana dalam hal ini kita tidak dapat mengungkapkan seluruhnya. Yang urgen kami utarakan di sini adalah di dalam al-Qur'an terdapat sekelompok ayat yang menyebutkan bahwa ilmu gaib khusus bagi Tuhan:

"Katakanlah (Muhammad), "Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah".[25]



Dari sisi lain terdapat juga ayat-ayat yang menyebutkan bahwasanya terdapat orang-orang yang mempunyai ilmu gaib dan mengimformasikan juga kepada yang lain, misalnya salah satu dari mukjizat nabi Isa As menurut al-Qur'an adalah beliau berkata:

"Aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu".[26]



Dalam memecahkan masalah ini yang konteksnya masing-masing mempunyai ayat maka bagaimana harus menggabungkannya? Dapat dikatakan: Kata "gaib" yang bermakna "rahasia" atau "tersembunyi", digunakan dalam beberapa peristiwa atau hal yang dalam setiap peristiwa atau hal mempunyai kekhususan:

- Terkadang gaib dimaknakan dengan apa saja yang tersembunyi dari penginderaan kita, niscaya ini adalah suatu makna yang relativ, sebab mungkin saja sesuatu adalah tersembunyi dari penglihatan seseorang, akan tetapi sesuatu itu bagi orang lain adalah terlihat, dan mungkin saja sesuatu di bagian planet bumi tersembunyi bagi kita dan bagi penghuni bagian planet itu adalah nampak.

Gaib ini adalah gaib dari indera, yang mana akal dalam hal ini dapat mempersepsinya dan mengkonstruksi argumen atas keberadaannya, al-Qur'an terkadang menggunakan gaib dengan makna ini:

"Mereka beriman terhadap yang gaib".[27]



Semua orang beriman harus iman terhadap yang gaib dan mengetahuinya, sebab ketika mereka tidak ketahui, mereka tidak boleh beriman kepadanya. Semua kita memiliki ilmu terhadap keberadaan Tuhan, wahyu, dan hari kiamat (eskatologi) dan semua ini adalah gaib. Oleh karena itu, gaib dengan makna ini adalah gaib dari ilmu-ilmu biasa, namun ilmunya dalam ikhtiar semua manusia. Setiap manusia dapat memperoleh informasi tentangnya, kendatipun ini gaib dari panca indera.

- Terkadang gaib dikatakan dengan makna tersembunyi dari persepsi orang-orang biasa, apakah itu persepsi indera ataukah persepsi akal.

Kita tidak mampu mengetahui peristiwa dan kenyataan seribu tahun yang lalu (dan juga peristiwa yang akan datang), alat-alat penginderaan kita, sebelum keberadaan kita tidak memperoleh perentangan penginderaan, akan tetapi jika seseorang yang hidup di masa yang lalu memberitakan kepada kita maka kita akan mengetahui. Gaib dengan makna ini juga diungkapkan oleh al-Qur'an:

"Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal kamu tidak bersama mereka (sehingga kamu menyaksikan sendiri mereka)".[28]

Bagi sebagian manusia mungkin saja mereka mendapatkan pengetahuan terhadap ilmu gaib ini, tapi mereka memperolehnya dari jalan tidak biasa, misalnya wahyu.

- Terkadang ilmu gaib dikatakan terhadap ilmu yang tidak diperoleh dengan usaha, ini merupakan kekhususan Tuhan, dan manusia dengan sendirinya tidak dapat menjangkaunya. Jika seseorang ingin sampai kepadanya maka ia mesti mendapatkan pengajaran Tuhan. Jadi makna ini yang dimaksud dari ayat-ayat al-Qur'an di bawah ini:

"Tidak mengetahui… gaib kecuali Allah."[29]

"Sungguh, segala yang gaib itu hanya milik Allah".[30]

"Dan disisi-Nya kunci-kunci gaib, tidak mengetahuinya kecuali Dia".[31]



Ilmu gaib bentuk ini, yang alim terhadapnya hanyalah Allah Swt dan ilmu gaib jenis ini bukan jenis iktisâbi (diperoleh dengan jalan usaha).

Dan adapun bagaimana kita mempredikasikannya dengan makna ini dan apa dalilnya? Dengan karinah dua kelompok ayat sebelumnya, al-Qur'an sendiri berkata kepada Nabi: Kami telah wahyukan kepadamu matlab-matlab gaib dan Nabi menjadi alim terhadapnya, dan juga orang-orang beriman yang mempunyai keyakinan terhadap gaib, niscaya mereka alim terhadapnya, karena itu, dalam dua bentuk ilmu gaib ini, tidak ada tempat keraguan dan pengingkaran.

Satu kelompok lainnya adalah jelas, semua kita mengetahui bahwa sangat banyak benda-benda yang gaib dari panca indera kita, tetapi kita dengan akal dapat mempersepsi dan mengkonsepsinya, misalnya ilmu terhadap eksistensi Tuhan, tidak ada tempat untuk ragu bahwa ilmu ini tidak hanya terbatas pada Tuhan sendiri. Atau ilmu-ilmu yang kita peroleh dengan wasilah pengajaran Tuhan, seperti keyakinan kita terhadap alam barzakh, dimana pengetahuan ini jika Tuhan tidak katakan kepada kita, tidak ada kemampuan bagi kita untuk mengetahui apa yang akan terjadi sesudah kematian anak manusia.

