Small Scratch to The World

Tuesday, May 11, 2010

Amal yang Tetap Bermakna


Berhati-hatilah bagi orang yang ibadahnya temporal, karena bisa jadi perbuatan tersebut merupakan tanda-tanda keikhlasannya belum sempurna. Karena aktivitas ibadah yang dilakukan secara temporal tiada lain, ukurannya adalah urusan duniawi. Ia hanya akan dilakukan kalau sedang butuh, sedang dilanda musibah, atau sedang disempitkan oleh ujian dan kesusahan, jadi meningkatlah amal ibadahnya. Tidak demikian halnya ketika pertolongan Alloh datang, kemudahan menghampiri, kesenangan berdatangan, justru kemampuan bersenang-senangnya bersama Alloh malah menghilang.

Bagi yang amalannya temporal, ketika menjelang pernikahan misalnya, tiba-tiba saja ibadahnya meningkat, sholat wajib tepat waktu, puasa sunnah dijalani, dan bahkan tahajjud pun tampak khusyu’. Tapi anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajjud, sholat subuh pun terlambat. Ini perbuatan yang memalukan. Sudah diberi kesenangan justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dalam bertaqarrub kepada Alloh sebagai bentuk ungkapan rasa syukur.

Ketika berwudhu, misalnya, ternyata di samping ada seorang ulama yang cukup terkenal dan disegani, wudhu kita pun secara sadar atau tidak tiba-tiba dibagus-baguskan. Lain lagi ketika tidak ada siapa pun yang melihat, wudhu kita pun kembali dilakukan dengan seadanya dan lebih dipercepat.

Atau ketika menjadi imam sholat, bacaan Qur’an kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi sebaliknya ketika sholat sendiri, sholat kta menjadi kilat, padat, dan cepat. Kalau sholat sendirian dia begitu gesit, tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus.

Hati-hatilah bisa jadi ada sesatu di balik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini. Karenanya kalau melihat amal-amal yang kita lakukan jadi melemah kualitas dan kuantitasnya jika diberi kesenangan maka itulah tanda bahwa kita kurang ikhlas dalam beramal.

Hal yang berbeda dengan hamba-hambaNya yang telah mencapai maqam ikhlas, maqam di mana seseorang hamba mampu beribadah secara istiqomah dan terus menerus berkesinambungan. Ketika diberi kesusahan, dia akan segera saja bersimpuh sujud merindukan pertolongan Alloh. Sedangkan ketika diberi kelapangan dan kesenangan yang lebih lagi, justru dia semakin bersimpuh dan bersyukur lagi atas nikmatNya ini.

Orang-orang yan ikhlas adalah orang yang kualitas beramalnya dalam kondisi ada atau tidak ada orang yang memperhatikannya adalah sama saja. Berbeda dengan orang yang kurang ikhlas, ibadahnya justru akan dilakukan lebih bagus ketika ada orang lain yang memperhatikannya, apalagi bila orang tersebut dihormati dan disegani.

Sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar bagi orang-orang yang ikhlas ini. Betapa tidak? orang-orang yang ikhlas akan senantiasa dianugerahi pahala, bahkan bagi orang-orang ikhlas, amal-amal mubah pun pahalanya akan berubah jadi pahala amalan sunnah atau wajib. Hal ini akibat niatnya yang bagus.

Berkaitan dengan niat ini seorang ulama ahli hikmah ini berkata, “Terkadang amal yang sedikit menjadi banyak oleh sebab niat, dan sebaliknya kadangkala amal yang banyak menjadi sedikit hasilnya, juga karena niat!”

Pantaslah bila Yahya bin Abi Katsir menganjurkan kepada kita untuk senantiasa mempelajari dan mengetahui akan pentingnya niat ini dalam beramal, dia berkata,”Pelajarila h niat, karena ia lebih menyampaikan kepada tujuan ketimbang amal.”

Rasululloh SAW sendiri menasihatkan kepada kita, “Bahwa sesungguhnya amal itu tergantung kepada niatnya, dan bagi seseorang adalah apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang niat hijrahnya adalah kepada Alloh dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Alloh dan RasulNya. Dan Barangsiapa yang hijrahnya karena ingin dunia atau karena perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu adalah kepada apa yang ditujunya.” (H.R Bukhari)

Maka bagi orang-orang yang ikhlas, dia tidak akan melakukan sesuatu kecuali ia kemas niatnya lurus kepada Alloh saja. Kalau hendak duduk di kursi diucapkannya, “Bismillahirrohmanir rohim, ya Alloh semoga aktivitas duduk ini menjadi amal kebaikan.” Lisannya yang bening senantiasa memuji Alloh atas nikmatnya berupa karunia bisa duduk sehingga ia dapat beristirahat menghilangkan kepenatan. Jadilah aktivitas duduk ini sarana taqarrub kepada Alloh.

