Small Scratch to The World

Saturday, January 3, 2009

Sederhana Bukan Berarti Miskin

Apabila sejenak kita menoleh ke masa kehidupan para sahabat Nabi, maka akan kita dapati sebagian besar para sahabat hidup di tengah-tengah kesederhanaan, bahkan Nabi saw sendiri hidup sangat sederhana. Rumah Beliau bila digunakan untuk tidur, maka ujung kepala dan ujung kaki menyentuh dinding rumah, sehari-hari mereka sering puasa dikarenakan kererbatasan logistik. Suatu hari sahabat Umar bin Khattab pernah menangis karena melihat bekas tikar yang menempel pada wajah mulia Nabi saw, Umar menawarkan kepada Nabi kasur yang empuk, namun Nabi secara lembut menolaknya dan lebih menyukai menggunakan tikar.

Kita tidak pernah membayangkan bahwa manusia-manusia yang hidup pada masa-masa yang dipenuhi oleh orang-orang luar biasa, orang-orang cerdas, para pemimpin sejati dan rakyat yang bertaqwa ternyata merupakan sekumpulan orang-orang yang tidak berpenampilan serba wah, yah… kalau dalam istilah sekarang culun dan tidak necis, penampilan mereka selalu sedernana namun terlihat rapi, anggun dan berwibawa.
Sekarang yang menjadi pertanyaan sebagian orang adalah, apakah yang menjadi dasar dari sikap mereka itu ?????. Apakah karena mereka miskin, melarat, tidak punya apa-apa, dan sebagainya…..???!!!.
Sekarang akan kita coba telusuri sebab-sebab tersebut, kita akan mulai dari Nabi saw. Nabi merupakan sosok yang sangat sederhana dalam segala hal, baik itu pemanpilan maupun gaya hidup, tapi yang menarik adalah Beliau adalah sosok yang hoby bersedekah, tiada waktu tanpa bersedekah, sampai-sampai Aisyah ra, istri belia menyatakan bahwa tidak pernah ada harta benda maupun makanan yang singgah terlalu lama di dalam rumah melainkan akan segera berpindah ke tangan orang lain yang lebih membutuhkannya, bahkan sampai ajal menjemput… di tangan beliau masih ada beberapa keping uang yang belum sempat di sedekahkan dan itu dititipkannya kepada putrinya, Fatimah ra.
Kemudian Abu Bakar As Siddiq ra, beliau adalah termasuk keluarga terpandang, dalam istilah kita golongan ningrat lah …, pada suatu hari ada anjuran untuk bersedekah karena kaum muslimin memerluakan dana yang besar untuk sebuah perjalanan jihad, sebagian besar sahabat pun mengeluarkan harta mereka, ada yang ¼ bagian, 1/3 bagian, ½ bagian dan sebagainya. Sedabgkan Nabi sendiri menganjurkan untuk menyedekahkan 1/3 dari harta, karena 2/3 yang lain digunakan untuk keperluan keluarga dan menabubung. Lain halnya dengan Abu Bakar ra, ia menafkahkan hampir semua harta yang dimilikinya, ketika ditanya oleh Nabi tentang bagian keluarganya, ia hanya menjawab bahwa bagian untuk keluarganya adalah Allah dan RasulNya.
Lalu Ustman bin Affan, ia seorang saudagar yang kaya raya, ketika kaum muslimin memerlukan air, beliaulah yang membeli sumur dari orang-orang yahudi yang kemudian digunakan oleh kaum muslimin, setiap ada panggilan jihad, maka beliau merupakan orang pertama dan terbesar dalam mengeluarkan sedekah hartanya. Tapi bila dilihat gaya hidupnya, pakaiannya nayak tambalan di sana-sini dan sehari-hari sering berpuasa.
Dari beberapa contoh tersebut, dapat kita pahami bahwa mereka bukanlah orang-orang miskin yang kita kira selama ini, bahkan dengan kemampuan mereka, bukan suatu hal yang mustahil mereka bisa menjadi orang yang terkaya, tapi mengapa mereka lebih menyukai kesederhanaan, sangat bertolak belakan dengan keadaan kita yang terkesan selalu ingin berpenampilan serba wah, padahal bila didekati ternyata tidak punya apa-apa. Ternyata kesederhanaan memiliki kekuatan yang luar biasa, selain untuk menghindari sikap takabbur, ia merupakan sikap yang sangat mulia dihadapan Allah dan di hadapan manusia.
Share:

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Komentar yang sopan dan bijaksana cermin kecerdasan pemiliknya

Unordered List


English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

-------------------------------------------------

Blogger competition say it to HIT