Oleh karena itu, apa yang gaib dari persepsi indera kita dan kita tidak mampu sampai padanya, kita akan menjadi tahu lewat pengajaran yang lain. Jadi ilmu gaib yang terbatas hanya bagi Tuhan, adalah ilmu gaib dzâti (hakiki).

Sebagai bukti lainnya sabda imam Ali As yang berulang-ulang kali diucapkannya: "Sebelum kamu kehilangan aku, apa saja yang engkau inginkan tanyakanlah!"[32] Suatu waktu seseorang bertanya: Apakah Kamu mengetahui yang gaib?" Imam As menjawab: "Pengajaran ilmu ini dari yang mengetahuinya, dan sesungguhnya saya belajar dari yang mengetahui gaib".[33]

Dengan demikian sudah jelas permasalahan bahwa ilmu yang terkhusus Tuhan adalah ilmu yang bukan iktisâbi. Oleh karena itu menurut al-Qur'an, kita tidak punya dalil bahwa nabi dan imam serta sebagian dari wali-wali, tidak mampu mengetahui yang gaib, justru kita mempunyai dalil kebalikan dari itu. Pada hakikatnya, kepengetahuan nabi pada kalam dan wahyu Tuhan, ini sendiri merupakan ilmu gaib dan karena itu al-Qur'an berkata:

"Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya…"[34]



Jadi pembawa pesan dan rasul yang Tuhan utus (apakah itu nabi ataukah malaikat), adalah alim terhadap gaib, akan tetapi Tuhan yang membuat mereka mengetahuinya, dan jika Tuhan tidak melakukan ini maka mereka dengan sendirinya tidak akan mempunyai ilmu terhadap gaib. Dan ini adalah penegasian ilmu gaib dzâti dari selain Tuhan. Adapun kisaran gaib seberapa kadarya, harus dikatakan bahwa semua nabi tidak sama dan satu dalam hal ini. Yakni mungkin sebagian dari nabi atau sebagian dari auliyâ Tuhan, mempunyai ilmu yang nabi lainnya tidak miliki. Kita tidak punya dalil bahwa setiap orang yang diangkat sebagai nabi maka pengetahuannya terhadap gaib adalah sama dan satu dengan para nabi lainnya, tetapi dapat dikatakan kita memilki dalil dari kebalikan makna ini.

Jika dikatakan: ketika sebagian dari nabi tidak alim terhadap gaib, maka sudah jelas orang-orang yang bukan nabi tidak akan mampu mempunyai pengetahuan terhadap gaib.

Ungkapan ini tidaklah benar, sebab kenabian adalah maqam khusus, dimana Tuhan berikan kepada sebagian dari manusia berasaskan sebagian dari maslahat dan hikmah-Nya, dan hanya dengan kenabian bukanlah dalil keutamaan atas seluruh makhluk dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Terdapat kemungkinan seseorang bukan nabi, tetapi maqamnya lebih tinggi dari maqam-maqam para nabi As (kecuali nabi besar Muhammad Saw), sebagaimana para imam maksum As, kecuali Nabi Mulia Muhammad Saw, lebih utama dari semua nabi As bahkan dari Ulul Azhmi As.

Adapun kemungkinan seseorang bukan nabi memiliki pengetahuan terhadap gaib, hal ini menurut akal tidaklah mustahil. Sebab dari ayat-ayat tidak ada yang menafikan subyek ini, dan ketika kita mengetahui bahwa ilmu gaib terkhusus Tuhan adalah ilmu gaib dzati, maka jika Tuhan sendiri yang menghendaki seorang hambanya yang mempunyai kelayakan memperoleh pengetahuan gaib, siapakah yang dapat mencegah akan hal ini? [www.wisdoms4all.com]



Daftar Sisipan

[1] . Qs. al-Ahzab: 72.

[2] . Tafsir Nur Tsaqalain, Jilid, 4, Hal. 309-314.

[3] . Q.S: al-Insan: 2.

[4] . Q.S: an-Nahl: 78.

[5] . Qs. al-A'raf: 172.

[6] . Qs. Haj: 6.

[7] . Qs.: Lukman: 23.

[8] . Qs. Haj: 46.

[9] . Qs. al-Araf: 179.

[10] . Qs. al-Anfal: 2.

[11] . Qs. az-Zumar: 45.

[12] . Qs. al-Qasas: 10.

[13] . Qs. Ali Imran: 7.

[14] . Qs. al-Baqarah: 10.

[15] . Qs. al-Mutaffifîn: 14-15.

[16] . Qs. al-Baqarah: 225.

[17] . Qs. al-Ahzab: 5.

[18] . Qs. al-'Alaq: 1-5.

[19] . Qs. Ar-Rahman: 1-2.

[20] . Qs. al-Kahfi: 65.

[21] . Qs. al-Qasas: 7.

[22] . Qs. Ali Imran: 45-46.

[23] . Qs. al-Isra': 85.

[24] . Qs. al-Baqarah: 216.

[25] . Qs. an-Naml: 65.

[26] . Qs. Ali Imran: 49.

[27] . Qs. al-Baqarah: 3.

[28] . Qs. Ali Imran: 44, Yusuf: 102.

[29] . Qs. an-Naml: 65.

[30] . Qs. Yunus: 20.

[31] . Qs. al-An'am: 59.

[32] . Nahjul Balâgah, Khutbah 92, Hal. 264 dan Khutbah 231, Hal. 752.

[33] . Nahjul Balâgah, Hal. 389.

[34] . Qs. al-Jinn: 26-27.

No comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan dan bijaksana cermin kecerdasan pemiliknya