Karena banyak pula orang yang melakukan aktivitas duduk, namun tidak mendapatkan pertambahan nilai apa pun selain menaruh (maaf!) pantat di kursi. Tidak usah heran bila suatu saat Alloh memberi pengingatan dengan sakit ambeyen atau bisul, sekedar kenang-kenangan bahwa aktivitas duduk adalah anugerah nikmat yang Alloh karuniakan kepada kita.

Begitupun ketika makan, sempurnakan niat dalam hati, sebab sudah seharusnya di lubuk hati yang paling dalam kita meyakini bahwa Alloh-lah yang memberi makan tiap hari, tiada satu hari pun yang luput dari limpahan curahan nikmatnya.

Kalau membeli sesuatu, perhitungkan juga bahwa apa yang dibeli diniatkan karena Alloh. Ketika membeli kendaraan, niatkan karena Alloh. Karena menurut Rasululloh SAW, kendaraan itu ada tiga jenis, 1) Kendaraan untuk Alloh, 2)Kendaraan untuk syaitan, 3) Kendaraan untuk dirinya sendiri. Apa cirinya? kalau niatnya benar, dipakai untuk mashlahat ibadah, mashlahat agama, maka inilah kendaraan untuk Alloh. Tapi kalau sekedar untuk pamer,riya, ujub, maka inilah kendaraan untuk syaitan. Sedangkan kendaraan untuk dirinya sendiri, misalkan kuda dipelihara, dikembangbiakkan, dipakai tanpa niat, maka inilah kendaraan untuk diri sendiri.

Pastikan bahwa jikalau kita membeli kendaraan, niat kita tiada lain hanyalah karena Alloh. Karenanya bermohonlah hanya kepada Alloh, “Ya Alloh saya butuh kendaraan yang layak, yang bisa meringankan untuk menuntut ilmu, yang bisa meringankan untuk berbuat amal, yang bisa meringankan dalam menjaga amanah.” Subhanalloh bagi orang yang telah meniatkan seperti ini, maka, bensinnya, tempat duduknya, shockbreaker-nya, dan semuanya dari kendaraan itu ada dalam timbangan kebaikan insyaAlloh. Sebaliknya jika digunakan untuk maksiat, maka kita jugalah yang akan menanggung balasan dosanya.

Kedasyatan lain dari seorang hamba yang ikhlas adalah akan memperoleh pahala amal, walaupun sebenarnya belum menyempurnakan amalnya, bahkan belum mengamalkannya. Inilah istimewanya amalan orang yang ikhlas. Suatu saat, misalkan hati sudah bulat meniatkan mau bangun malam untuk tahajud, “Ya Alloh saya ingin tahajud, bangunkan jam setengah empat pagi ya Alloh Weker pun diputar, istri diberi tahu bahwa jam setengah empat kita akan tahajud. “Ya Alloh saya ingin bersujud kepada-Mu di waktu ijabahnya doa.” Berdoa dan tidurlah ia dengan tekad bulat akan bangun tahajud.

Sayangnya, ketika terbangun ternyata sudah adzan subuh. Bagi hamba yang ikhlas, justru dia akan gembira bercampur sedih. Sedih karena tidak kebagian sholat tahajud dan gembira karena ia masih kebagian pahalanya. Bagi orang yang sudah berniat untuk tahajud dan tidak dibangunkan oleh Alloh, maka kalau ia sudah bertekad, Alloh pasti akan memberikan pahalanya. Mungkin Alloh tahu, hari-hari yang kita lalui akan menguras banyak tenaga. Alloh Maha tahu apa yang akan terjadi, Alloh juga Mahatahu mungkin kita telah defisit energi karena kesibukan kita terlalu banyak. Hanya Alloh-lah yang menidurkan kita dengan pulas.

Sungguh apa pun amal yang dilakukan seorang hamba yang ikhlas akan tetap bermakna, akan tetap bernilai, dan akan tetap mendapat balasan pahala yang setimpal. Tidak tergantung pula pada besar kecilnya amalan tersebut. Subhanalloh

Wallohu ‘alam bi showab
Share:

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Komentar yang sopan dan bijaksana cermin kecerdasan pemiliknya

Unordered List


English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

-------------------------------------------------

Blogger competition say it to HIT