Small Scratch to The World

Saturday, January 3, 2009

Berani Berkorban, Capai Kemajuan

“Hidup merupakan pengorbanan” demikianlah pepatah mengatakan. Bila kita amati kalimat tersebut dengan seksama, maka sejenak kita akan termenung “bila hidup ini adalah pengorbanan, berarti tiap detik hidup yang kita lalui harus dibarengi dengan pengorbanan, jadi pengorbanannya ga penah berhenti dunk ?????” “Ya… iya lha…!!!!”, “waduh … kok serem banget sich ?” “ kata siapa serem, orang yang takut berkorban itu hanyalah seorang pecundang / pengecut yang ga akan pernah maju, waspadalah… waspadalah… waspadalah… kata bang Rapi eh salah, bang Napi maksudnya” begitulah sedikit dialog yang terjadi dalam hati seorang pemimpin.

Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa hidup kita memang dipenuhi oleh segala hal yang menuntut sebuah pengorbanan, sebagai contoh kecil adalah untuk mendapatkan kaki yang selalu bersih dari kotoran kita harus mengorbankan sandal antik yang baru kita beli kemarin dengan harga mahal di sebuah pusat perbelanjaan bernama Palma untuk diinjak-injak, iya ga… ??? ayo jawab yang jujur he… he… he… Nah sekarang siapa di antara kita yang masih merasa takut untuk berkorban, atau mungkin mampu melakukannya tapi sangat malas untuk menerapkannya, sebagai contoh adalah kita mampu untuk menegeluarkan sedekah tapi sangat sayang duit hingga untuk mengeluarkan Rp 100,- saja sangat berat, atau contoh lain kita mampu dan banyak kesempatan untuk belajar dan membaca tapi kita tidak mau mengorbankan sedikit waktu bermain kita untuk sekedar membuka buku.
Dari kenyataan tersebut, setidaknya sekarang ada sedikit semangat kita untuk berubah dari yang cemen menjadi seorang yang pemberani, dari seorang yang malas menjadi seorang yang selalu rajin dan sebagainya. Jangan pernah terpikir oleh kita untuk merasa puas terhadap keadaan kita yang begini-begini saja, kita masih perlu maju lagi ke depan dan lebih ke depan lagi, apalagi sebagian pembaca saya yakin masih muda jadi tidak ada alasan untuk menjadi orang yang cemen. Jangan terlalu membayangkan bahwa berkorban adalah sebuah hal yang menakutkan, karena membuang ludah saja sudah terhitung berkorban lho, coba kalau kita takut berkorban, yang jangan dibuang itu ludah. sama halnya dengan bersedekah yang memang merupakan pengorbanan. Mengapa saya hubungkan antara berkorban dan bersedekah, karena memang keduanya sangat erat hubungannya. Ketika kita melangkah kan kaki kita keluar rumah, maka kita sudah siap untuk bersedekah kepada seluruh alam, sebagai contoh ringan adalah ketika bertemu orang, maka hal yang pertama kita lakukan adalah tersenyum, dan senyum itu adalah sedekah dimana kita harus mengorbankan rasa malu yang ada di dalam hati kita, iya kan …????
Saya yakin yang membaca tulisan ini merupakan seorang pejuang hidup yang pemberani, yang rela berkorban apa saja, apalagi untuk agama Allah, kalau pun tebakan saya meleset, setidaknya dengan ini ia bisa tersentak dan merasa malu terhadap dirinya, kenapa harus malu ???, iya… dunk, karena semut saja rela mati untuk sekedar menjaga telur yang ada dalam pikulanya, bahkan telur itu terus di cengkamnya sampai ajal menjemputnya, bagaimana dengan kita yang hanya untuk mengeluarkan unang Rp 1000,- untuk ongkos taksi ke sekolah saja kadang tidak mau, bagaimana bisa maju kalau masih takut berkorban.
Mari … sebagai generasi muslim tentunya, kita songsong masa depan dengan epampuan yang ada pada tangan kita ini, jangan takut apapun kecuali hanya kepada Allah, bila Allah saja mengatakan “… janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..{al-ayat}”, kalau kita masih cemen terhadap keadaan dan takut untuk berkorban, ya… mending jadi mayat aja, tinggal tidur dengan tenang dan menunggu pukulan dari pasangan duet malaikat Munkar-Nakir.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Komentar yang sopan dan bijaksana cermin kecerdasan pemiliknya

Unordered List


English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

-------------------------------------------------

Blogger competition say it to HIT